Malaysia's Military, Police and Security Agencies
Welcome to the battlefield, soldier!

MyMil adalah bod perbincangan berkenaan ketenteraan, agensi2 penguatkuasaan yang ada di Malaysia dan juga di serata dunia. Daftar sekarang untuk menikmati paparan perbincangan berinformasi sambil bersantai. Ahli2 yg baru akan digugurkan daripada senarai sekiranya tidak aktif dalam masa yg terdekat. Berforumlah dengan berhemah.

Terima kasih.


Admin dan moderator MyMil

Important Notice: The views and opinions expressed on the forum or the related pages are of the owner alone, and are not endorsed by Mymil, nor is Mymil responsible for them. Due to the nature of the Internet forum is in real time, Mymil does not, and can not censor any submission, but asks that each user use discretion and respect for other users, and does not contribute any word that is unlawful, harmful, threatening, abusive, harassing, tortious, defamatory, vulgar, obscene, libelous, invasive of another's privacy, hateful, or racially, ethnically or otherwise objectionable. Mymil reserve the right to withhold and/or remove any link that might possibly hold an individual, entity or group ridicule, potential embarrassment or potential defamation. Mymil also reserves the right to accept, edit and/or remove any link that is deemed inappropriate in any way.
Log in

I forgot my password

Latest topics
» Sembang Medan Selera Pak Jebat V44
by atreyudevil Sun Feb 05, 2017 6:23 pm

» PAINTBALL - Come get some...
by pisang Tue Dec 13, 2016 8:53 am

» Baru balik
by pisang Mon Dec 12, 2016 12:47 pm

» Jaket camo
by atreyudevil Fri Jul 15, 2016 11:17 am

» Nusantara Total War: Portuguese Invasion
by Adib Mon Feb 22, 2016 2:57 pm

» Rekrut baru disini
by kapokbesi Thu Feb 11, 2016 11:32 am

» Keretapi Tanah Melayu Berhad
by zacky.uesoff Thu Feb 04, 2016 6:00 pm

» ALL ABOUT HAM RADIO (AMATEUR RADIO STATION)
by kapokbesi Mon Nov 16, 2015 7:42 am

» Gathering MyMil 2015
by yaminz Tue Aug 11, 2015 4:15 am

» Diari MYMIL
by edayu Mon Apr 27, 2015 7:08 am

» Hari Polis ke-208
by venez Mon Apr 06, 2015 12:14 pm

» BACKPACKING
by venez Tue Mar 31, 2015 12:11 pm

» Rekrut 2015
by atreyudevil Sun Mar 29, 2015 3:34 pm

» Sejarah Pangkalan-Pangkalan Udara TUDM
by venez Tue Mar 24, 2015 6:02 am

» MyMil useful website lists
by atreyudevil Sat Jan 24, 2015 6:17 pm

» WIP - Work In Progress
by yaminz Fri Dec 26, 2014 7:06 am

» Model Collections
by yaminz Fri Dec 26, 2014 6:58 am

» Rekrut October & November 2014
by atreyudevil Sat Dec 20, 2014 2:07 am

» Bola Cafe: MALAYSIA!
by HangPC2 Sun Dec 14, 2014 7:35 am

» Hot Chick in Uniform
by yaminz Wed Dec 10, 2014 11:52 am

Statistics
We have 510 registered users
The newest registered user is Adib

Our users have posted a total of 171925 messages in 1318 subjects
MyMil at Facebook
Like/Tweet/+1

Untold Story Of Indonesia

Page 3 of 5 Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

View previous topic View next topic Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 15, 2012 1:34 pm

3

Di dalam bulan Agustus 1957 rumah Kol. Dahlan Jambek di granat, tetapi tidak menimbulkan korban. Akibatnya Kol. Dahlan Jambak dan keluarganya hijrah ke Padang. Sejak itu Kol.Dahlan Jambek bersama dengan Yazid Abidin menggiatkan kampanye anti komunis di Sumatera Tengah.

Di Padang dibentuk Gerakan Bersama Anti Komunis (Gebak) yang dipimpin langsung oleh Kol Dahlan Jambek bersama Yazid Abidin. Gerakan anti komunis di Sumatera Tengah itu secara tidak disadari atau mungkin memang disengaja untuk menarik bantuan dari Amerika Serikat, karena sejak tahun 1953, tiga tahun sebelum Dewan Banteng, Amerika telah memperhatikan perkembangan Komunisme di Indonesia.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat waktu itu John Foster Dullas menginstruksikan Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Hugh S. Cumming: Di atas segalanya lakukanlah apa yang dapat anda gunakan untuk memastikan, bahwa Sumatera tidak jatuh ke tangan komunis.

Menurut Dullas, dipeliharanya suatu negara kesatuan dapat mempunyai bahaya-bahaya khusus dan saya mengacu kepada Tiongkok (kekalahan Chiang Kai Shek oleh Mao Tse Tung di daratan Cina) tidak berarti lagi pada saat Tiongkok jatuh ketangan komunis. Pada akhirnya kita mendapatkan suatu wilayah Tiongkok yang utuh, tetapi demi keuntungan kaum komunis.

Ditegaskan oleh Dullas, kalau antara suatu Indonesia yang wilayahnya utuh, tetapi condong dan maju menunjuk komunis dan perpecahan negara itu menjadi kesatuan-kesatuan geografis, maka saya lebih suka pada kemungkinan ke dua, sebab menyediakan suatu tempat bertumpu yang dapat dipergunakan Amerika Serikat untuk menghapus komunisme di suatu tempat atau tempat yang lainnya dan lalu pada akhirnya, kalau menghendaki begitu, tiba kembali pada suatu Indonesia yang bersatu.

Dalam pada itu, Wakil Presiden Amerika Serikat RichardNixon menganjurkan agar Amerika Serikat bekerja melalui kalangan militer Indonesia. Dewan Keamanan Nasional AS kemudian memutuskan membentuk suatu Panitia Ad Hoc antara Departemen tentang Indonesia untuk menyiapkan suatu laporan mengenai implikasi-implikasi dari peristiwa akhir-akhir ini terhadap keamanan AS rencana-rencana tindak yang mungkin diambil (dari buku 50 tahun Amerika Serikat—Indonesia, oleh Paul F. Gardner).

Dapat dilihat dari kutipan-kutipan di atas, bahwa betapa seriusnya Amerika Serikat terhadap komunisme di Indonesia, jauh sebelum pemilu tahun 1955. (***)

Kok Bakisa Duduak Jan Bakisa dari Lapiek Nan Salai

MENANGGAPI rapat rahasia di Sungai Dareh itu, Bung Hatta mengirim pesan yang kemudian disiarkan Pers di Jakarta: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiek dan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah”. Sekitar tanggal 16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”. Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya.PRRI terperangkap ke dalam strategi Amerika Serikat.

Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi. Pesan ini kemudian menjadi kenyataan.

Dapat dirasakan sekarang. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini, akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.

Kol Dahlan Jambek berkata lewat pidato-pidatonya, bahwa keadaan sekarang sudah berada pada titik, ”the point of no return”. Pada tanggal 9 Februari 1958 Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuatk terhadap Pemerintah Jakarta.

Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein.

Sebagian besar dari isi resolusi itu yang diapopsi ke dalam ultimatum Dewan Perjuangan yang diumumkan lewat radio tanggal 10 Pebruari 1958 yaitu :

* Agar Ahmad Husein mengirim tuntutan kepada Perdana Menteri Juanda dan Kabinetnya di Jakarta supaya mengembalikan mandatnya dan menunjuk Hatta dan Hamengkubowono IX sebagai formatur pembentukan Kabinet baru.

* Agar Pemerintah Pusat mencabut larangan terhadap barter.

* Agar Presiden Soekarno kembali ke UUD 1950 dalam membentuk kabinet. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Ahmad Husein harus mengambil langkah-langkah bijaksana dan kuat.

Esok harinya, tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Perjuangan mengeluarkan ultimatum yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat melalui RRI Padang yang isinya antara lain:

* Menuntut supaya dalam waktu 5 x 25 jam: a. Kabinet Juanda mengembalikan mandatnya kepada Presiden/pejabat Presiden ( waktu itu Presiden Sukarno sedang berada di luar negeri dan Pejabat Presiden waktu itu adalah Ketua DPR Sartono). b. Presiden/Pejabat Presiden mengambil kembali mandat Kabinet Juanda.

* Menuntut segera setelah tuntutan dalam angka 1 dilaksanakan supaya Hatta dan Hamengkubowono IX ditunjuk untuk membentuk satu Zaken Kabinet Nasional menurut ketentuan-ketentuan konstitusi yang terdiri dari tokoh-tokoh yang sudah terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang jujur, cakap dan disegani serta bersih dari anasir-anasir anti-Tuhan.

a. Untuk menyelamatkan negara dari desintegrasi dan kekacauan sekarang dan kembali bekerja menurut UUDS menunggu terbentuknya UUD oleh kontituente. b. Meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pembangunan Negara dan Bangsa lahir dan bathin dengan arti yang sesungguhnya.

Tuntutan ke lima: a. Bersedia kembali kepada kedudukannya yang konstitusionil serta menghapuskan segala akibat dari tindakan-tindakannnya yang melanggar UUD serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan. b. Memberikan kesempatan sepenuhnya serta bantuannya menurut konstitusi kepada Zaken Kabinet Nasional Hatta- Hamengkubowono IX ini, agar sungguh-sungguh dapat melakukan kewajibannya sampai pemilihan umum yang akan datang.

Tuntutan ke enam: Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 tidak dipenuhi,maka kami mengambil langkah-langkah kebijaksanaan sendiri. Tuntutan ke tujuh: a. Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 dilaksanakan oleh pejabat Presiden, tetapi ternyata bahwa tuntutan tersebut pada angka 5 tidak dipenuhi oleh Presiden, ataupun. b. Apabila tuntutan tersebut pada angka 1 dan 2 dilaksanakan pejabat Presiden, tetapi kemudian ternyata bahwa tuntutan tersebut pada angka 5 tidak dipenuhi oleh Presiden Soekarno.

Maka dengan ini kami menyatakan, bahwa sejak itu kami menganggap diri kami terbebas dari pada wajib taat kepada Dr. Ir. Soekarno sebagai Kepala Negara. Maka sebagai akibatnya dari tidak dipenuhinya semua tuntutan di atas, menjadi tanggung jawab dari mereka yang tidak memenuhinya, terutama Presiden Soekarno.

Esok harinya, tanggal 11 Februari 1958, Kabinet Juanda menolak Ultimatum Dewan Perjuangan itu dan memerintahkan KSAD untuk memecat dari dinas militer Letkol Ahmad Husein dan Kol. Simbolon serta Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) dibekukan dan hubungan darat, maupun udara dengan Sumatera Tengah dihentikan sama seperti yang sudah dilakukan di Sulawesi Utara. (***)

red army
Colonel
Colonel

Posts : 2572
Join date : 16/05/2011

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 15, 2012 1:39 pm

4



Peristiwa Cikini Membatalkan Rekonsiliasi

PADA tanggal 30 Nopember 1957 terjadilah suatu peristiwa di Jakarta dengan apa yang dikenal kemudian sebagai “Peristiwa Ciniki 2.Malam tanggal 30 Nopember itu, Presiden Sukarno menghadiri pesta ulang tahun sebuah sekolah di Cikini dimana putra dan putrinya bersekolah.

Waktu akan pulang malam itu sekelompok anak-anak muda yang bertempat tinggal di asrama dekat sekolah itu yang diketahui sebagai anggota Gerakan Anti Komunis Jakarta (GAK) melemparkan granat kearah mobil Sukarno.

Sukarno dan putra-putrinya selamat,akan tetapi dipihak lain terdapat korban jatuh meninggal dunia sekitar 9 orang dan sekitar 100 orang lainnya luka-luka berat.Korban yang terbanyak adalah murid-murid sekolah itu.

Menanggapi peristiwa Cikini itu,Perdana Menteri Juanda mengatakan kepada Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Allison, bahwa usaha pembunuhan tersebut (t erhadap Sukarno) yang dikenal dengan “Peristiwa Cikini”membatalkan pendekatan-pendekatan rekonsiliasi yang direncanakan sebelumnya terhadap Dewan Banteng. Dengan pernyataan Juanda itu,maka usul kompromi Ahmad Husein untuk menyelesaikan konflik Dewan Banteng dan Pemerintah Pusat jadi sirna.

Ahmad Husein mengusulkan agar dibentuk suatu dalam suatu wadah Dewan Nasional dan diisi oleh wakil dari daerah-daerah. Dewan Nasional itu kemudian dibentuk oleh Sukarno, akan tetapi isinya orang- orang dekatnya saja.

Sesudah peristiwa Cikini itu, Sukarno meninggalkan Indonesia untuk selama 6 minggu beristirahat ke luar negeri seperti ke Eropa dan Asia. Peristiwa Cikini dibesar-besarkan oleh surat kabar surat kabar PKI seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda.

Sejumlah tokoh-tokoh politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan Peristiwa Cikini itu.Mereka kemudian diteror dan diancam akan ditangkap dan ditahan dengan tuduhan korupsi. Rumah Mohd. Rum sampai-sampai dikepung, tetapi Mohd.Rum dan keluarganya selamat.

Akibatnya, para politisi dari partai Masyumi merasa tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka berangsur-angsur hijrah ke Padang,seperti Syafruddin Prawira Negara,Mohd.Natsir dan Burhanuddin Harahap. S

yafruddin Prawira negara waktu itu menjadi Direktur Bank Indonesia. Prof, Sumitro Joyohadikusumo bukan politisi dari partai Masyumi melainkan dari Partai Sosialis Indonesia (PSI), akan tetapi Sumitro kemudian hijrah pula ke Padang,akan tetapi dia lebih banyak bolak balik keluar negeri, seperti ke Singapura, Amerika Serikat dan negara-negara lain yang anti Komunis.

Akhirnya semua politisi baik dari tokoh militer, dari Masyumi dan PSI ( Sumitro) berkumpul di Padang. Gagasan untuk melawan Sukarno yang dituduh condong kepada PKI itu semakin kuat kerika para tokoh-tokoh militer dan politisi sipil itu mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh pada tanggal 9 Januari 1958.

Rapat rahasia di Sungai Dareh itu diadakan dalam dua putaran.Pada putaran pertama rapat rahasia itu hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh militer saja,kecuali Prof. Sumitro, ikut dalam rapat itu.

Rapat putaran ke dua, baru diadakan rapat gabungan antara tokoh-tokoh militer dengan politisi sipil. Tidak banyak yang diketahui orang dari rapat Sungai Dareh itu, kecuali terbetik berita, bawha Simbolon akan mendirikan negara Sumatera. Berkenaan dengan issu negara Sumatera itu,Perdana Menteri Juanda memberi penjelasan dihadapan sidang DPR pada tanggal 3 Pebruari 1958.

Perdana Menteri Juanda mensinyalir, bahwa dalam bulan Desember 1957 dan Januari 1958 terdengar lagi berita-berita tentang adanya usaha-usaha untuk memproklamirkan berdirinya Negara Sumatera. Ada pula berita-berita tentang pembentukan Pemerintah Pusat baru Republik Indonesia yang berkedudukan di Sumatera oleh karena Pemerintah di Jakarta tidak dianggap sah.

Menurut Juanda, untuk mencek kebenaran berita-berita itu pada tanggal 26 Januari 1958 Kepala Kepolisian Negara Sukamto mengunjungi Sumatera Barat. Setelah kunjungannya ke Sumatera Barat yang mengadakan pertemuan dengan pimpinan Kepolisian Sumatera Tengah tidak dapat diperoleh keterangan-keterangan yang lebih jelas mengenai persoalan Sumatera itu.

Pada tanggal 6 Pebruari 1958, Ahmad Husein membantah adanya gagasan mendirikan negara Sumatera itu melalui RRI Bukittinggi. Yang dapat diketahui kemudian dari rapat rahasia Sungai Dareh itu adalah penyempurnaan susunan pengurus Dewan Perjuangan.

Semula hanya terdiri dari empat orang yaitu :Letkol. Ahmad Husein, Panglima KDMST, sebagai Ketua, Kol. HVN Sumual, Panglima TT VII Wirabuana di Sulawesi, anggota, Kol.Maludin Simbolon tadinya Panglima TT.I Bukit Barisan di Medan, anggota, dan Letkol.Barlian, Panglima TT II Sriwijaya dipalembang.

Penyempurnaan susunan Dewan Perjuangan itu adalah sebagai berikut: Ketua,Letkol, Ahmad Husein, Panglima KDMST, Sekjen Kol. Dahlan Jambek, anggota-anggota: Kol. Mayor Anwar Umar, Mohd. Natsir, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Sumitro Hadikusumo,Mayor Nainggolan, Mayor Nawawi, AN Nusyirwan dan Amelz.

Walaupun issue pendirian negara Sumatera itu dibantah pada tanggal 6 Pebruari 1958 oleh Ketua Dewan Perjuangan Ahmad Husein namun Vence Sumual dan Simbolon ditugaskan mencari senjata ke luar negeri. Mereka berangkat menuju Singapura, Disamping itu Sumitro yang mempunyai jalur khusus dengan CIA (Central Intellegence Agancy) Amerika Serikat berangkat pula ke Singapura dan terus ke Amerika.

Simbolon pertama kalinya berhubungan dengan agen CIA adalah setelah dia bersama anak buahnya melarikan diri ke Sumatera Barat . Ia mengirim seorang kurir ke CIA di Jakarta dengan pesan,bahwa dia membutuhkan keuangan guna membiayai pasukannya dan ingin bertemu dengan seorang CIA.

Menurut Dean Almy, wakil CIA di Konsulat Amerika Serikat di Medan pesan Simbolon itu diteruskan kepadanya dengan perintah untuk pergi ke Bukittinggi bertemu dengan Simbolon, setelah memperoleh keterangan dari Simbolon tentang situasi waktu itu Dean Almy menyerahkan uang dalam bentuk uang dolar AS kepada Simbolon sebesar USD 50.000.

Ini terjadi di awal bulan Oktober 1957. Sekitar bulan Desember 1957 Dean Almy diperintahkan pergi ke Singapura untuk bertemu dengan Simbolon yang telah tiba disana dengan kapal laut menempuh rute penyeludupan di Kepulauan Riau.

Berdasarkan perintah dari Markas Besar CIA,”kami menjanjikan kepada Simbolon senjata-senjata dan minta supaya beberapa orang perwiranya dapat dilatih dalam bidang komunikasi agar kami dapat memelihara hubungan “kata Dean Almy. Menurut Dean Almy, “tidak lama sesudah itu senjata-senjata untuk 8.000 orang dikirim ke Sumatera Tengah”. (***)
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 15, 2012 1:52 pm

5






Akhir PRRI yang Tragis..

LIMA hari kemudian, maka Dewan Perjuangan menolak Keputusan Kabinet Juanda dengan membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 dengan Mr Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya, Maludin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri, Mr Burhanuddin Harahap sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman, Dr Sumitro Joyohadikusimo sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran, Mohd Syafei sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP & K) dan Menteri Kesehatan.

JF Warouw sebagai Menteri Perhubungan, S Sarumpait sebagai Menteri Pertanian dan Perburuan, Mohthar Lintang sebagai Menteri Agama, M Saleh Lahade sebagai Menteri Penerangan dan A Gani Usman sebagai Menteri Sosial. PRRI kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Pemerintahan Federal atau disebut juga sebagai Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang diproklamirkan di Bonjol pada tanggal 8 Pebruari 1960, Syafruddin Prawiranegara diangkat menjadi Presidennya.

Pembentukan RPI ini membuat perpecahan di kalangan tokoh politisi sipil dengan tokoh-tokoh militer yang non Islam. Sukarno kembali ke Jakarta dari kunjungan istirahatnya di luar negeri pada tanggal 16 Pebruari 1958, sehari sesudah Proklamasi PRRI.

Sukarno menegaskan, ”Kita harus menghadapi penyelengara pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang itu dengan tegas dan dengan segala kekuatan yang ada pada kita.” Pada dasarnya Sukarno menyokong rencana Juanda dan Nasution untuk menggunakan kekerasan senjata.

Kemudian Kabinet Juanda juga mengeluarkan perintah untuk menangkap Mr Syafruddin Prawiranegara, Mr Burhanuddin Harahap dan Dr Sumitro Joyohadikusomo. Situasi semakin panas, di Padang dan daerah lain di Sumatera Barat digiatkan latihan-latihan militer terutama sekali terhadap mahasiswa dan pelajar. Di mana-mana kelihatan orang berbaju hijau dan memanggul senjata.

Senjata-senjata bantuan Amerika Serikat pun berhamburan jatuh dari pesawat terbang pada beberapa tempat di Padang dan Bukittinggi pada malam hari. Tidak hanya dengan pesawat terbang Amerika mengirimkan senjata, tetapi juga dengan kapal-kapal selam. Menurut Dean Almy, Wakil CIA di Konsulat Amerika Serikat di Medan, ”kami juga mempunyai kapal-kapal selam di lepas pantai dekat Padang yang menurunkan senjata-senjata dan amunisi pada malam hari.

” Pemerintah Pusat melakukan pemboman-pemboman untuk melumpuhkan kekuatan PRRI terhadap jumlah sasaran di Bukittinggi, Padang dan Painan. Menjelang pendaratan di Pantai Padang, dilakukan pula penembakan-penembakan meriam dari kapal-kapal perang yang sudah berada di hadapan pantai Padang.

Pada tanggal 17 April 1958, sekitar dua bulan setelah Proklamasi PRRI , Pemerintah Pusat mulai mendaratkan pasukannya di pantai merah, 9 km di utara Kota Padang, tepatnya di pantai Parupuk Tabing di bawah Komando Kol Ahmad Yani dengan sandi ”Operasi 17 Agustus”.

Sandi operasi pusat ini kemudian menjadi nama Komando Daerah Militer (KODAM) untuk daerah Sumatera Barat dan Riau.Kodam III/17 Agustus itu berpusat di Padang. Pasukan Gaerak Cepat (PGT) Auri diterjunkan dari pesawat udara di lapangan Udara Tabing.

Kemudian mereka bergerak menuju pusat kota dan pada sore itu juga kota Padang jatuh ke tangan tentara pusat tanpa perlawanan. Tentara Pusat terus mendesak pasukan PRRI yang mengambil taktik terus menerus mundur dari kota-kota dan bertahan di daerah pegunungan dan perkampungan-perkampungan yang tidak akan dapat dijamah oleh tentara Pusat.

Pada umumnya pasukan PRRI kembali mejajaki daerah-daerah yang dahulu di Zaman Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) seperti Sangir dan Bidar Alam. Melihat pasukan PRRI yang makin terdesak itu oleh pasukan tentara pusat, maka Amerika Serikat kembali berpaling kepada pemerintah Jakarta, mendekati Jenderal Nasution.

Perang saudara terjadi di mana-mana. Masyarakat di kampung-kampung tertekan bathinnya, sehingga akhirnya terjadilah eksodus perantauan besar-besaran meninggalkan kampung halamannya. Sementara operasi tentara pusat berjalan menekan pasukan PRRI, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Nasution melancarkan pula ”Operasi Pemanggilan Kembali” para pemberontak pada akhir tahun 1960 agar perwira yang memberontak kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Nasution mengirim utusan-utusan untuk berunding dengan pemberontak di Sumatera, Sulawesi dan di Singapura.

Daerah yang pertama menyambut baik kebijaksaan Nasution itu adalah tokoh-tokoh militer di Sulawesi pimpinan Kawilarang dan kemudian secara resmi menghentikan perlawanan pada bulan April 1961. Syafruddin dan Natsir mengadakan pertemuan Kabinet RPI-nya pada awal tahun 1961 dan memutuskan untuk menunjuk Simbolon untuk berunding dengan Pemerintah Pusat.

Simbolon melihat terbukanya kesempatan baik apabila tokoh-tokoh militer berpisah dari politisi sipil dan berunding untuk dirinya sendiri dengan tentara Pemerintah Pusat. Maka, pada bulan April 1961 Simbolon dan Ahmad Husein memishakan diri dan melepaskan diri dari nama RPI dan kemudian mendirikan Pemerintah Darurat Militer di bawah pimpinan Ahmad Husein.

Tanggal 21 Juni 1961 Ahmad Husein beserta kawan-kawan militernya dan tokoh tokoh politisi sipil lainnya di Sumatera Tengah kembali kepangkuan ibu pertiwi di Solok dengan sekitar 600 orang anggota pasukannya.

Sebulan kemudian yaitu sekitar bulan Juli 1961 baru Syafruddin mengirim utusan kepada Jenderal Nasution untuk membicarakan syarat-syarat penyerahan kembali kepangkuan ibu Pertiwi itu dan sesudah diadakan pertukaran surat menyurat,maka Syafruddin mengeluarkan pengumuman melalui radio pada tanggal 17Agustus 1961 yang menyerukan kepada seluruh pasukan RPI supaya menghentikan perlawanan.

Pada hari yang sama dengan pengumuman Syafruddin itu yaitu pada tanggal 17 Agustus 1961 Presiden Sukarno mengumumkan pula ”Amnesti Umum” (Pengampunan umum) kepada seluruh pemberontak yang menyerah tanpa syarat sampai tanggal 5 Oktober 1961 serta bersumpah setiap kepada konstitusi, negara dan Panglima Besar Revolusi yaitu Sukarno.

Hari berikutnya Zulkifli Lubis menyerah dan seminggu kemudian Syafruddin, Assaat dan Burhanuddin Harahap bersama dengan pemimpin sipil lainnya melapor kepada penguasa militer pemerintah dekat Padang Sidempuan di Selatan Tapanuli yang dikuasai oleh Divisi Siliwangi dari Jawa Barat. Syafruddin juga menyerahkan asset PRRI yang masih ada sebanyak 29 kg emas batang kepada Nasution untuk diserahkan kepada Juanda. Itulah akhir yang tragis dari PRRI. (***)

END
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 2:52 pm

40 hari Venezuela - Indonesia Penerbangan CN-235

Membawa Pulang CN-235 Venezuela Ke Indonesia.


Artikel Majalah angkasa, judulnya "PENERBANGAN EDAN VENEZUELA-INDONESIA" , dari edisi bulan september 2002.

kisah ini amat membanggakan bagi Indonesia selaku pembuat CN-235, begini kisahnya



1

Meredupnya PTDI tak berarti hilang pula semua kisah darinya. mei 2002, dua teknisinya berhasil menuntaskan misi sulit keliling separuh bumi. dari Venezuela, selama 40 hari lebih, mereka membawa pulang "Jasad" CN-235 menembus berbagai rintangan.

Bagi mereka yang sehari-hari bekerja di Aircraft Service PT Dirgantara Indonesia, nama Joko Widadiyo mestinya sudah tak asing lagi. kefasihanya dengan jeroan CN-235, membuat lulusan teknik mesin ITB separuh baya ini lebih dikenal sebagai "dukun" pesawat ini. Tak Percaya? serahkan saja masalah terpelik dari pesawat andalan IPTN ini, dalam waktu singkat pasti akan diselesaikanya.

suatu ketika operator di filipina pusing lantaran CN-235-nya terbang dengan putaran mesin tak seimbang. Teknisi setempat menyerah, karena semua sudut sudah diperiksa. Akan tetapi, begitu Joko hadir segalanya bisa dibereskan dengan cepat. Usut punya usut, rupanya ada penumpukan debu vulkanik yang tak imbang di ujung bilah baling-balingnya. Debu itupun dibersihkan dan pesawat bisa kembali terbang sempurna.

Banyak yang mengatakan, feeling Joko memang "sudah menyatu" dengan pesawat ini. sehingga, apa saja yang dirasakan biasanya benar terjadi. namun demikian, toh kasus itu hanyalah gambaran kecil dari kemampuanya. segalanya seolah mudah, tetapi rupanya tidak untuk penerbangan yang satu ini. Yakni, Penerbangan membawa kembali CN-235 bekas sewa Air Venezuela. penerbangan melintas benua dan samudera ini sangat memeras pikiranya.

Sejak lepas landas April hingga mendarat di tanah air, 18 Mei 2002, begitu banyak masalah yang harus dihadapinya. Mulai dari masalaah teknis pesawat, pajak impor yang belum dibayar, kecurigaan aparat atas ekspor obat bius (drug), sapmai ke perkara asuransi. Di tengah perjalanan, Joko dan seorang rekanya, Gendro Sulaksono, malah sempat dipenjara gara-gara tak memiliki Visa

Berikut ini kisah penerbangan ferry 40 hari melintasi separo Bumi yang dramatis itu.

avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:01 pm

2

Atur Strategi


Sejak Krisis hebat memukul pada tahun 1997, segala kegiatan di PTDI memang selalu dibuat sesederhana mungkin. Tak terkecuali dalam misi penjemputan CN-235 yang pernah disewa Air Venezuela. Perusahaan ini(PTDI) hanya mengutus dua teknisi, yakni Joko dan Gendro.

PTDI tak mengutus penerbang, karena secara teknis pesawat ini memang lebih baik ”diserahkan” kepada Carlos Koesling(56), dan Santiago(56). Pilihan ini dianggap tepat mengingat selain kebangsaanya (venezuela) bisa memudahkan pesawat itu keluar dari wilayah hukum Venezuela, keduanya juga sudah kenal betul karakter pesawat mesin ganda ini. Carlos selaku kapten pilot, adalah pensiunan penerbang Air Venezuela yang sudah fasih betul dengan pesawat ini.

Selain memiliki kualifikasi CN-235, Carlos juga punya lisensi DC-10. Sementara Kopilot Santiago, selain CN-235, juga punya lisensi terbang DC-10 dan DC-9. kedua penerbang tua ini persisnya akan membawa pesawat terlebih dulu ke Brazil, lalu menyebrrangi Samudra Atlantik, mampir di Spanyol, melintas Asia Selatan, dan selanjutnya lurus ke Indonesia.

Bagi kebanyakan Penerbang, atlantik adalah yang terberat. Tak banyak penerbang yang berani mengarunginya, karena salah hitung sedikit bisa kehabisan bahan bakar diudara.

”untuk urusan ini, saya akui Carlos dan Santiago memang jago” puji Joko. Keahlianya adalah berkat keseringanya mengantar wisatawan ke sejumlah resor di samudera yang ganas tersebut. Sedemikian seringnya, sampai-sampai hanya dengan menghitung arah dan kecepatan, mereka bisa tahu sedang terbang di atas check point mana saja.

Penerbang-penerbang yang tak kenal jalur Edan ini biasanya mengambil jalur melengkung ke utara Amerika lebih dulu, menyebrang ke Eslandia, ke Eropa, lalu ke Asia. Biaya operasinya memang jauh lebih mahal, namun jauh lebih aman.

Misi pun disusun dengan perencanaan yang matang. Jusman, dirut PTDI(waktu itu) yang memimpin langsung misi, membaginya dalam tiga sub-misi. Pertama, evaluasi kondisi pesawat dan masalah surat-suratnya. Kedua, perbaikan pesawat dan pengurusan perizinan terbangnya. Sedang ketiga, barulah, proses membawa pesawat tersebut pulang keTanah Air.

Sepintas terkesan mudah, tetapi siapa yang bias menjamin bahwa seluruh misi bias benar-benar berlangsung mudah dan sesuai rencana? Pasalnya, semua orang tahu, pesawat sedang dalam kondisi fisik yang sulit ditebak, ia sudah tidak laik terbang sejak November 2001. Di lain pihak, bukanlah rahasia lagi bahwa hampir semua pesawat yang “masuk” ke Venezuela pasti akan sulit untuk “keluar” lagi. Beberapa Negara telah mengalaminya.

Hitung punya hitung, pimpinan operasi akhirnya dipercayakan kepada Joko Widadiyo. Prestasi, Pengalaman, Keuletan, dan pemahamanya yang mendalam pada karakter pesawat, adalah dasar penunjukannya. Posturnya memang kecil dan kurus, namun siapa sangka jika misi membawa kembali DCH-5 Buffalo dari sebuah negara Afrika pada tahun 90-an berhasil memuaskan di tanganya. Kala itu, pesawat milik IPTN yang tengah dipakai PBB itu sama-sama tengah dililit permasalahan berat.

Singkat cerita, Joko segera atur strategi. Sebagai lnkah awal, ia putuskan pergi dulu untuk melihat kondisi pesawat dan perkara administrasinya. Begitu mendarat di bandara Maiquetia, Caracas, Bulan Desember 2001, bukan main kaget dirinya melihat pesawat yang akan dijemputnya. CN-235 yang ikut mendanai zaman keemasan IPTN itu teronggok mengenaskan.

”mesinya sudah diturunkan satu karena rusak. Konektor Flight control-nya banyak yang kena karat, catnya kusam, sementara hampir semua kursinya rusak. Pihak Air Venezuela benar-benar sudah meninggalkan-nya,: kisah Joko ”untung saja belum ada krack (keretakan metal)dan semua itu bisa diperbaiki,” sambungnya optimis.

Itu sebabnya, begitu kembali ke tanah ait, joko pun mempersiapkan segalanya. Mulai tim teknisi dari Universal Maintenance Center (UMC) yang akan ditugasi memperbaiki mesin, suku cadang, sampai broker atau agen lokal yang akan ditunjuk untuk mengurusi surat-surat pesawat.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:12 pm

3

Tunggakan 20.000 dollar


Adapun itu, ada sejumlah pertimbangan mengapa pesawat tersebut sampai harus segera diambil. Pertama, secara hukum, pesawat ini masih milik PTDI. Kedua, Air Venezuela sebagai penyewa sudah bangkrut hingga tak jelas lagi siapa yang bertanggung jawab.

Ketiga, jika dibiarkan terlalu lama nongkrong hanya akan mendatangkan masalah pelik. Sedang yang keempat, dan inilah ayng terpenting. Calon penyewa yang baru telah menunggunya.

Singkat cerita, pada Febuari 2002, Joko kembali ke Caracas dengan sejumlah “pasukan” dan suku-cadang. Dalam beberapa hari, mesin akhirnya bias “dinaikan” kembali. Bagian-bagian yang terkena karat, dibuka, dibersihkan, lali di cat ulang. Semuanya tampak lancar-lancar saja, termasuk dalam rusan surat-menyurat. Agen yang ditunjuk PTDI pun tampak tak mengalami kesulitan dalam mengurus izin ekspor, surat kelaikan terbang, dan sebagainya.

Lepas dari sub-misi kedua, Joko pun sampai ke operasi puncak, membawa pulang CN-235 ke Tanah Air. Ia kembali untuk ketiga kalinya pada akhir Maret 2002 dengan segala persiapan untuk perjalanan separuh Bumi yang akan dilaluinya. Semua dilakukan secara cermat.

Termasuk di dalamnya mengganti Brush untuk Starter-generator dan hydraulic punp. Ia pun mengontrol langsung penyelesaian surat-surat kelaikan terbangnya. Total, makan waktu 10 hari. Menurutnya, yang makan waktu paling lama adalah soal surat-surat tersebut.

Itu sebabnya, ketika pada senin, 8 april 2002, sekitar pukul 15.00, pesawat baru saja mendarat dari uji terbang, tak mau buang waktu lagi, keempat awak segera memasukan barang-barang yang telah disiapkan pagi harinya.

Hari itu juga, sekitar pukul tujuh malam, mereka langsung terbang ke Maturin, kota kecil di sebelah timur Caracas ini masih di wilayah Venezuela. Namun paling tidak, Joko-Gendro sudah bias meninggalkan Ibukota Venezuela.

Akan tetapi, Dewi fortuna rupanya belum meu memihak. Tatkala Carlos, Joko, dan Gendro sedang berkemas esok paginya, tanpa sengaja Santiago melakukan kesalahan dalam men-Start mesin. Mesin tak mau Hidup, sementara baterai (aki) pesawat yang sedari awal memang sudah agak lemah, langsung anjlok.

Para awak pun panik lantaran tak mudah mencari ground-power di kota sekecil Maturin. ground-power adalah semacam pembangkit listrik untuk menghidupkan mesin pesawat. Namun, kesalahan tersebut ada hikmahnya juga mengingat setelah dilakukan pemeriksaan ada sebuah kerusakan yang akan berakibat fatal jika penerbangan tetap dipaksakan. Kerusakan ini terjadi pada saluran kompresor AC dan mesin. Kerusakan inilah yang sesungguhnya membuat mesin itu bungkam.

“kepala baut klem-nya patah. Akibatnya terjadi kebocoran udara yang semestinya dipakai untuk pembakaran mesin. Entah apa yang akan terjadi jika saluran udara bertekanan itu bocor di atas Amazon?” tutur Joko. Kerusakan sendiri mudah ditangani, yakni dengan mengganti baut. Sementara untuk mengatasi masalah aki, mereka kemudian mengakalinya dengan men-charge baterai itu di salah satu toko onderdil.

Sebelum sore menjelang masalah sebenarnya sudah tertangani, namun Carlos keberatan jika pesawat harus terbang malam itu juga ke Fortaleza, Brazil. Ia lebih suka berangkat esok paginya, kaena menurutnya amat riskan menyebrangi belantara Amazon pada malam hari.

Apa mau dikata, rupanya masalah belum mau lepas dari rombongan yang sudah tak sabar ingin menutaskan perjalanan jauh ini. Begitu pesawat sudah siap dipacu, pada Rabu pagi, 10 April, Tower Maturin tiba-tiba melarang mereka pergi. Perasaan buruk pun segera menghantui seluruh awak. “kalau hanya soal teknis, tak soal buat saya. Lain halnya kalau urusan administrative. Ini yang membuat kami deg-degan,” aku Joko.

Benar saja. Kali itu pihat Venezuela mulai ”menjerat” CN-235 bernomor registrasi YV-1097 tersebut dengan pasal anti-drug(anti obat bius).” :celakanya kamu memang belum dibekali surat-surat anti-grug, salah satu persyaratan yang harus dimiliki setiap pesawat yang akan keluar dari Venezuela. Kami pun terpaksa menginap lagi. Surat-surat itu pun segera kami laporkan ke agen kami di Caracas untuk ditindaklanjuti,” tuturnya.

Sebenarnya surat tersebut bisa diselesaikan hari itu juga, namun ganjalan lain rupanya sudah disiapkan. Keesokan harinya – lagi-lagi petugas bandara melarang kami untuk meninggalkan Marutin. Kali itu yang dijadikan alasan adalah laporan dari Caracas bahwa pesawat masih menunggak pajak hingga 20.000 dollar AS.

Tunggakan importation tax ini dikatakan sudah menumpuk sejak pesawat masuk ke negerinya pada tahun 1998. meski PTDI tak bertanggung-jawab atas hutang Air Venezuela, toh mereka tetap ditahan untuk menyelesaikanya.

”seminggu masalah ini tak terselesaikan, saya pun kembali ke Caracas. Yang mengesalkan, permasalahan ini baru selesai sebulan kemudian. Bayangkan!” keluhnya. Berusaha menahan kesal , Joko pun kembali ke Marutin pada hari Senin, 6 Mei.

Begitu pun cobaan belum juga usai. Esok paginya, begitu mesin dinyalakan, Carlos kembali mendapati baterai pesawat soak. Sebulan tak disentuh rupanya telah membuat aki kehilanggan stroom. celakanya, charger yang sebelumnya pernah dipakai, kali itu sudah tak jelas lagi rimbanya, para awak CN-235 kembali dipaksa putar otak.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:18 pm

4

Merancang baterai


Tak ada akar, rotan pun jadi. Joko pun berusaha mengakalinya dengan merancang baterai alternatif. Agak berlebihan memang, namun apa salahnya dicoba. Baterai darurat ini adalah gabungan baterai-baterai yang kapasitasnya lebih kecil. Ia terdiri dari dua aki mobil 12 Volt 1200 Ampere dan sebuah aki traktor 6 Volt 1100 Ampere. Ketiganya disusun serial hingga terciptalah aki 30 Volt berkapasitas 1100 Ampere.

Ikut berjasa juga dalam mendukung “eksperimen” ini adalah sejumlah petugas lapangan terbang Maturin. Dukungan ini rupanya timbul karena mereka bersimpati dengan kesulitan yang tengah dialami keempat awak CN-235. dengan ringan tangan, mereka misalnya mau mengantar joko ke sejumlah pasar untuk mencari ketiga aki tersebut..

Sepintas, tenaga listrik yang muncul memang setara dengan aki pesawat yang 28 Volt 3000 Ampere. Namun, sejauh mana “penolakan” yang akan terjadi, tak seorang pun yang tahu. Untuk itu, kuncinya memang satu: di coba!

Dengan perasaan simpang siur, aki darurat itu pun dicoba. Kecuali Carlos dan Santiago, semua awak dan petugas lapangan terbang Maturin melihat dari luar dengan perasaan was-was. Bukan main, aki eksperimental ini rupanya cespleng juga. Satu mesin menyala, namun hal ini bukan masalah mengingat putaran mesinnya serta-merta akan “mengirim” arus listrik ke aki pesawat yang asli. Baterai inilah yang kemudian akan digunakan untuk menghidupkan mesin satunya lagi.

”bagi saya, suasana pada saat itu amat mengharukan. Terlebih ketika para petugas Maturin yang sudah kandung bersimpati dengan kami ikut larut dalam kegembiraan. Mereka bertepuk-tangan.” kisah Joko tentang spontanitas yang jarang terjadi di bandara-bandara besar itu.

Akan tetapi, kebahagiaan pada hari kamis, 9 Mei itu, rupanya masih juga harus diuji dengan cobaan lain. Diluar dugaan, meski secara teknis wajar-wajar saja, sejumlah kabel berikut konektornya tiba-tiba meleleh. Kemungkinan besar hal ini terjadi akibat kabel-kabel itu tak kuat menanggung arus listrik yang terlampau besar.

Untungnya, insiden kecil ini tak sampai mempengaruhi kinerja pesawat secara keseluruhan. Itu sebabnya, begitu selesai melakukan perbaikan seperlunya, sekitar jam 12 siang rombongan segera minta izin tower untuk meninggalkan Maturin.

Lamat-lamat terlihat para petugas Maturin melambai-lambaikan tangan. Ungkapan rasa simpatik yang teramat sederhana itu adalah dorongan semangat yang luar biasa bagi para awak. Mereka pun langsung menanjak ke ketinggian 17.000 kaki dan terbang dengan kecepatan rata-rata 170 knot.

Keluar dari Maturin, barulan CN-235 masuk ke dalam penerbangan yang sesungguhnya. Menjelajah non-stop sekitar sembilan jam menuju Fortaleza, Brazil. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan belantara Amazon. Banar seperti yang dikuatirkan Carlos.

Apa yang akan terjadi jika pada malam hari pesawat mengalami gangguan diatasnya? Di sejumlah tempat memang ada lapangan terbang kecil yang bisa digunakan sebagai tempat pendaratan darurat, namun di atas jam lima sore semuanya akan tutup. Selebihnya, dimalam hari, Amazon hanyalah hutan yang gelap mengerikan. Bukanlah rahasia, jika telah banyak tragedi mengerikan terjadi di sini dan tak pernah bisa diungkap ujungnya.

”saya sendiri, jujur, tak punya perasaan takut terbang diatasnya. Bagi saya yang menakutkan adalah justru bayangan masalah surat-surat dan administrasi di tempat perhentian berikutnya,” kenang Joko sambil tersenyum.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:24 pm

5



Dipenjara Dua malam


Betapa pun peliknya masalah yang harus dihadapi, mereka toh harus bersyukut karena pesawat yang sebelumnya teronggok mengenaskan selama beberapa bulan di Caracas tersebut ternyata masih menunjukan keperkasaanya. Pesawat rancangan bareng CASA-IPTN kapasitas 40 kursi itu sanggup menuntaskan rute Maturin-Fortaleza dalam 9 jam 12 menit.

Menurut spesifikasi, pesawat ini mampu terbang nonstop selama 11 jam. Itu sebabnya menjelang mendarat, lampu yang mengindikasikan bahan bakar minim, menyala. Di Fortaleza, rombongan pun menginap semalam.

Meski segalanya berlangsung lancar, malam itu ada peristiwa khusus yang diingat betul oleh Joko. Sebagai komitmen pribadi atas kesalahanya selagi di Maturin, Santiago memutuskan untuk ndompleng tidur di kamar Carlos. Hal ini masih akan dilakukanya hingga beberapa kota perhentian di depan.

Semua ini ternyata dilakukanya demi ”menebus” biaya ekstra yang telah dikeluarkan unuk membeli aki, penginapan, dan pengurusan surat-surat yang membuat perjalanan tertunda lebih dari sebulan.

”saya kagum dengan prakarsa Carlos-Santiago itu, intinya, mereka mau mengerti keterbatasan uang yang kami pegang,” puji Joko. ”hanya, mulai dari Cairo, Santiago kembali menuntut tidur pada kamar terpisah.”

Seperti juga penerbangan Maturin-Fortaleza, rute Fortaleza-Cape Verde berhasil dilalui tanpa masalah berarti. Cape Cerde adalah pulau kecil yang posisinya sudah tak begitu jauh dari daratan Afrika sebelah barat. Lokasi wisata ini ditempuh dalam waktu 8 jam 20 menit. Ini berarti sebuah prestasi lain bagi CN-235. pesawat ini berhasil melintas Samudera Atlantik nonstop pada rentang yang paling panjang.

Sesekali Joko dan Gendro menggantikan posisi salah satu penerbang, agar seorang dari mereka bias bergantian beristirahat. Ia tak pernah sedikitpun menyansikan ketangguhan pesawat, karena memang tak ada sama sekali Indikator yang menyatakan ketidakberesan.

Tourqe mesin baik. ITT (interstate turbin temperature) bagus. Arus konsumsi bahan baker normal, yakni 390-380 pon/jam. Propeller, tekanan oli, dan suhu mesin, juga tak menunjukan adanya indikasi malfungsi pada system kompresi, Indikator tersebut selalu dicek di sepanjang penerbangan.

Masalah baru menghadang begitu mereka mendarat di Canary, Sabtu, 11 Mei. Masih seperti yang dikuatirkan Joko, kali itu masih soal surat. Kalau sebelumnya soal Izin pesawat, kali ini adalah urusan Visa. Kilah Joko-Gendro bahwa Visa bukanlah suatu keharusan dalam penerbangan Ferry, ditolak mentah-mentah pihak keimigrasian salah satu negeri jajahan Spanyol itu.

Alhasil, Joko-Gendro pun harus rela menghabiskan malam indah di lokasi wisata Canary dalam ”hotel Prodeo” alias penjara milik pihak keimigrasian. Apa boleh buat, uniknya, hukuman ini tak berlaku bagi Carlos-Santiago yang sama-sama tak memiliki Visa.

Agen perjalanan lokal yang telah dikontak PTDI, sama sekali tak kuasa menolongnya. Hukuman serupa juga ditimpakan kepada teknisi PTDI ini pada perhentian berikutnya, yakni di palma de mallorca.

”agen kami di Mallorca sesungguhnya sudah berhasil meyakinkan mareka tentang perlu tidaknya Visa bagi penerbangan Ferry. hanya pihak keimigrasian disana rupanya tak mau ambil pusing. Bagi mereka, kalau di Canary di penjara, ya di Mallorca juga harus dipenjara, hukuman yang berlaku di kedua jajahan Spanyol ini rupanya tak boleh berbeda,” komenar Joko

Namun demikian, bagi kedua teknisi Indonesia, penjara bukanlah masalah, sejauh tak menyangkut urusan pesawat, mereka masih bisa mentolelirnya. Lepas dari Mallorca, penerbangan praktis tanpa aral sama sekali. Badai Es yang mereka jumpai di atas wilayah Arab juga bukanlah masalah serius.

Carlos bahkan pernah mengajak Joko-Gendro membawa pesawat masuk ke dalam badai, rombongan persisnya singgah di Cairo(Mesir), Abu Dhabi(Uni Emirat Arab), Maldives(kepulauan Maldives di sebelah selatan India), dan Medan(Indonesia).

Tak seperti di Canary dan Mallorca, pihak keimigrasian di Cairo, Abu Dhabi-Maldives praktis sangat bersahabat. Ketiga kota tersebut, termasuk Medan, cukup disinggahi dalam semalam. Joko dan Gendro merasa lega begitu mencapai perbatasan Indonesia. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi keduanya selain dari pada bahwa perjalanan tak lama lagi akan selesai.

CN-235 yang kulitnya sudah coreng-moreng itu akhitnya mendarat selamat di bandara Hussein Sastranegara, Sabtu siang, 18 Mei 2002. sekali lagi, PTDI pasca krismon memang agak alergi dengan acara yang hangar-bingar. Kedatangan para pendekarnya, yang telah menuntaskan perjalanan selama 40 hari itu, cukup disambut sejumlah karyawan PTDI. Di antaranya, ada Direktur ACS, Heru Santoso, dan Hari Subandi, Manager Aircraft Leasing & Asset Management PTDI.

Kepada Angkasa, Secara khusus Hari Subandi mengaku, peristiwa tersebut adalah anugerah besar bagi perusahaanya. Keberhasilanya menuntaskan perjalanan separuh keliling Bumi kian menambah keyakinan bahwa CN-235 adalah pesawat yang tangguh. Setelah “disegarkan kembali”, pesawat ini selanjutnya akan diserahkan ke sebuah operator penerbangan di Asia untuk dijadikan “mesin penghasil uang”. Dari lima unit yang diminta, PTDI baru bisa memenuhi tiga. Pesawat ini akan dibeli dengan system Lease-purchase.

THE END

avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:49 pm

Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat






1

Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an.

Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun.

Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak.

Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.



Last edited by red army on Sat Apr 21, 2012 3:59 pm; edited 1 time in total
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 3:57 pm

2

Catatan Sejarah Di Monumen Mandala





Kongres Rakyat Pembentukan Provinsi Irian Barat di Maluku (1955)

Sesuai hasil Kongres Rakyat seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus 1955 yang dihadiri 500 orang wakil-wakil dari berbagai daerah yang telah menghasilkan suatu resolusi mengenai Irian Barat. Resolusi tersebut antara lain berbunyi: Perjuangan untuk pembebasan Irian Barat merupakan sebagain dari perjuangan nasional rakyat Indonesia dan pembentukan Provinsi Irian Barat harus dipercepat.

Sebagai tindak lanjut dari resolusi tersebut dalam tahun itu juga di Soasiu, Maluku dibentuk Kongres Rakyat Pembentukan Provinsi Irian Barat. Presiden Soekarno secara resmi mengesahkan pembentukan Provinsi Irian Barat dan menunjuk Sultan Zainal Abidin Sjah sebagai gubernurnya. Di hadapan peserta kongres, Menteri Dalam Negeri melantik secara resmi Sultan Zainal Abidin Sjah sebagai Gubernur Irian Barat.




Pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat (17 Januari 1958)

GUna merealisasikan pidato kenegaraan Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1958 yang berjudul Tahun Tantangan, maka ditempuhlah jalan lain di luar diplomasi dalam penyelesaian masalah Irian Barat. Sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Perang Pusat No. Kpts (Peperpu) 012/1958 maka pada tanggal 17 Januari 1958 dibentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) yang diketuai oleh KSAD Mayor Jenderal A.H. Nasution di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) Jakarta.

Sebagai Sekretaris Jenderal FNPIB adalah Letnan Kolonel Pamoe Rahardjo, sedangkan anggota-anggotanya terdiri dari Badan Kerja Sama (BKS) Pemuda Militer, BKS Tani Militer, BKS Buruh Militer, BKS Wanita Militer, BKS Ulama Militer, BKS Khusus dan Badan Pekerja Legium Veteran.







Tri Komando Rakyat (19 Desember 1961)


Sehubungan dengan sikap Belanda yang tidak bersedia menyelesaikan konflik Irian Barat melalui forum PBB, Pemerintah RI tidak bersedia lagi melakukan perundingan. Sejak saat itu Pemerintah RI menitikberatkan perjuangan pembebasan Irian Barat dalam bidang militer. Sebagai tindak lanjut pada tanggal 19 Desember 1961 di Alun-Alun Yogyakarta Presiden Soekarno mengkomandokan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) yang berbunyi sebagai berikut:

1. Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda;
2. Kibarkan Sang Merah Putih di irian Barat tanah Air Indonesia;
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.



Mobilisasi Umum, 4-8 Januari 1962 di Makassar


Tindak lanjut dari TRIKORA, maka di seluruh Indonesia mulai dari tigkat Pusat dan Daerah dilakukan mobilisasi umum dalam rangka pembebasan Irian Barat. Seluruh kekuatan cadangan Nasional dikerahkan. Sebelum dilakukan mobilisasi umum didahului dengan kampanye melalui rapat-rapat raksasa mulai dari tingkat Pusat hingga Daerah. Pada tanggal 4 s.d. 8 Januari 1962 di Lapangan Karebosi Makassar diadakan rapat raksasa dalam rangka pembebasan Irian Barat.

Dalam rapat itu hadir Presiden Soekarno, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution dan Panglima Daerah Militer XIV/Hasanuddin. Pada kesempatan itu Presiden Soekarno mengatakan "Rebut Irian Barat sebelum Ayam Berkokok".




Pelantikan Panglima Mandala di Istana Bogor oleh Presiden Soekarno, 13 Januari 1962



Setelah Trikora dikomandokan di Yogyakarta, pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Nomor 1/1962 yang isinya membentuk Komando Mandala untuk membebaskan Irian Barat bersifat gabungan. Kemudian Presiden Soekarno menunjuk Brigadir Jenderal (Brigjen) Soeharto dan menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal (Mayjen), sebagai Deputy Wilayah Indonesia Timur dan Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Mayor Jenderal Soeharto dilantik oleh Presiden Soekarno pada tanggal 13 Januari 1962 di Istana Bogor.

Pertempuran Laut Aru, 15 januari 1962


Tiga buah kapal Motor Terpedo Boat (MTB) ALRI, yaitu KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau, pada tanggal 15 Januari 1962 melakukan gerakan malam di sekitar Kepulauan Aru. Gerakan ini bertujuan untuk melakukan infiltrasi pasukan ke daerah Irian Barat lewat laut. Gerakan kapal ALRI tersebut telah diketahui oleh dua buah pesawat terbang Belanda jenis Neptune dan Firefly serta dua kapal perang Belanda jenis Destroyer dan Fregat yang berada pada posisi jarak 7 mil.

Kedua pesawat dan kapal perang tersebut menembakkan peluru suar ke arah kapal KRI yang segera dibalas kembali oleh KRI Macan Tutul dan KRI Harimau. Tembakan itu dibalas kembali oleh kedua kapal perang Belanda dan berkobarlah pertempuran yang tidak seimbang. KRI Macan Tutul terkena tembakan peluru meriam di bagian anjungan dan lambung yang mengakibatkan kapal tersebut terbakar dan tenggalam pada pukul 21.40 waktu setempat bersama Komodor aut Yos Sudarso.




Panglima Mandala sedang memberikan penjelasan Tugas-tugas Operasi Mandala (1962)



Setelah wewenang diberikan kepada Mayor Jenderal Soeharto sebagai panglima Komando Mandala, ia segera menyusun Organisasi Komando Mandala dengan ciri-cirinya meliputi wilayah Indonesia Timur, menyelenggarakan operasi-operasi militer pada waktunya dalam rangka Trikora Pembebasan Irian Barat.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya Mayor Jenderal Soeharto senantiasa memberikan penjelasan kepada para Perwira Stafnya mengenai Operasi Pembebasan Irian Barat.

Panglima Mandala Melakukan Peninjauan Kekuatan Tempur di garis Depan (1962)


Berdasarkan suatu konsep, bahwa daerah mandala adalah kawasan perang, maka Panglima Kawasan merangkap sebagai Panglima Komponen. Komponen-komponen utama dari mandala adalah:
1. Angkatan Darat Mandala (ADLA);
2. Angkatan Laut Mandala (ALLA);
3. ANgkatan Udara Mandala (AULA).

Sehubungan dengan itu, Panglima Mandala Mayjen Soeharto bersama Panglima Angkatan Laut Mandala Komodor Laut R. Soedomo mengadakan peninjauan terhadap kekuatan tempur pasukan Cadangan Umum Angkatan Darat (CADUAD) di salah satu tempat di garis depan.






Infiltrasi Pasukan Lewat Udara ke Merauke, 24 Juni 1962

Pada tanggal 24 Juni 1962 dilakukan penerjunan lewat udara sasaran Merauke dengan Sandhi Operasi Naga di bawah pimpinan Kapten L.B. Moerdani. Penerjunan ini menggunakan 3 pesawat Hercules C-130 AURI. Pasukan yang diterjunkan terdiri dari Tim I Detasemen Pasukan Chusus (DPU) RPKAD berjumlah 55 orang dan Kie-2 Yon 530/Brawijaya berjumlah 160 orang.

Penerjunan tidak mengenai sasaran yang diinginkan karena dilakukan pukul 02.00 dinihari, hutannya lebat dan ditumbuhi pepohonan yang tinggi. Setelah pesawat berputar-putar mulailah dilakukan penerjunan. Tim I RPKAD bersama Komandan Operasi jatuh di sebelah timur Kombe dan 9 orang lagi jatuh di sebelah barat sungai itu. Sedangkan Kie-2 Yon 530/Brawijaya jatuh di sebelah timur Sungai Maro.



Penyerahan Irian Barat dari Belanda ke UNTEA, 15 Agustus 1962


Hasil dari persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962, selambat-lambatnya tanggal 31 Mei 1963 Pemerintahan Irian Barat diserahkan kepada PBB yang diwakili oleh UNTEA. Perjanjian ini ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri RI dan Menteri Luar Negeri Belanda Dr. J. Luns yang diwakili oleh Duta Besar belanda di PBB Dr. Van Rojen.

Tanggal 31 Desember 1962 bendera kerajaan Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera PBB dan Bendera Sang Merah Putih. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Belanda di daratan Irian Barat.




Penyerahan Irian Barat dari UNTEA ke Republik Indonesia, 1 Mei 1963

Pada tanggal 1 Mei 1963 dilaksanakan penyerahan kekuasaan pemerintahan Irian Barat dari UNTEA kepada Pemerintah Republik Indonesia oleh Dr. Djalal Abduh kepada pihak Indonesia yang diwakili oleh Mr. Sudjarwo Tjondronegoro dan utusan PBB di Hollandia.

Penyerahan kekuasaan itu ditandai dengan penurunan bendera UNTEA dan pengibaran Sang Saka Merah Putih, yang dilanjutkan dengan defile pasukan dari Pakistan, APRI, Polisi Papua di Irian Barat dan diikuti oleh demonstrasi pesawat terbang AURI dari berbagai jenis antara lain Tu-16 KS.



Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat, Juli 1969

Pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York diadakan penandatanganan persetujuan penyelesaian konflik Irian Barat antara RI dengan Belanda. Dalam persetujuan itu antara lain disebutkan bahwa Indonesia menyetujui untuk memberikan kesempatan rakyat Irian Barat menyatakan pilihannya secara bebas, selambat-lambatnya tujuh tahun setelah pemerintahan berada di tangan Indonesia. Pelaksanaan kegiatan ini dibantu oleh PBB. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) dilaksanakan bulan Juli 1969.



avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 4:51 pm

3

[PIC] Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat



TRIKORA AURI - TNI AU
































MIG 19


MIG 21


MI-4 Heli angkut personel


Sebuah truk masuk ke dalam helikopter MI-6


Bomber TU-16 Badger AURI


Ilyushin IL-28 Beagle AURI


Missile SA-2 AURI


P-51 Mustang AURI


Pesawat Firefly Koninklijke Marine di Sorong


Bomber B-25


B-25 TNI-AU (AURI) Low Pass


Bomber B-26 AURI


TU-16


Gannet



Mig-17 AURI


SA-2 AURI


TU-16 dan Crew AURI


F-86 Sabre AURI


Antonov An-12B


C-130 Hercules


F-86 Sabre AURI


TRIKORA ALRI - TNI AL























KRI Irian


Kapal selam kelas Whiskey


Armada RI di Bitung Sulawesi Utara


BTR 50 KKO- MARINIR


Gannet-ALRI


KKO- MARINIR
























TRIKORA ANGKATAN DARAT - TNI AD
































RPKAD - KOPASSUS


avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 5:20 pm

KETIKA INDONESIA KKO- MARINIR MELEDAKAN SINGAPURA



USMAN DAN HARUN ANGGOTA KORPS MARINIR.YANG MELAKUKAN KONFRONTASI KE SINGAPURA

1



Masa Kecil Usman alias Janatin

Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba Kabupaten Purbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya pada hari Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin lahir dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian dikenal dengan nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional.


Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar dan kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan pertumbuhannya dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai Janatin. Orangnya pendiam lagi tidak sombong, memang demikian pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa bergaul dengan teman semua lapisan yang sebaya dengannya. Tidak merasa rendah diri walaupun anak desa, dan tidak sombong dengan orang yang lebih lemah dari dia, sehingga ia mempunyai teman banyak.

Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama sebagai landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai dasarnya beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain agar kelak putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa serta tahu membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah mengherankan bila putra-putri Haji Muhammad Ali sedikit banyak mengetahui soal keagamaan dan semua dapat membaca Al Qur'an dengan baik.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan masyarakat Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah negeri.
Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari orang tuanya untuk memasuki sekolah tersebut.

Karena tujuan masuk sekolah bukan untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan yang akan dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama sudah diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.

Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh orang tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk meringankan beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu bekerja di sawah dalam mengolah sawahnya, kemudian turut membantu memetik hasil kebun serta memikulnya ke rumah.

Setiap hari ia membawa sabit dan menjunjung keranjang untuk mencari makanan binatang piaraan. Pekerjaan demikian sudah menjadi kewajiban yang dijalankan setiap hari, sehingga menjadikan dirinya seorang yang tabah dan ulet.

Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi sampai ke kota.

Memasuki Kehidupan Militer


Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap Belanda. Guna menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat, maka pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Pangti ABRI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962 membentuk Komando Mandala yang bertanggung jawab atas segala kegiatan Operasi ABRI serta Sukarelawan.

Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah memanggil segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda untuk menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasi Belanda. Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki dinas militer, seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air.

Sehingga dalam waktu yang singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi Sukarelawan, dan salah seorang yang terpanggil adalah Janatin.

Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga ialam kwartal terakhir. Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI, maka setelah menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi ABRI. Sebelumnya ia memang mengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini terlihat dari perhatian janatin kepada kakaknya yang berdinas di Militer.

Bila kakaknya pulang, selalu mendapat perhatian dari Janatin, baik dari pakaian seragam, sikap, dan geraknya. Begitu pula setiap melihat anggota ABRI baik tetangga se desa ataupun kenalan selalu menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang mengilhami dirinya sehingga ingin menjadi seorang militer.

Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki dinas militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah menjadi ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain.

Namun karena kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha mendapatkan restu dari ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari orangtuanya untuk memasuki dinas militer.

Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang yang dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama (Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk siswa angkatan ke – X .

Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan latihan pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan kekhususan bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut.

Pendidikan Calon Tamtama dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo.

Di sinilah letaknya pembentukan disiplin yang kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang pantang menyerah serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca, merupakan Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak memakai baret ungu.

Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer, Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek, yang lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh, taat dan tunduk kepada perintah atasannya.

Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi Prayitno dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan dan wakilnya.

Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan materi yang diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen, sabotase,Demolisi, gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nanti. ► e-ti


Last edited by red army on Sat Apr 21, 2012 5:59 pm; edited 1 time in total
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 5:32 pm

2

Masa Kecil Harun alias Tohir




Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah dari kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer persegi. Di pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di pulau inilah pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan terkenal di masa itu, yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat ini terkenal dengan nama Keramat Bawean.

Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4 April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said. Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran di sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut. Perahu-perahu yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan, merupakan daya tarik tersendiri bagi Tohir.

Dengan jalan mencuri-curi ia sering menyelinap ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah lautan. Bahkan ia sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah, karena mengikuti perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut beberapa hari lamanya.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.

Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan hafal daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari lamanya tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal mondar-mandir antara Singapura – Tanjung Pinang.

Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan. Pada masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan seorang gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.

Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya yang sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk kemudian hari membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda janjinya gadis tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.

Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin akan melangsungkan perkawinan dengan seorang pemuda pilihan orang tua sang gadis, Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis sedang ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan penghulu, tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara perkawinan. Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar Upacara perkawinan itu dibatalkan.

Karena penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah kakaknya yang dekat tempat Upacara perkawinan bekas pacar Tohir di Jalan Jember Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan Tohir. Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkawinan ini. Ternyata setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut secara diam-diam dengan Tohir melakukan tunangan.


Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang lebih tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk mengurungkan niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan uang yang sudah diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai saat ini gadis tersebut masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok.

Memasuki Dunia Militer


Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai kariernya sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan bersama sama.

Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama lima bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964. Kemudian pada tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu. Hingga beberapa lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kesatuan A KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau Sambu.

Tohir sendiri telah ke Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai pelayan dapur, ia ke sana menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.

Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by mumuchi on Sat Apr 21, 2012 6:14 pm

Ada enggak cerita konflik di sumatera sekitar 50'an yang salah satu sebab keluarga sebelah ibu saya berhijrah ke sini?

--------------------my siggy below--------------------






Leaders look at the present, Great Leaders look at the past, present and the future!

Spoiler:




avatar
mumuchi
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Malaysia
Mymil
Posts : 19546
Reputation : 525
Join date : 05/06/2010
Location : Dulu Tempat Lumba Kuda

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 6:24 pm

3

Pertemuan Dalam Operasi Dwikora



Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta.

Komando tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat, termasuk ABRI. Hal ini terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan.

Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang. Jika Sukarelawan itu tertangkap oleh lawan, resikonya disiksa secara kejam.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia di daerah musuh.

Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV).

Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:

1. Sub Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran Singapura.
2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai.
3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Sedangkan Tugas Basis II:

1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
5. Mengumpulkan informasi.
6. Melakukan kontra inteljen.

Dalam operasi ini Janatin/Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti, ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO - AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau.

Ketika Usman menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan dengan Harun dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab dalam pergaulan. Dalam tim ini Usman dan Harun mendapat tugas yang sama untuk mengadakan sabotase di Singapura.

Meskipun Usman bertindak sebagai Komandan Tim dan usianya sedikit lebih tua dari Harun, demikian pula ia lebih banyak berpengalaman dalam bidang militer, tetapi ia mengakui masih kurang pengalaman dalam wilayah Singapura. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya di Singapura, ia lebih banyak memberikan informasi kepada Usman.

Harun telah hafal betul tentang keadaan dan tempat-tempat di Singapura, karena Harun pernah tinggal di sana. Tetapi sebagai seorang militer, mereka masing-masing telah mengetahui apa tugas-tugas mereka sebagai Komandan dan bawahan.

Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Dari penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali.

Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji Muhammad Ali. Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian tempat-tempat yang dianggap penting.

Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di daerah perbatasan.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:00 pm

4

Memasuki Wilayah Singapura







Tanggal 8 Maret 1965 pada waktu tengah malam buta, saat air laut tenang ketiga Sukarelawan iini mendayung perahu, Sukarelawan itu dapat melakukan tugasnya berkat latihan-latihan dan ketabahan mereka.

Dengan cara hati-hati dan orientasi yang terarah mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran, dan tugas mengamati sasaran-sasaran ini dilakukan sampa larut malam.

Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing. Atas kelihaiannya mereka dapa berhasil kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu sebaga Basis II dimana Usman dan Harus bertugas.

Pada malam harinya Usman memesan anak buahnya aga berkumpul kembali untuk merencanakan tugas-tugas yang haru dilaksanakan, disesuaikan dengan hasil penyelidikan mereka masing-masing.

Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh karena belum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan, ketiga Sukarelawan di bawah Pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi ke daerah sasaran untuk melakukan penelitian yang mendalam. Sehingga apa yang dibebankan oleh atasannya akan membawa hasil yang gemilang.

Di tengah malam buta, di saat kota Singapura mulai sepi dengan kebulatan dan kesepakatan, mereka memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald, Diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat sekitarnya. Hotel tersebut terletak di Orchad Road sebuah pusat keramaian d kota Singapura. Pada malam harinya Usman dan kedua anggotanya kembali menyusuri Orchad Road.

Di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga putra Indonesia bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena pada saat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan tugas. Setelah berangsur angsur sepi, mulailah mereka dengan gesit mengadakan gerakan gerakan menyusup untuk memasang bahan peledak seberat 12,5 kg.

Dalam keheningan malam kira-kira pukul 03.07 malam tersentaklah penduduk kota Singapura oleh ledakan yang dahsyat seperti gunung meletus. Ternyata ledakan tersebut berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald yang terbuat dari beton cor tulang hancur berantakan dan pecahannya menyebar ke penjuru sekitarnya.

Penghuni hotel yang mewah itu kalang kabut, saling berdesakan ingin keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Demikian pula penghuni toko sekitarnya berusaha lari dari dalam tokonya.

Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehingga mengalami luka berat dan ringan. Dalam peristiwa ini, 20 buah toko di sekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur, 30 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Di antara orang-orang yang berdesakan dari dalam gedung ingin keluar dari hotel tersebut tampak seorang pemuda ganteng yang tak lain adalah Usman.

Suasana yang penuh kepanikan bagi penghuni Hotel Mac Donald dan sekitarnya, namun Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelan kegelapan malam untuk menghindar dari kecurigaan. Mereka kembali memencar menuju tempat perlindungan masing-masing.

Pada hari itu juga tanggal 10 Maret 1965 mereka berkumpul kembali. Bersepakat bagaimana caranya untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadi sulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelaku yang meledakkan Hotel Mac Donald. Melihat situasi demikian sulitnya, lagi pula penjagaan sangat ketat, tak ada celah selubang jarum pun untuk bisa ditembus.

Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura. Untuk mencari jalan keluar, Usman dan anggotanya sepakat untuk menerobos penjagaan dengan menempuh jalan masing masing, Usman bersama Harun, sedangkan Gani bergerak sendiri.

Setelah berhasil melaksanakan tugas, pada tanggal 11 Maret 1965 Usman dan anggotanya bertemu kembali dengan diawali salam kemenangan, karena apa yang mereka lakukan berhasil. Dengan kata sepakat telah disetujui secara bulat untuk kembali ke pangkalan dan sekaligus melaporkan hasil yang telah dicapai kepada atasannya.

Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepada anggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. Mulai saat inilah Usman dan Harus berpisah dengan Gani sampai akhir hidupnya

avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:05 pm

5

Gagal Kembali ke Pangkalan

Usaha ketiga Sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing. Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harun berjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengan daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah inf. Karena itu Usman meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke pangkalan.

Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, mereka berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain tidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepas dari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarat tertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur. Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.

Tetapi pada malam itu, waktu Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada Polisi. Alasan mengusir kedua pemuda itu karena takut diketahui oleh Pemerintah Singapura, kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua Sukarelawan Indonesia keluar dari persembunyiannya.

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyi supaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-cari kapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorang Cina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan dua kemungkinan tertangkap atau dapat lolos daribahaya.

Akhirnya dengan tidak pikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatan mereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke Pulau Sambu. Tetapi apadaya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Sebelum mereka sampai ke perbatasan peraian Singapura, motorboatnya macet di tengah laut.

Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh, sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkap di bawa ke Singapura sebagai tawanan.

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi, karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tangan Tuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harun tenang saja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.

Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabar menunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telah ditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:07 pm

6

Tabah Sampai Akhir

Proses pengadilan: Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura dengan tuduhan:


1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah melanggar Control Area.
2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu.

Hal ini mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layak dari sidang majelis. Hakim telah menola permintaan tertuduh, karena sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidangan berjalan kurang lebih dua minggu, pada tanggi 20 Oktober 1965 Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman da Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun.

Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London. Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura. Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal. Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke Badan Tertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalah untuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan ini diajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan.

Kedutaan RI di Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua sukarelawan Indonesia tersebut. Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal 9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terus berusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suharto mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk menyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia Tengku Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan permintaan Pemerintah Indonesia.

Namun Pemerintah Singapura tetap pada pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip tertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Ok tober 1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum dengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak oleh Pemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun.

Pesan terakhir.

Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimana Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat pukul 06.00 pagi Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriot Indonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepada pencipta - Nnya.

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikian juga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut perlindungan dan pem belaan warga negaranya. Satu malam sebelum pelaksanaan hukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi.

Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, dapat berhadapan dengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul 16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalam penjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjara dan meninggalkan tanah air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dan kegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khas seorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisah yang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudah menunggu.

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolo mengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuan selesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:11 pm

7

Menjalani Hukuman Mati



Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman dan Harun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia. Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama. Mereka berdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh.

Di alam yang sepi itu menambah hati mereka semakin dekat dengan penciptaNya. Karena itu empat tahun dapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengan nyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemuda ini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka. Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepi dan suram itu.

Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usman dan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telah ditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikan ketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.

Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin Suasana mencekam, tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejak sore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi.

Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman dan Harun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akan menghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkan khawatirpun tidak. Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa mereka akan menghadapi tali gantungan.

Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis pada tanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerima hukuman dengan gagah berani. Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian, hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepada keluarganya:

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas anakanda telah diputus kan pada 17 Oktober 1968, hari Kamis 24 Rajab 1388.

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:

Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaum keluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapura rayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.


Menghadapi Tiang Gantungan

Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harun setiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajar masalah keagamaan dengan matang.

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Dalam keadaan ,lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawah petugas menuju ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungan kalungkan ke leher Usman dan harun.

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa kedua prajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segi kemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian mereka menengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

Mereka telah terjerat di ujung tali gantungan di negeri orang, Jauh dari sanak keluarga, negara dan bangsanya.Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air tercinta.

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa dari jasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepada para wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwa hukuman telah dilaksanakan.

Dengan sekejap itu pula tersiar berita ke seluruh penjuru dunia menghiasi lembaran mass media sebagai pengumuman terhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman dan Harun.

Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi PemerintaH Indonesia mengirim Dr. Ghafur dengan empat pegawai KedutaaN Besar RI ke penjara Changi untuk menerima kedua jenazah iti dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RI untuk dise mayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemerintah Singapura.

Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulama untuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah di masukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan pada peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara. Pukul 10.30 kedua jenazah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:31 pm

8







Penghormatan Terakhir dan Anugerah

Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masyarakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa ke Tanah Air.

Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan Paraku.

Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telah melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden Suharto menyata kan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.

Pada pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta. Pada hari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telah tiba di Tanah Air.

Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia menjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjang jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin melihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air.

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan seterusnya disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yang mengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yang menghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yang tak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah mereka anggap sebagai sahabat baik. Pada barisan paling depan terdiri dari barisan Korps Musik KKO—AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga, kemudian disusul dengan barisan karangan bunga.

Kedua peti jenazah tertutup dengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti ini didasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudian diserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam.

Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa Usaha RI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usman dan Harun dari Singapura. Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik Brigjen Tjokropranolo maupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatan terakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil, Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyang dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum'at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar Minggu dan akhirnya sampai Kalibata.

Sepanjang jalan yang dilalui antara Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para Menteri Kabinet Pembangunan.

Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda dan pelajar serta masyarakat. Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.

Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dar Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


Surat Terakhir


Surat terakhir dari Osman bin Haji Mohammad Ali dari Singapura kepada orang tuanya saat-saat sebelum pelaksanaan pidana mati.

Salinan

In replying to this letter, please write on the envelope Number Cond, 215/65
Name : Osman bin H. Mhd. Ali. Changi Prison, 16 Oktober 1968.

Dihaturkan

Bunda ni Haji Mochamad Ali
Tawangsari.

Dengan ini anaknda kabarkan bahwa hingga sepeninggal surat ini tetap mendo'akan Bunda, Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Rodiijah + Tur dan keluarga semua para sepuh Lamongan dan Purbalingga Laren Bumiayu.

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan dengan nasib dinda dalam rayuan memohon ampun kepada Pemerintah Republik Singapura tidak dapat dikabulkan maka perlu ananda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda dan keluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas ananda telah diputuskan pada 17 Oktober 1968 Hari Kamis Radjab 1388.

Sebab itu sangat besar harapan anaknda dalam menghaturkan sudjud di hadapan bunda, Mas Choenem, Mas Madun, Mas Chalim, Jur Rochajah, Ju Khodijah t Turijah para sepuh lainnya dari Purbolingga Laren Bumiayu Tawangsari dan Jatisaba sudi kiranya mengickhlaskan mohon ampun dan maaf atas semua kesalahan yang anaknda sengajaa maupun yang tidak anaknda sengaja.

Anaknda di sana tetap memohonkan keampunan dosa kesalahan Bunda saudara semua di sana dan mengihtiarkan sepenuh-penuhnya pengampunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Anaknda harap dengan tersiarnya kabar yang menyedihkan ini tidak akan menyebabkan akibat yang tidak menyenangkan bahkan sebaliknya ikhlas dan bersukurlah sebanyak-banyaknya rasa karunia Tuhan yang telah menentukan nasib anaknda sedemikian mustinya.

Sekali lagi anaknda mohon ampun dan maaf atas kesalahan dan dosa anaknda kepangkuan Bunda Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Pualidi , Rodijah, Turiah dan keluarga Tawangsari Lamongan Jatisaba Purbolingga Laren Bumiayu.

Anaknda,
Ttd.
(Osman bin Hadji Ali)

Surat terakhir dari Harun bin Said dari Singapura kepada orang tuanya saat-saat sebelum pelaksanaan pidana mati.

Salinan

In replying to this letter, please write on the envelope Number Con. 216/65
Name: Harun Said Tohir Mahadar Changi Prison, 14 Oktober 1968.

Dihaturkan'
Yang Mulia Ibundaku
Aswiani Binti Bang.
yang diingati siang dan malam.

Dengan segala hormat.

Ibundaku yang dikasihani surat ini berupa surat terakhir dari ananda Tohir. Ibunda sewaktu ananda menulis suat ini hanya tinggal beberapa waktu saja ananda dapat melihat dunia yang fana ini, pada tanggal 14 Oktober 196 rayuan ampun perkara ananda kepada Presiden Singapura telah ditolak jadi mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968.

Hukuman yang akan diterima oleh ananda adalah hukuman digantung sampai mati, di sini ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah tidak siapa yang boleh menentukan satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tetap akan kembali kepada Illahi.

Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ananda selama ini sudilah Ibundaku menerima ampun dan salam sembah sujud dari ananda yang terakhir ini, tolong sampaikan salam kasih mesra ananda kepada seisi kaum keluarga ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan Selamat Tinggal untuk selama-lamanya, amin.

Hormat ananda,
Ttd.
Harun Said Tohir Mahadar

Jangan dibalas lagi.

Alamat di sampul surat. Diaturkan kepangkuan
Ibunda Aswiani Binti Bang. Gang 60 no. 11 Tanjung Priok Jakarta — Indonesia.
Dari/Ananda Harun Said Tohir Mahad Cond, 216/65 Changi Prison S'pura 17

















MARINES NEVER DIE!!!!!!Jaleshu Bhumi Campha Jayamahe
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sat Apr 21, 2012 7:48 pm

mumuchi wrote:Ada enggak cerita konflik di sumatera sekitar 50'an yang salah satu sebab keluarga sebelah ibu saya berhijrah ke sini?

Banyak Konflik Yang Terjadi Di sumatera tahun 1950.

1.Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia(PRRI) dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an di sumatera.
2. KEPEMILIKAN TANAH DI SUMATERA BARAT TAHUN 1950-AN (Kasus Konflik Kepemilikan Tanah Perkebunan Karet
3.Pemberontakan kedaerahan pada akhir 1950-an yaitu organisasi-organisasi komunis di sumatera.

dan masih banyak lagi.
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by mumuchi on Sun Apr 22, 2012 3:39 am

Terimaksih Pak. Banyaknya.

--------------------my siggy below--------------------






Leaders look at the present, Great Leaders look at the past, present and the future!

Spoiler:




avatar
mumuchi
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Malaysia
Mymil
Posts : 19546
Reputation : 525
Join date : 05/06/2010
Location : Dulu Tempat Lumba Kuda

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 22, 2012 9:56 am

PERANAN INTELIJEN, KOPASKA DAN KKO -MARINIR DALAM OPERASI SEROJA.

KKO MARINIR - Operasi AMPHIBI
KOPASKA - Pengumpulan Data INTELIJEN



1

timor portugis (timor-timur) sudah diincar jakarta dari tahun 1963. Bung karno saat itu tidak suka dengan masih adanya kolonialisme di wilayah yang dekat dengan indonesia. Soebandrio saat itu memerintahkan BPI (badan Pusat Intelijen) untuk merancang operasi intelijen di timor portugis. Kopaska dipilih karena sebagai ajang uji coba karena baru dibentuk tahun 1962 dan baru sekali mengalami operasi waktu trikora.

Pada tahun 1964, Mabes AL mengirim satu tim Kopaska dipimpin seorang serda untuk melaksanakan operasi Klandestein di Timor-timur.Tugas mereka mengumpulkan data intelijen dan menggalang penduduk setempat untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Portugis.

selama lima bulan, Kopaska mendapat perintah untuk menyusup ke daerah Timor Timur, melalui Atambua. Tugas utamanya, menggalang penduduk setempat,untuk melakukan pemberontakan melawan Portugis.

Kopaska yang dikirim ke timor itu menyamar sebagai pedagang kuda dan bertugas menggalang perlawanan penduduk terhadap kolonial portugis.
bahkan 40 orang timor yang melakukan perlawanan berkunjung ke jakarta untuk mendapatkan pelatihan.

Tapi karena situasi politik yang panas di indonesia menjelang G30S/PKI maka operasi tersebut dihentikan. Dan pemerintahan orde baru tidak tertarik dengan timor portugis. Jakarta tertarik kembali setelah di portugal terjadi kudeta dan situasi politik yang panas di daerah2 koloni portugal yang dipandang bisa mengancam kestabilan wilayah Indonesia.

7 Desember 1975 jam 05.00 WITA, gugus tempur laut TNI Angkatan Laut terlihat diperairan lepas pantai kota Dili, Timor Timur (East Timor).

Gugus tempur laut ini dinamakan Gugus Tugas Ampibi Operasi Seroja yang terdiri atas KRI Martadinata(342) yang bertugas sebagai pemberi bantuan tembakan pada operasi pendaratan Batalion Tim Pendarat (BTP 5)/Infanteri Marinir, KRI Ratulangi (400) sebagai kapal komando, KRI Barakuda (817), sebagai kapal buru kapal selam, KRI Teluk Bone (511) sebagai kapal pengangkut BTP5/Infanteri Marinir dan tank ampibi (PT76 & BTR-50) yang akan didaratkan, KRI Jayawijaya (921) sebagai kapal bengkel yang berfungsi sebagai kapal pendukung, dan terkahir KRI Sorong (911) sebagai kapal tanker.


Gugus tempur ini dan juga Gugus Rajawali Flight ( terdiri dari 9 pesawat Herculus TNI AU) adalah ujung tombak Operasi Seroja yang dilakukan lewat penyerbuan pantai dan operasi lintas udara.


KRI Martadinata




RI Martadinata(342) yang bertugas sebagai pemberi bantuan tembakan pada operasi pendaratan Batalion Tim Pendarat (BTP 5)/Infanteri Marinir, KRI Ratulangi (400) sebagai kapal komando, KRI Barakuda (817), sebagai kapal buru kapal selam, KRI Teluk Bone (511).

sebagai kapal pengangkut BTP5/Infanteri Marinir dan tank ampibi (PT76 & BTR-50) yang akan didaratkan, KRI Jayawijaya (921) sebagai kapal bengkel yang berfungsi sebagai kapal pendukung, dan terkahir KRI Sorong (911) sebagai kapal tanker.



Gugus tempur ini terlihat di lepas pantai kota Dili dalam rangka penyerbuan Kota Dili yang diawali dengan tembakan-tembakan ke arah pantai untuk memberikan tembakan perlindungan dan juga tembakan bantuan dari meriam 76 mm milik KRI Martadinata.

Pada saat yang sama Batalion Tim Pendarat Marinir 5 mulai melakukan aksi pendaratannya dan berhasil sampai mendarat dan mengendap-endap di Kampung Alor dan mulai melakukan pergerakan menuju Kota Dili untuk menguasainya.

Pendaratan ini bukan tidak diliputi ketegangan, sebab gerakan gugus tugas ini sejak awal dibayang-bayangi oleh 2 kapal perang Portugal. Dan celakanya , 7 Desember pagi, kedua kapal tersebut justru merapat di lepas pantai Dili. “Mereka buang jangkar lebih dekat ke pulau Atauro, karena di sana bercokol pemerintahan pelarian Portugal dari Timor,” kata Hendro Subroto, wartawan TVRI yang meliput saat itu.

Kedua kapal perang tersebut adalah 1 fregat dari kelas Commandante Joao Belo dan 1 kapal survei bernama Alfonso D. Alburqueque. Kapal-kapal itu sudah berada di perairan Timor Timur sejak bulan Oktober 1975. Seperti disengaja dan sudah mengetahui, mereka mendekati perairan Dili bersamaan dengan akan dilakukannya operasi ampibi.

KRI Martadinata dan KRI Ratulangi saling membayangi dengan fregat Portugal, namun yang utama mengawasi adalah KRI ratulangi yang dilengkapi meriam utama 100 mm. Sedangkan KRI Martadinata tetap fokus pada memberikan bantuan tembakan pada pendaratan marinir dibibir pantai.

Ketika diawasi oleh kedua KRI kita, kedua kapal Portugal tersebut tidak melakukan manuver yang mengganggu ataupun membahayakan operasi pendaratan, mereka hanya mengawasi saja.

Jarak antara kapal perang RI dengan kapal perang Portugal hanya 4 mil laut atau 7 kilometer saja. Dan bila baku tembak pecah antara kedua kubu tersebut, maka jarak ini sangatlah dekat dan masuk jarak tembak meriam kedua belah pihak.

PENDARATAN PERTAMA PASUKAN TNI - MARINIR DI TIMOR LOROSAE











Setelah Berhasil Mendarat Di Pantai, pertempuran terus berlanjut hingga ke pedalaman. MARINIR merangsek maju dan membersihkan daerah daerah yang dicurigai

















Akhirnya Timor Timur dapat dikuasai oleh Pasukan Pendarat KKO-MARINIR

MARINES NEVER DIE!!!!!!Jaleshu Bhumi Campha Jayamahe




avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 22, 2012 10:30 am

2 PERANAN ANGKATAN DARAT - TNI AD DAN ANGKATAN UDARA - TNI AU

serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.

Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap memasuki wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975. Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976.

Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI.

Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.






Tropas indo*ésias invadindo Timo-Leste















































































Timor Leste menjadi bagian dari Indonesia tahun 1976 sebagai provinsi ke-27 setelah gubernur jendral Timor Portugis terakhir Mario Lemos Pires melarikan diri dari Dili setelah tidak mampu menguasai keadaan pada saat terjadi perang saudara.

Portugal juga gagal dalam proses dekolonisasi di Timor Portugis dan selalu mengklaim Timor Portugis sebagai wilayahnya walaupun meninggalkannya dan tidak pernah diurus dengan baik.

Amerika Serikat dan Australia "merestui" tindakan Indonesia karena takut Timor Leste menjadi kantong komunisme terutama karena kekuatan utama di perang saudara Timor Leste adalah Fretilin yang beraliran Marxis-Komunis. AS dan Australia khawatir akan efek domino meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara setelah AS lari terbirit-birit dari Vietnam dengan jatuhnya Saigon atau Ho Chi Minh City.

Namun PBB tidak menyetujui tindakan Indonesia. Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.

Antara waktu referendum sampai kedatangan pasukan perdamaian PBB pada akhir September 1999, kaum anti-kemerdekaan yang konon didukung Indonesia mengadakan pembantaian balasan besar-besaran, di mana sekitar 1.400 jiwa tewas dan 300.000 dipaksa mengungsi ke Timor barat. Sebagian besar infrastruktur seperti rumah, sistem irigasi, air, sekolah dan listrik hancur.

Pada 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) tiba dan mengakhiri hal ini. Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Leste dengan sokongan luar biasa dari PBB. Ekonomi berubah total setelah PBB mengurangi misinya secara drastis.


Last edited by red army on Sun Apr 22, 2012 10:44 am; edited 1 time in total
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 22, 2012 10:41 am

Tambahan Perang Seroja

3 Markas Hankam, 23 Agustus 1975.

Pada pagi hari tanggal 23 Agustus 1975 di Markas Hankam di jalan Saharjo di Tebet (Jakarta), sedang diadakan rapat rutin membahas perkembangan terakhir Vietnam dan kamboja, yang baru beberapa bulan sebelumnya jatuh ke tangan kekuatan komunis.

Tiba-tiba Assintel Hankam Mayjen LB Moerdani masuk ruangan dan memanggil Paban Renintel Kol (Art) Soebijakto untuk datang di kamar kerjanya. Setelah bertemu empat mata, Assintel menyampaikan perintah pendek Menhankam :

"Berangkat secepatnya ke Surabaya. telah disediakan satu destroyer dengan satu kompi marinir untuk berangkat ke Dili. Selamatkan dan ungsikan konsul Indonesia beserta seluruh staf dan keluarganya. Keadaan sangat gawat, pertempuran telah mencapai ibu kota Timor Timur (Timtim).

Tugas supaya dilaksanakan secara bijaksana dengan mempertimbangkan masalah-masalah diplomatik. Ingat, Australia akan mengikuti secara seksama. Kolenel ditunjuk sebagai ketua misi penting ini. Selamat jalan !"

Pukul 15:00 WIB ketua misi sampai di Surabaya, dijemput Assintel Armada Letkol (P) Moh. Arifin di Bandara Juanda. Ketua misi langsung menuju ke pangkalan AL. Di sana telah menunggu Panglima Armada Laksamana Rudi Purwana. Panglima menerangkan, kapal baru saja selesai mengisi bahan bakar dengan menggunakan mobil-mobil tangki sipil, karena Armada kekurangan mobil seperti itu. Pasukan marinir juga belum lengkap, karena para anggota yang bediam di luar kota sedang dijemput.

Pada pukul 17:00 WIB, kompi marinir telah siap dan berbaris dengan rapi di kade. Setelah laporan kepada Panglima Armada, dengan teratur mereka menaiki tangga KRI Monginsidi. Pada pukul 18:00 WIB kapal mulai bergerak berlayar perlahan menuju Laut Jawa. Malam pertama diisi taklimat mengenai tugas yang diemban kepada para perwira dan komandan kompi marinir.

Pada pagi hari dari jendela kapal terlihat daratan tandus di sebelah kanan kapal. Menurut komandan kapal, itu adalah daratan Madura. Padahal seharusnya kapal sudah sampai di sebelah utara Sumbawa, setelah berlayar semalaman. Komandan kapal Mayor (P) Harianto melaporkan semalam terjadi kebakaran cerobong, karena bahan bakarnya tidak murni.

Ternyata minyak diesel sebagai bahan bakar mesin kapal telah tercampur bensin dan minyak tanah, disebabkan truk angkut bahan bakar sipil yang disewa. Mungkin saja sebagian masih terisi bensin atau minyak lainnya, yang menurut perwira mesin menyebabkan naiknya suhu.

Mesin kapal terpaksa dihentikan menunggu dingin kembali. Di depan kota Maumere (Flores) kapal berhenti sebentar untuk mengambil 5 awak kapal yang disusulkan dengan menggunakan pesawat terbang. Pada tanggal 26 Agustus -pagi- kapal sudah berlabuh di Atapupu, suatu pelabuhan di kota Atambua di Timor Barat.

Pada pukul 20:00 WIB, KRI Monginsidi meninggalkan Atapupu dan berlayar perlahan menuju ke arah timur. Kira-kira pukul 23:30 WIB, kapal sudah mendekati kota Dili yang semua lampunya terlihat padam. Tembakan-tembakan mortir sudah mulai terdengar beserta kobaran-kobaran api di daerah pegunungan yang tadinya terlihat samar-samar sudah mulai tampak terang.

Pada saat gawat itulah misi Indonesia datang dengan kapal destroyer Monginsidi dan muncul di depan kota dengan lampu-lampu menyala.

Tugas pertama yang semula adalah mengungsikan konsul Indonesia bersama staf dan keluarganya, bertambah ketika datang perintah melalui radio sandi. Isinya adalah mengungsikan orang-orang asing yang ada di Timtim.

Perintah ke-dua ini ditutup dengan peringatan bahwa Australia juga akan mengirim sebuah kapal perang ke daerah itu. Karenanya, komandan misi supaya berhati-hati.



Operasi prihatin di timor – timor


Misi ini kemudian menjadi Kontingen, karena kekuatan semula -ketua misi yang didampingi Assintel Armada, beserta pengawal 1 kompi marinir di bawah komando Kapten (Mar) Solang- kini diperkuat dengan bantuan 6 kapal dagang dari beberapa perusahaan pelayaran Indonesia yang dapat dikerahkan, yang saat itu kebetulan berada tidak jauh dari Nusa Tenggara Timur. Operasi diberi nama sandi "Prihatin" oleh pimpinan Dephankam. Nama sandi ini diterima komandan kontingen saat KRI Monginsidi sudah berada di perairan Sumbawa.

Pada 26 Agustus pukul 24:00 WIB, KRI Monginsidi sudah berada 1,5 kilometer di depan Pelabuhan Dili. Dari kapal terlihat perang saudara berkecamuk dengan hebatnya. Dengan tidak hentihentinya pertahanan UDT di sebelah barat pelabuhan dibombardir mortir. Kebakaran terjadi di manamana, termasuk alang-alang di pegunungan di sekitar kota.

Tiba-tiba sekitar pukul 03:00 WIB terlihat sebuah kapal berukuran sedang dengan semua lampu dimatikan, berusaha keluar pelabuhan lewat jalur satusatunya yang ada. Melihat gerak-gerik mencurigakan itu, Mayor Herianto senagai komandan kapal segera diperintahkan secepatnya menghentikan kapal tadi dengan cara menutup pintu ke luar satu-satunya jalur ke luar pelabuhan.

Kapal tidak dikenal itu terpaksa berhenti. Selanjutnya kapal asing tadi diminta untuk membuka jati diri. Kapal tanpa lampu itu menyatakan diri sebagai milik pemerintah Portugal dan di dalamnya ada Gubernur Timor Portugis bernama Limos Pires sebagai penumpang. Gubernur disertai seluruh stafnya yang berbangsa Portugis, dikawal satu kompi para Portugal.

Kapal berlayar menuju Pulau Atauro, dalam rangka menghindari perang saudara, atas perintah pemerintah Lisbon. Komandan kontingen segera menawarkan bantuan untuk ikut menampung dan mengantar gubernur yang sedang lari itu, sampai di tujuan. Setelah menunggu beberapa saat, jawaban diberikan melalui radio, bantuan yang ditawarkan tidak diperlukan dengan ucapan terima kasih. Ia juga kirim salam kepada komandan kontingen dan minta agar diperkenankan meneruskan pelayaran.

Setelah jalur pelayaran dibuka oleh KRI Monginsidi, kapal pelarian segera diberi tanda agar melanjutkan perjalanannya. Dalam beberapa saat kapal itu telah ditelan kegelapan malam di pagi dini hari tanggal 27 Agustus 1975.

Dengan hilangnya kapal pelarian Gubernur Limos Pires, timbul pertanyaan besar di benak segenap awak kapal KRI Monginsidi. Kalau penguasa tunggal berketatapan menghindari tanggung jawabnya, lalu siapa yang akan membawa rakyat Tmtim mencari jalan keluar dari anarki sebagai akibat kebijaksanaan tinggal glanggang colong playu [ini bahasa Jawa, saya ndak ngerti ! ;-)] pemerintah Portugis itu ?
Jawaban yang paling tepat adalah : "Tidak Ada". Dengan demikian -oleh pemerintah Portugal- nasib rakyat diserahkan kepada hasil kekacauan dan hasil saling bunuh antarrakyat yang bertikai sendiri.

Pada waktu hari mulai terang, tiba-tiba saja tembakan berhenti. Kemungkinan besar kehadiran negara tetangga besar yang diwakili kapal perang KRI Monginsidi adalah penyebabnya. Hal ini -belakangan- dibenarkan konsul Indonesia, saat terjadi pertemuan yang diadakan komandan kontingen dengan tokoh-tokoh kedua belah pihak yang bertikai.

Dalam kesenyapan pagi tanpa tembakan itu, komandan kontingen memerintahkan Assintel Armada untuk mengadakan pengintaian pantai, dikawal 1 regu marinir bersenjata lengkap yang dipimpin sendiri oleh komandan kompinya. Dua perahu karet bermotor segera diturunkan dan setelah siap kedua perahu mendekati pantai dengan sangat hati-hati.

Di pelabuhan, terlihat bendera putih dengan ukuran besar berkibar. Di tengah pelayaran, perahu-perahu patroli disongsong sebuah perahu motor kecil yang membawa bendera putih. Ternyata di dalam perahu itu selain awak kapal juga ada seorang staf konsulat Indonesia yang mencoba mengetahui maksud kedatangan kapal perang, atas permintaan pihak Fretilin.

Pejabat ini lalu diminta segera naik kapal perang untuk memberikan taklimat mengenai situasi dan saran-saran yang diperlukan. Takliman singkat berisi soal politis prinsipil yang tampaknya akan sulit untuk diatasi dalam waktu pendek.



Ini cerita waktu Operasi Seroja, integrasi Timtim antara 26 Feb 1976 s/d 26 Mar 1976.

KAPAL SELAM RI BERHADAPAN DENGAN KAPAL SELAM US

Sedangkan dalam Operasi Seroja, satuan kapal selam bertugas menjaga perairan Timor dari infiltrasi asing. Terutama, di perairan laut yang berbatasan dengan Australia.

Pada saat itu KS KRI Pasopati sedang menyelam di pantai utara dekat kota Baucau, tiba-tiba ada laporan dari Juru Sonar ada suara baling-baling mendekat ke KS kita, untuk itu komandan kapal memerintahkan KS naik ke kedalaman periskop dan mengintip cakrawala, ternyata cakrawala bersih tanpa ada satu kapalpun disana.

"Juru sonar, berapa baringan dan kecepatan?" tanya komandan. "Baringan 040 kecepatan 10 knots ndan" jawab juru sonar. Komandan mengecek lagi arah itu tidak terdapat kapal disitu. Komandan mengambil kesimpulan itu adalah KS asing yang mendekat. Untuk itu secara diam-diam peran tempur disiapkan di KS kita dan haluan kapal diubah menyongsong arah KS asing itu.

"Siapkan torpedo untuk ditembakkan" perintah komandan, tetapi tiba-tiba Juru sonar berkata "Baringan 000, suara menjauh, kecepatan 30 knots!"

Ternyata KS itu menjauh tidak mau berkonfrontasi dengan KS kita diperairan Timtim...dari hasil analisa kemungkinan KS itu adalah KS USN milik Armada VII karena kecepatannya cukup tinggi 30 knots dan diketahui hanya mereka yang KSnya bisa secepat itu pada masa itu...

( 50 tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009 )
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 22, 2012 10:48 am

Menyingkap Operasi Pengiriman Senjata Indonesia Untuk Mujahiddin Afghanistan













sumber: Angkasa Koleksi "Covert Operations"
avatar
red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Page 3 of 5 Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum