Malaysia's Military, Police and Security Agencies
Welcome to the battlefield, soldier!

MyMil adalah bod perbincangan berkenaan ketenteraan, agensi2 penguatkuasaan yang ada di Malaysia dan juga di serata dunia. Daftar sekarang untuk menikmati paparan perbincangan berinformasi sambil bersantai. Ahli2 yg baru akan digugurkan daripada senarai sekiranya tidak aktif dalam masa yg terdekat. Berforumlah dengan berhemah.

Terima kasih.


Admin dan moderator MyMil

Important Notice: The views and opinions expressed on the forum or the related pages are of the owner alone, and are not endorsed by Mymil, nor is Mymil responsible for them. Due to the nature of the Internet forum is in real time, Mymil does not, and can not censor any submission, but asks that each user use discretion and respect for other users, and does not contribute any word that is unlawful, harmful, threatening, abusive, harassing, tortious, defamatory, vulgar, obscene, libelous, invasive of another's privacy, hateful, or racially, ethnically or otherwise objectionable. Mymil reserve the right to withhold and/or remove any link that might possibly hold an individual, entity or group ridicule, potential embarrassment or potential defamation. Mymil also reserves the right to accept, edit and/or remove any link that is deemed inappropriate in any way.
Log in

I forgot my password

Latest topics
» Sembang Medan Selera Pak Jebat V44
by atreyudevil Sun Feb 05, 2017 6:23 pm

» PAINTBALL - Come get some...
by pisang Tue Dec 13, 2016 8:53 am

» Baru balik
by pisang Mon Dec 12, 2016 12:47 pm

» Jaket camo
by atreyudevil Fri Jul 15, 2016 11:17 am

» Nusantara Total War: Portuguese Invasion
by Adib Mon Feb 22, 2016 2:57 pm

» Rekrut baru disini
by kapokbesi Thu Feb 11, 2016 11:32 am

» Keretapi Tanah Melayu Berhad
by zacky.uesoff Thu Feb 04, 2016 6:00 pm

» ALL ABOUT HAM RADIO (AMATEUR RADIO STATION)
by kapokbesi Mon Nov 16, 2015 7:42 am

» Gathering MyMil 2015
by yaminz Tue Aug 11, 2015 4:15 am

» Diari MYMIL
by edayu Mon Apr 27, 2015 7:08 am

» Hari Polis ke-208
by venez Mon Apr 06, 2015 12:14 pm

» BACKPACKING
by venez Tue Mar 31, 2015 12:11 pm

» Rekrut 2015
by atreyudevil Sun Mar 29, 2015 3:34 pm

» Sejarah Pangkalan-Pangkalan Udara TUDM
by venez Tue Mar 24, 2015 6:02 am

» MyMil useful website lists
by atreyudevil Sat Jan 24, 2015 6:17 pm

» WIP - Work In Progress
by yaminz Fri Dec 26, 2014 7:06 am

» Model Collections
by yaminz Fri Dec 26, 2014 6:58 am

» Rekrut October & November 2014
by atreyudevil Sat Dec 20, 2014 2:07 am

» Bola Cafe: MALAYSIA!
by HangPC2 Sun Dec 14, 2014 7:35 am

» Hot Chick in Uniform
by yaminz Wed Dec 10, 2014 11:52 am

Statistics
We have 510 registered users
The newest registered user is Adib

Our users have posted a total of 171899 messages in 1313 subjects
MyMil at Facebook
Like/Tweet/+1

Untold Story Of Indonesia

Page 1 of 5 1, 2, 3, 4, 5  Next

View previous topic View next topic Go down

Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 7:48 am

Peranan intelijen indonesia dalam operasi alpha di israel

1

“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah kususun rapi langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan. Semua bayangan buruk musnah sudah.

Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute. Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”

Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam operasi alpha, operasi alpha adalah operasi klandestin terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Berikut adalah kutipan tentang operasi alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.

Operasi Alpha

Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 dan T-33 memang sudah tua. Sehingga, kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.

Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin, oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.

Menuju Arizona

Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat F-5 E/F Tiger II serta Operasi alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.

Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi. Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.

Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur.

Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan flight garuda dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila. Dihotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan. Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukan ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.


Last edited by red army on Sun Apr 08, 2012 8:04 am; edited 1 time in total

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 7:51 am

2

Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelojen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam.

Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan, ” Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil apabila sang merpati telah hinggap…”

Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar. Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond. Bahkan sekalanya lebih besar. Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang? Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.

Setelah acara makan malam, kami harus segera bergegas menuju Bandara Paya lebar dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.

Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semakin aneh perjalanan, baru berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan ke Tel Aviv pada penerbangan berikutnya. Sampai di Bandara Ben Gurion, sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, mengikuti arus penumpang lain menuju pintu keluar.

Tetapi tanpa terduga, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, sebagai bagian dari operasi intelijen. Kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manu dengan hati berdebar.

Tamat riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasi Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor, berusaha menyelundup masuk ke negaranya.Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, tetap saja kami berpikir buruk. Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup.

Sebab tidak ada bukti, siapa memberi perintah datang ke Israel. Sampai diruang bawah tanah, persaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja diskenariokan untuk ditangkap dan justru bisa lewat jalur khusus, guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.

Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia.

Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, Ani tayas mis Singapore yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan boken tof berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.


Last edited by red army on Sun Apr 08, 2012 8:06 am; edited 1 time in total

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 7:56 am

3

Eliat, Pangkalan Udara Rahasia

Semalam tidur dihotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat. Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat. Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah.

Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine di hari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan Arizona, oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.

Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur israel.

Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.

Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail.

Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.

Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air. sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista. Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku.

Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago didunia.

Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijasah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung. kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita dan segera dibakar.

Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala, semua pelajaran yang pernah diperoleh.

Wing day di Amerika

Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara. Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.

Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia, untuk menguatkan alibi bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.

Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal.

D Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya. Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, skaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC.

Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.

Sang Merpati Hinggap

Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun, mengangkut F-5 E/F Tiger II, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan satu paket proyek kiriman pesawat terbang namun diangkut dengan media transportasi berbeda.

Nantinya, ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya. Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”

Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.


Last edited by red army on Sun Apr 08, 2012 8:05 am; edited 1 time in total

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:02 am

4

Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri

Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.

A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan samapi perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut. Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lag tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.

Mencari detail tentang operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main.

Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga merupakan cetakan untuk kalangan terbatas. Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya benny Moerdani ga dibahas sama sekali.

Terimakasih juga untuk Metro tv yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang operasi alpha dalam acara special operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).

Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:

“Saat buku “My Home My Base” diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin Kasau dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya punt idak lagi berkomentar.

Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak unung dan ruginya. Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 digrounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi.

Sumber: Poerwoko, Djoko F. Menari di Angkasa. Kata hasta pustaka. Jakarta. 2007

http://adiewicaksono.wordpress.com/2...lpha/#more-746










red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:12 am

Adolf Hitler Lari & Mati di Indonesia

1

Oleh : Alif Rafik Khan

Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.

Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!

Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin, dengan kepala plontos.

Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung dugaannya.

Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.

Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889.

“Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.

Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja.

Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!

Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.

Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.

Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.

“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.


red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:14 am

2

Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”

Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.

“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.

Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.

“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!

Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.

Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:16 am

3

“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.

Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia.

Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.

Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.

Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!

Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.

Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.

Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.

Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.

Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!

Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.

Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...

Sumber :
Harian “Pikiran Rakyat” edisi 24 Februari 1994
Majalah “Zaman” edisi No.15 tahun 1980
Majalah “Zaman” edisi 14 Mei tahun 1984
Majalah “Intisari” edisi bulan Oktober tahun 1983




red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by atreyudevil on Sun Apr 08, 2012 8:25 am

nice reading material, tacang for red army!

--------------------my siggy below--------------------



♫♫ I could lift you up  ♫♫
♫♫ I could show you what you wanna see, And take you where you wanna be ♫♫
♫♫ You could be my luck♫♫
♫♫ Even if the sky is falling down, I know that we'll be safe and sound ♫♫
♫♫ We're safe and sound ♫♫

atreyudevil
ADMIN
ADMIN

Malaysia
Mymil
Posts : 9565
Reputation : 602
Join date : 18/04/2010
Location : Kuantan

http://www.facebook.com/?ref=logo#!/profile.php?id=1000002088986

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:35 am

Menangkap Agen Australia di Papua New guinea






Pos Pasukan TNI di Muaratami, Kabupaten Jayapura, diserang gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang berkekuatan 14 orang. Di pos itu ada 16 tentara dari Batalyon Infanteri 712 Kodam Merdeka yang sejak Mei 1984 lalu bertugas di sana. Serangan dadakan itu terjadi pada 2 Oktober 1984 sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Kontak senjata itu disiarkan Radio Australia. Radio ini juga menyiarkan kontak senjata antara TNI dan OPM di wilayah Papua Nugini (PNG).

Dalam pertempuran itu. seorang anggota OPM tewas. Mayatnya ditinggal lan teman-temannya. Pada mayat yang mengenakan kaus bergambar peta PNG ini ditemukan sebuah bom tangan dan sepucuk senapan AKS-74 buatan Uni Soviet. Senapan dan bom itu semuanya baru. Adanya bom dan senapan baru itu menimbulkan pelbagai pertanyaan. Dari mana OPM memperoleh berbagai senjata baru itu? Siapa yang mengirimkan senjata tersebut?

Panglima Kodam Cenderawasih, Brigjen Raja Kami Sembiring Meliala, mendapatkan laporan intelijen bahwa beberapa kali ada helikopter yang datang dengan pintu terbuka di dekat kamp pelintas batas di Blackwater. dekat Vam-mo. PNG. Helikopter tersebut membuang bahan makanan juga peti panjang yang diduga beris senjata, termasuk penumpang helikopter yang berkulit putih. Artinya, bukan orang Papua atau PNG. Kemungkinan adanya pengiriman senjata untuk OPM memang tidak mustahil, tetapi kecurigaan itu harus dibuktikan.

Memang keterlibatan pihak-pihak tertentu di Australia yang secara pribadi membantu OPM sudah lama diketahui. Pemerintah Australia terus menyangkal keterlibatan tersebut. Apalagi, ada unsur militer yang terlibat mengirimkan senjata ke OPM untuk menyerang TNI. Pemerintah Indonesia kemudian meminta penjelasan kepada otoritas PNG. Jawabannya, mereka mengaku tidak tahu menahu soal adanya dugaan pengiriman senjata untuk OPM di wilayah PNG.

Pangdam Brigjen Sembiring Meliala kemudian melaporkan masalah ini ke Mabes TNI (ABRI). Panglima TNI (ABRI) Jenderal LB Moerdani memutuskan untuk mengambil langkah sendiri untuk mengidentifikasi siapa dan negara mana yang melakukan hal itu. Caranya dengan menyusupkan pasukan komando masuk ke wilayah PNG tanpa permisi.

Tugas tersebut dipercayakan kepada Detasemen 81 Kopassus yang saat itu dipimpin oleh Mayor Infanteri Prabowo Subianto. Sasaran mereka adalah suatu lokasi di wilayah PNG, sekitar 50 km dari tapal batas perbatasan dengan Indonesia. Pasukan ini berangkat dari Jayapura naik helikopter, kemudian sampai di suatu tempat dan melanjutkan misi dengan perahu karet agar tidak terdeteksi otontas PNG

Perjalanan dini hari menggunakan perahu karet menuju lokasi sasaran terhadang oleh besarnya ombak di perairan sebelah utara PNG. Seorang anggota Kopassus sampai terluka cukup parah untuk mempertahankan perahu dari ter-jangan ombak. Akhirnya, mereka berhasil sampai di titik pendaratan dan langsung bergerak menuju lokasi sasaran. Pasukan komando ini segera mencari tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi penimbunan pasokan senjata. Tetapi, hasilnya nihil.

Tugas operasi belum selesai, mereka harus bisa mendapatkan bukti seperti perintah dari Jakarta. Mereka pun melanjutkan tugas rahasia tersebut. Setelah menunggu selama dua hari dua malam, akhirnya mangsa yang ditunggu muncul dengan cara sembunyi-sembunyi. Dua orang kulit putih muncul dari balik rimbunnya hutan PNG. Mereka tanpa sadar melintasi posisi pasukan Kopassus yang sedang mengintainya. Tanpa membuang waktu, kedua bule ini pun ditangkap. Setelah diperiksa dan diinterogasi, keduanya mengakui sebagai agen Australia.

Mereka juga menunjukkan lokasi tempat helikopter Australia yang memasok senjata dan amunisi untuk OPM. Kedua agen Australia itu kemudian dibawa secara rahasia ke wilayah Papua, Indonesia. Kemudian, keduanya ditahan di Jakarta. Pemerintah Indonesia memberitahukan kepada Pemerintah Australia soal keterlibatan agen Negeri Kanguru itu dalam memasok senjata untuk OPM di wilayah PNG. Beberapa bulan kemudian, keduanya diekstradisi ke Australia.

Australia malu mengetahui agennya tertangkap. Sejak saat itu, Australia tidak berani bertindak macam-macam lagi. Mereka tidak menyangka kalau Kopassus mampu melakukan operasi jauh di dalam wilayah musuh. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Kopassus juga bisa beroperasi di pedalaman Australia tanpa terdeteksi. Inilah yang kemudian membuat tentara Aussie segan terhadap TNI dan Australia menghormati -

Indonesia. selwnal ginting
sumber:http://www.bataviase.co.id/node/842117

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 8:50 am

Superhero penyobek bendera belanda di Hotel Yamato Very Happy




Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya.

Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.

Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.

Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.

Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama seseorang superhero berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.


red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 9:12 am

Misteri Meninggalnya Ibu Tien Soeharto





Isu tak sedap menyeruak beberapa hari setelah meninggalnya Tien Soeharto. Beredar kabar, Ibu Negara itu meninggal akibat terkena peluru nyasar dari keributan yang antara Bambang Trihatmodjo dan Hutomo Mandala Putra.

"Itu adalah rumor yang sangat kejam dan tidak benar sama sekali. Saya saksi hidup yang menyaksikan Ibu Tien terkena serangan jantung mendadak," tutur bekas ajudan Soeharto, Jenderal (Purn) Sutanto dalam buku 'Pak Harto The Untold Stories'. Buku itu diluncurkan Rabu kemarin, 8 Juni 2011 di Jakarta, memperingati ulang tahun Presdien Indonesia yang kedua itu.

Ibu Tien Soeharto meninggal pada tanggal 28 April 1996 pukul 05.10 di RSPAD Gatoto Subroto. Dan kabar yang beredar saat itu adalah bahwa dua anak Soeharto Bambang dan Tommy sempat berebut proyek mobil nasional. Mereka berkelahi dan sempat terjadi baku tembak. Salah satu tembakan diisukan mengenai Ibu Tien.

Sutanto yang kemudian menjadi Kapolri dan kini menjabat Kepala Bin itu menceritakan bahwa sehari sebelum Ibu Tien meninggal, almarhumah sempat mengunjungi sentra pembibitan buah Mekarsari. "Agaknya Ibu Tien terlalu asyik dan gembira melihat-lihat banyaknya tanaman yang tengah berbuah. Ibu Tien lupa bahwa sebenarnya beliau tidak boleh berjalan terlalu lama dan jauh. Hal itu untuk menjaga kesehatan Ibu Tien yang sedang mengidap gangguan jantung," kisahnya.

Dalam buku itu Sutanto menulis bahwa pada 27 April 1996, Soeharto pulang dari laut memancing ikan. Dia sempat bertemu dengan istrinya itu. "Suasananya berlangsung seperti biasa. Hanya pada waktu itu, Ibu Tien harus banyak istirahat karena kelelahan," ujar bekas Kapolri itu.

Kemudian pada 28 April 1996 sekitar pukul 04.00, Ibu Tien mendapat serangan jantung mendadak. Saat itu, Ibu Tien tampak sulit bernafas. ""Dalam kondisi genting segera diputuskan untuk membawa Ibu Tien ke RSPAD Gatot Subroto. Saya melihat dokter kepresidenan Hari Sabardi memberi bantuan awal pernapasan dengan tabung oksigen. Saya sendiri turut membawa ibu negara dari rumah ke mobil dan selanjutnya ke RSPAD," tuturnya.

Saat itu, lanjut Sutanto, Tommy dan Sigit juga ikut mengantarkan ibunya ke rumah sakit.

Namun, setelah berbagai upaya penyelamatan medis dilakukan, sekitar pukul 05.10 Ibu Tien menghembuskan nafas terakhirnya. Pada saat itu, Soeharto tampak terus mendampingi istrinya di rumah sakit.

"Saya harap jangan sampai rumor tidak benar itu tetap dipercaya oleh sebagian orang yang hingga kini terus menganggapnya benar," tegas Sutanto.

Buku Untold Stories itu ditulis oleh sejumlah mantan bawahan Soeharto. Antara lain mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin, dan sejumlah mantan menteri pada era orde baru. Sejumlah ajudan Soeharto juga berkisah lewat buku ini. Sejumlah petinggi negara tetangga seperti Mahathir Muhammad, Sultan Hasanah Bolkiah dari Brunei Darrussalam, dan mantan Presiden Philipina ikut menulis.

Lebih dari tiga puluh tahun memimpin negeri ini-- dalam cara yang penuh kontroversi-- Soeharto jatuh sesudah reli unjuk rasa mahasiswa dan kelompok pro demokrasi. Sejumlah mahasiswa meninggal dalam unjuk rasa menurunkan Soeharto. Kerusuhan Mei itu hingga kini dikenang sebagai salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah bangsa ini.

Banyak yang memuji Soehato, tapi sungguh banyak pula kalangan yang menuduhnya terlibat pelanggaran HAM, dari peristiwa 1965 hingga kasus Aceh. Ia juga dirundung tuduhan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) sepanjang memerintah lebih dari 30 tahun itu.

Soeharto sempat dijadikan tersangka dalam kasus KKN. Tapi dia tidak datang ke persidangan karena sakit. Belakangan sakitnya itu bersifat permanen. Kasus itu kemudian dipendam oleh kejaksaan hingga Soeharto wafat.

Sesudah kejatuhannya, polemik tentang Soeharto terus menyala. Antara mereka yang mendukung dan massa yang menentang.

Banyak yang mendukungnya menjadi pahlawan, banyak pula yang menentang keras sebab sejumlah sejarah gelap kekerasan sepanjang massa 30 tahun harus diluruskan sebelum dia dianggap pahlawan.

Ais Ananta Said adalah anak sulung Ali Said, SH, Jaksa Agung di masa Soeharto berkuasa mendukung penuh Soeharto menjadi pahlawan. Jasa mantan presiden itu, katanya, terlalu banyak untuk diabaikan dari gelar pahlawan.

Sejumlah anak tokoh Partai Komunis Indonesia dan korban pelanggaran HAM menolak keras. "Dijatuhkan rakyat, kok jadi pahlawan," tanya Ilham Aidit, anak Dipa Nusantara Aidit. (baca selengkapnya wawancara VIVAnews.com dengan Ilham di sini).

Dahlia Biki, putri Amir Biki tokoh yang tewas dalam traegdi Tanjung Priok 1984 mempertanyakan kelayakan Soeharto jadi pahlawan. Pelanggaran HAM yang dituduhkan kepadanya, kata Dahlia, harus ikut dipertimbangkan. (Baca wawancara Dahlia di sini)

Pertengahan Mei lalu, survei Indobarometer mengejutkan publik. Mayoritas responden yang disurvei ternyata sudah rindu dengan Soeharto. Meski banyak kaum cendekia yang mempersoalkan metode dan pertanyaan dalam survei ini, sosok Soeharto kembali ramai dibicarakan. Dan Rabu kemarin, sejumlah mantan bawahannya meluncurkan buku The Untold Stories itu.

http://nasional.vivanews.com/news/read/225506-sutanto-cerita-misteri-meninggalnya-ibu-tien

sampai sekarang banyak rakyat indonesia,percaya ibu tien suharto tertembak oleh anaknya,yang memperebutkan perusahaan Mobil TIMOR

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 9:31 am

Soeharto Untold Stories



Pak Harto Nekat ke Bosnia karena Tak Punya Uang

1

Masih banyak sisik melik kisah Pak Harto lewat buku Pak Harto The Untold Stories. Misalnya saja kenangan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat mengawal penguasa 32 tahun itu ke Bosnia pada 1995.

Kala itu, di tengah baku tembak antara Bosnia dan Serbia, Pak Harto berkunjung ke Bosnia-Herzegovina menemui Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Pesawat Soeharto terus menerus diawasi senapan anti pesawat udara. Presiden ke-2 RI ini pun dibidik sniper. Namun Soeharto kalem saja.

Saat itu Sjafrie berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Grup A Paspampres. Ketika masih berada di Kroasia, terdengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Namun insiden penambakan itu tidak menyurutkan langkah Soeharto ke Bosnia.

Karena keterbatasan kursi, hanya Sjafrie dan Mayor CPM Unggul yang mengawal Soeharto dalam pesawat sewaan itu. Sjafrie juga menulis Soeharto enggan mengenakan rompi anti peluru dan helm baja. Padahal semua memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang bisa menahan proyektil M-16.

"Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja," ujar Soeharto pada Sjafrie.

Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut.

"Ini dilakukan untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah," terang Sjafrie.

Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk merontokkan pesawat terbang terus mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongannya. Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia.

"Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah," tulis Sjafrie.

Pak Harto kemudian naik panser VAB yang disediakan PBB. Mereka melewati sniper valley, sebuah lembah yang penuh diisi penembak jitu dari kedua pihak yang bertikai. Untungnya tidak ada apa-apa selama perjalanan. Soeharto pun tiba di istana kepresidenan Bosnia yang saat itu keadaannya memprihatinkan. Tidak ada air sehingga air bersih harus diambil dengan ember. Selama pertemuan, Sjafrie melaporkan ada tembakan meriam tak jauh dari istana.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

"Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat," jawab pak Harto.

Sjafrie terpesona mendengar jawaban ini.

http://news.detik.com/read/2011/06/09/143547/1656773/10/pak-harto-nekat-ke-bosnia-karena-tak-punya-uang

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 9:34 am



Soeharto di Mata Rakyat Malaysia


2

Mantan Presiden Soeharto tak hanya dikenang oleh Bangsa Indonesia. Penguasa Orde Baru itu tampaknya juga dikenang oleh pemerintah dan masyarakat negeri jiran, Malaysia.

Dalam peluncuran buku berjudul 'Pak Harto The Untold Stories' di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu 8 Juni 2011, mantan Menteri Penerangan Malaysia Tun Sri Zainudin Mahidin yang hadir mewakili mantan PM Mahathir Muhammad mengatakan Malaysia berhutang budi pada mantan Presiden Suharto atas peranannya mengakhiri beberapa konflik di Malaysia.

"Meski tidak menampakkan keakraban, tapi dalam ta'ziahnya Mahathir telah membela Pak Harto dari tuduhan orang-orang yang telah melupakan jasa-jasanya," kata dia dalam sambutan peluncuran buku.

Mahidin yang juga mantan jurnalis itu mengatakan sosok Soeharto sebagai orang yang berwibawa. Selain sebagai tentara, dia kenal sebagai seorang diplomat yang bagus. "Oleh karenanya terpatri di benak masyarakat Malaysia untuk mengabadikan nama Soeharto," kata dia.

Sebagai bukti penghormatan rakyat Malaysia kepada Soeharto, di sebelah utara Hulu Selangor negeri jiran itu ada suatu wilayah yang disebut Kampong Soeharto. Kampong yang berdiri diatas tanah seluas 174,047 hektar ini dihuni 178.500 jiwa, terdiri dari etnis Melayu, Jawa, Banjar dan India.

"Nama Pak Harto terpatri di rakyat malaysia sebagaimana ada Kampong Soeharto, Masjid Soeharto, rumah sakit Soeharto, dan Sekolah Kebangsaan Soeharto," tuturnya.

Meski era kepemimpinan Soeharto sudah berakhir namun sebagai penghormatan kepada Soeharto, nama kampung itu tidak dirubah.

"Walaupun Pak Harto sudah berhenti, Kampong Suharto tidak akan dirubah namanya, karena hubungan Indonesia dan Malaysia berjalan sangat baik pada masa tersebut," kata dia.


red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 9:39 am



Berikut ini sebagian isi buku tentang testimoni terhadap presiden yang memimpin Indonesia selama 32 tahun oleh sahabat-sahabat karibnya:



Pencipta Stabilitas Ekonomi (Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura)

Soeharto menciptakan suatu era stabilitas dan kemajuan di Indonesia. Hal ini membangkitkan kembali keyakinan internasional di wilayah kita, dan membuatnya menjadi aktraktif untuk investasi asing serta mendorong kegiatan ekonomi. Di bawah Soeharto, Indonesia tidak bersikap serperti sebuah negara hegemoni.

Indonesia tidak bersikeras terhadap pandangan dirinya, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan-kepentingan negara lain dalam ASEAN. Sikap ini membuat Indonesia diterima oleh anggota ASEAN lain sebagai first among equal.

Tegas Mengatasi Masalah (Tun Mahathir bin Muhammad, Perdana Menteri Malaysia)

Pak Harto adalah pemimpin yang memahami begitu banyak masalah, sehingga beliau bisa mengatasinya untuk kemudian membangun negara Indonesia dengan baik. Memang ada yang berpendapat bahwa pemerintahan Pak Harto keras, tetapi kami tidak melihatnya seperti itu, karena tidak mungkin suatu pemerintahan tidak berlaku tegas, dengan membiarkan sama sekali adanya masalah-masalah.

Banyak negara yang merdeka pada waktu yang bersamaan, sampai sekarang tidak mengalami kemajuan apa-apa karena adanya civil war, perang saudara. Namun Pak Harto dapat mengawal sehingga Indonesia bisa menjadi sebuah negara jaya.


Dikenang Negara Lain (Fidel Ramos, Presiden Filipina ke-13)


Dengan difasilitasi oleh Pak Harto, pertemuan itu akhirnya dilaksanakan di Istana Cipanas, Jawa Barat, Indonesia. Perundingan damai digelar pada 14-17 April 1993 dihadiri faksi-faksi yang bertikai, perundingan itu membuahkan sejarah besar bagi kami bangsa Filipina, yaitu terciptanya kesepakatan damai antara mereka yang bertikai dan mempersatukan kembali bangsa kami beragam dalam naungan kesatuan nasional Filipina.


Dirindukan Karena Prestasinya (Sultan Haji Hassan Al Bolkiah, sultan pertama Brunei)


Saya berasa sedih karena Presiden Soeharto tidak lagi ada bersama-sama kita. Namun demikian, saya percaya bahwa segala pencapaiannya semata bagi Republik Indonesia yang dicintainya maupun pertumbuhan ASEAN, kesemuanya merupakan bukti yang nyata terhadap warisan keemasan yang diturunkannya kepada rantau kita.

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 10:00 am

KRI Irian [kapal perang Cruiser terbesar dalam sejarah Indonesia]



1

Tidak banyak informasi bahwa Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah memiliki sebuah kapal penjelajah ringan (light cruiser class) bernam KRI Irian dengan nomor lambung 201 sebagai salah satu andalan yang digelar dalam kampanye militer untuk merebut kembali Irian Barat (sekarang Papua) dari kekuasaan Belanda. Kala itu KRI Irian merupakan Kapal Terbesar yang ada di kawasan Asia.

Hingga kini pun belum ada satu negara di Asia Tenggara yang pernah memiliki kapal penjelajah selain Indonesia. Kapal penjelajah legendaris itu adalah KRI Irian, yang sengaja didatangkan pemerintah Indonesia dalam rangka pembebasan Irian Barat (Papua).

Berawal dari modernisasi Alutsista yang dirintis Mayjen A.H. Nasution (Alm) (kala itu sebagai Menko hankam / Kasab) sejak 1957 ke Amerika Serikat untuk mengajukan pinjaman untuk pembelian Alutsista, Namun ditanggapi dingin, maka rombongan melanjutkan ke Moskow dengan maksud yang sama. Di negeri Beruang Merah proposal tersebut disetujui.

Dengan memanasnya hubungan Indonesia dengan Belanda atas masalah Irian Barat, maka pada awal 1960 Nikita Kruschev berkunjung ke Jakarta dan menyetujui perjanjian pembelian sederet Alutsista dari Uni Soviet atas dasar kredit jangka panjang.

KRI Irian adalah Kapal penjelajah kelas Sverdlov dengan kode penamaan soviet Project 68-bis. Kapal jenis ini adalah Kapal Penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khrushchev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali).

Sebagai bangsa maritim, sudah seyogyanya kita memiliki angkatan laut yang mumpuni. Tidak hanya bicara soal kualitas dan kuantitas persenjataan, tapi sudah sepatutnya kita mempunyai arsenal persenjataan yang bisa menggetarkan nyali lawan. Hal inilah yang dahulu begitu dibanggakan bangsa Indonesia di era tahun 60an. Selain punya armada angkatan udara yang terkuat se Asia Tenggara, Angkatan Laut (TNI-AL) dikala itu memiliki kapal perang tipe penjelajah ringan buatan Uni Soviet.

Kapal jenis ini adalah pengembangan dan versi yang lebih besar dari Kapal penjelajah kelas Chapayev. Kemiripan KRI Irian dengan kapal kelas Chapayev adalah pada senjata utama , permesinan, dan perlidungan bagian samping. Sedangkan perbedaannya terletak pada kapasitas bahan bakar yang lebih banyak untuk jarak tempuh yang lebih jauh , lambung yang dilas keseluruhnya, proteksi bawah air yang lebih bagus, artileri anti pesawat yang lebih baik dan radar yang lebih baik pula.

KRI Irian sebelumnya adalah kapal Ordzhonikidze (Орджоникидзе) (Object 055) dari armada Baltik yang dibeli oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962. Saat itu KRI Irian adalah kapal terbesar dibelahan bumi selatan. Kapal ini digunakan secara aktif untuk persiapan merebut Irian Barat.

Kapal ini dibuat di Admiralty Yard, Leningrad. Peletakan lunas pertama dilakukan pada tanggal 9 Oktober 1949, kapal diluncurkan pada tanggal 17 September 1950, dan pertama kali kapal dioperasikan pada tanggal 30 Juni 1952.

Pada 11 Januari 1961 Pemerintah Soviet mulai mengeluarkan instruksi kepada Central Design Bureau #17 untuk memodifikasi Ordzhonikidze supaya ideal beroperasi di daerah tropis. Modernisasi skala besar dilakukan untuk membuat kapal ini bisa beroperasi pada suhu +40°C, kelembapan 95%, dan temperatur air +30°C.

Tetapi perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia yang kemudian mengunjungi kota Baltiisk menyatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk menanggung biaya proyek sebesar itu. Akhirnya modernisasi dialihkan untuk instalasi genset diesel yang lebih kuat guna menggerakkan ventilator tambahan.

Pada 14 Februari 1961 Kapal ini tiba di Sevastopol dan pada 5 April 1962 kapal ini memulai ujicoba lautnya. Pada saat itu Kru Indonesia untuk kapal ini sudah terbentuk dan ada di atas kapal. Mekanik kapal ini Bapak Yatijan, di kemudian hari menjadi Kepala Departemen Teknik ALRI. Begitu juga banyak dari pelaut yang lain, di kemudian hari banyak yang mampu menduduki posisi penting.


Last edited by red army on Sun Apr 08, 2012 10:16 am; edited 1 time in total

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 10:14 am

2

Datang ke Surabaya pada 5 Agustus 1962 dan dinyatakan keluar dari kedinasan AL Soviet pada 24 Januari 1963. Tidak pernah Uni Soviet menjual kapal dengan bobot seberat ini kepada negara lain kecuali kepada Indonesia.

ALRI yang belum pernah mempunyai armada sendiri sebelumnya, belajar untuk mengoperasikan kapal-kapal canggih dan mahal ini dengan cara trial and error / coba-coba.

Pada November 1962 tercatat sebuah mesin diesel kapal selam rusak karena benturan hirolis saat naik ke permukaan, sebuah destroyer rusak dan 3 dari 6 boiler KRI Irian rusak. S

uhu yang panas dan kelembapan tinggi berefek negatif terhadap armada ALRI, akibatnya banyak peralatan yang tidak bisa dioperasikan secara optimal. Di lain pihak kehadiran kapal ini membuat AL Belanda secara drastis mengurangi kehadirannya di perairan Irian Barat.

Pada 1964 Kapal Penjelajah ini sudah benar-benar kehilangan efisiensi operasionalnya dan diputuskan untuk mengirim KRI Irian ke Vladivostok untuk perbaikan. Pada Maret 1964 KRI Irian sampai di Pabrik Dalzavod. Para pelaut dan teknisi Soviet terkejut melihat kondisi kapal dan banyaknya perbaikan kecil yang seharusnya sudah dilakukan oleh para awak kapal ternyata tidak dilakukan.

Mereka juga tertarik dengan sedikit modifikasi yang dilakukan ALRI yaitu mengubah ruang pakaian menjadi ruang ibadah (sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negara komunis).

Setelah perbaikan selesai pada Agustus 1964 kapal menuju Surabaya dengan dikawal Destroyer AL Soviet. Setahun kemudian (1965) terjadi pergantian pemerintahan. Kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Soeharto. Perhatian Soeharto terhadap ALRI sangat berbeda dibandingkan Sukarno. Kapal ini dibiarkan terbengkelai di Surabaya, bahkan terkadang digunakan sebagai penjara bagi lawan politik Soeharto.

Terdapat beberapa versi tentang riwayat KRI Irian setelah peristiwa G30S.

• Versi pertama menyebutkan bahwa pada tahun 1970, KRI Irian sudah sedemikian parah terbengkalai hingga mulai terisi air. Tidak ada orang yang peduli untuk menyelamatkan Kapal Penjelajah ini. Sehingga pada masa Laksamana Sudomo menjabat sebagai KSAL, maka KRI Irian dibesituakan (scrap) di Taiwan pada tahun 1972 dengan alasan kekurangan komponen suku cadang kronis.

• Versi kedua, menurut Hendro Subroto, kapal perang yang dibuat hanya empat buah ini di jual ke Jepang setelah persenjataannya dipreteli. "Padahal di Tanjung Priok masih terdapat dua gudang suku cadang. Tapi karena perawatan sebelumnya di tangani orang Rusia, selepas Gestapu, kita tidak punya teknisi lagi," menurut Hendro.

Senjata utama dari KRI Irian adalah buah 4 turret, dimana setiap turret berisi 3 meriam berukuran 6 inchi. Sehingga total ada 12 meriam kaliber 6 inchi di geladaknya.

10 Tabung Torpedo anti-Kapal selam kaliber 533 mm
12 Buah Kanon tipe 57 cal B-38 Kaliber 15.2 cm (6 depan, 6 Belakang)
12 Buah Kanon ganda tipe 56 cal Model 1934 6 (twin) SM-5-1 mounts Kaliber 10 cm
32 Buah Kanon multi fungsi kaliber 3,7 cm
4 Buah triple gun Mk5-bis turrets kaliber 20 mm (untuk keperluan anti-Serangan udara)

Sebagai tenaga penggerak, KRI Irian mengandalkan 2 buah turbin uap TB-72 yang mendapat pasokan uap dari 6 buah Pendidih KV-68 dan disalurkan melalui 2 buah shaft.

Tenaga total yang tersedia adalah sekitar 110.000 hp sampai 122.000 hp pada kedua shaft, tenaga ini mampu membuat kapal 13.600 ton ini mencapai kecepatan maksimum 32,5 knot. Sedangkan jarak maksimum yang bisa ditempuh adalah 9000 mil laut dengan kecepatan konstan 18 knot.

Kapal ini dapat memuat 1.270 awak kapal, termasuk 60 orang perwira, 75 perwira pengawas, 154 perwira pertama.

Awak kapal yang mendapat Bintang Sakti adalah Pembantu Letnan Sukardi, berawal waktu pengecekan ketel uap kapal sambil memberi pelatihan kepada anggotanya, saat menyalakan turboventilator terjadi ledakan keras karena pipa saluran uap pecah.

Ledakan tersebut berakibat terlukanya Pembantu Letnan Sukardi berserta Korpral M Hitipeuw dan Kelasi Dua J. Biama, Akhirnya selama dua hari dirawat intensif di Rumah Sakit Angkatan Laut Jakarta. Pembantu Letnan Sukardi meninggal dunia. Selanjutnya penghargaan Bintang Sakti diberikan kepada Ahli waris beliau pada tahun 1966.

Perwira yang pernah bertugas di atas KRI Irian adalah:

Mantan Panglima TNI dan Menkopolkam di Kabinet Indonesia Bersatu, Laksamana (Purn.) Widodo AS yang saat itu menjabat sebagai Perwira Senjata pada tahun 1968.
Dr. Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama di Kabinet Pembangunan VI, sebagai Perwira Kesehatan di KRI Irian.
Dr. Kartono Mohamad, kakak kandung dari Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo. Ia pernah menjadi dokter di KRI Irian semasa bertugas di TNI-AL (1964-1975).

Pembuat: Obedineniye "Admiralteyskiye Verfi" Leningradskoye
Mulai dibuat: 19 Oktober 1949
Diluncurkan: 17 September 1950 dan bertugas di AL Uni Sovyet pada 30 Juni 1952
Dibeli: 1962 dari Uni Soviet
Ditugaskan: 24 Januari 1963
Nama sebelumnya: Ordzhonikidze (Орджоникидзе) (Object 055)

Karakteristik umum

Berat benanam: 13.600 T standar, 16.640 T beban penuh
Panjang: 210 m keseluruhan, 205 m garis air
Lebar: 22 m
Draft: 6,9 m
Tenaga penggerak: 2 shaft geared steam turbine, 6 boiler, 110.000 HP
Kecepatan: 32,5 knot
Awak kapal: 1.250 orang
Persenjataan: 12 x 15.2 cm 57 cal B-38, 4 triple Mk5-bis turrets
12 x 10.0 cm 56 cal Model 1934 6 twin SM-5-1 mounts
32 x 3.7 cm
10 x 533 cm tabung torpedo
Perisai: Belt = 100 mm
Conning tower = 150 mm
Dek = 50 mm
Turet = 75 mm










red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 10:33 am

Napak Tilas Dunia Intelijen Indonesia





Pada awalnya adalah kegelisahan seorang perwira tentara lulusan PETA yang khawatir kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru seumur jagung bakal dirampas kembali oleh penjajah. Juga karena bentuk-bentuk perlawanan mengusir penjajah dari bumi Indonesia yang cenderung tak mengenal koordinasi satu sama lain akibat kendala geografis.

Dua hal itulah yang kemudian meneguhkan hati Zulkifli Lubis, nama perwira tentara itu, untuk membentuk sebuah badan intelijen pada 7 Mei 1946 yang diberi nama BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia). Dengan dibantu beberapa bekas perwira Jepang yang enggan kembali ke negaranya karena kalah perang, Zulkifli Lubis mendidik para pemuda Indonesia yang memiliki naluri pengintaian tajam untuk dijadikan prajurit bayangan yang bertempur dalam "perang adu pintar".

Salah satu tugas penting BRANI waktu itu adalah melakukan kegiatan kontra intelijen, yaitu menekan semaksimal mungkin jumlah simpatisan Belanda dan menggalang dukungan bagi Republik. Karena keterbatasan dana, kegiatan kontra intelijen pada awalnya hanya dilakukan di wilayah Jawa.

Berkat kecerdikan dan keuletannya, Lubis berhasil mengirim anak buahnya untuk menyisir wilayah-wilayah yang rentan terhadap pengaruh pihak Belanda, seperti Bali, Sumatra, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Perang strategi yang dilakukan Lubis menuai hasil. Dukungan terhadap kedaulatan Republik semakin besar di wilayah-wilayah itu--terlihat dari antusiasme yang menggebu untuk bergabung dalam sebuah wadah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semula BRANI memiliki kedudukan istimewa lantaran bertanggung jawab langsung kepada presiden Soekarno. Keintiman hubungan antara Lubis dan Soekarno ternyata membuat orang-orang di sekitar Soekarno cemburu dan merasa terancam. Tokoh yang pertama kali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Lubis adalah Amir Sjarifuddin, menteri pertahanan waktu itu.

Sjarifuddin ternyata lebih lihai mengambil hati Soekarno. Akhirnya, pada 30 April 1947 di Yogyakarta, Soekarno menyetujui penggabungan semua unit intelijen di bawah kendali kementerian Sjarifuddin. BRANI dibubarkan dan diganti dengan unit baru yang bernama Bagian V di bawah menteri pertahanan.

Fakta lain yang membuat posisi Lubis semakin terpinggirkan adalah rivalitasnya dengan para petinggi Angkatan Darat, terutama dengan A.H. Nasution. Merasa muak dengan pertarungan politik yang kotor, pada 1956 Lubis berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah dengan kekerasan bersenjata tapi berhasil digagalkan. Ia lalu memilih meninggalkan Jakarta dan bergabung dengan pasukan pemberontak di Sumatra dan Sulawesi.

Secara umum, di bawah kepemimpinan Soekarno, kondisi rakyat Indonesia jauh dari yang dinamakan sejahtera. Inilah yang kemudian memicu PKI untuk mengambil alih kekuasaan selain rivalitasnya dengan Angkatan Darat. Masih menjadi pertanyaan sampai sekarang, mengapa kudeta PKI pada 1965 itu begitu mudah dipatahkan oleh Soeharto? Padahal hampir seluruh petinggi AD berhasil dibunuh dan kredibilitas politik Soekarno waktu itu semakin lemah.

Soeharto begitu mudah menghimpun kekuatan AD dan dalam hitungan sekejap berhasil menumpas PKI. Kemudian Soekarno dipaksa menandatangani surat perintah yang memberi wewenang kepada Soeharto guna mengambil langkah strategis untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Untuk memperlancar kegiatan penertiban, Soeharto membentuk unit intelijen yang disebut Komando Intelijen Negara atau KIN. Semua posisi utama dalam KIN diisi oleh perwira-perwira asal Jawa Tengah, seperti Brigjen Yoga Sugomo dan Letkol Ali Moertopo.

Hal ini sekedar untuk melindungi diri, mengingat karir Soeharto yang melesat di tengah-tengah kekacauan yang melanda, juga karena keturunan Jawanya, sehingga Soeharto yang penuh curiga merasa perlu meminta bantuan para tentara bawahan yang berasal dari daerah yang sama. KIN inilah yang kemudian menjadi penopang bagi mulusnya usaha Soeharto mengambil alih kekuasaan.

Pada Maret 1967 parlemen secara resmi mengukuhkan Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Soeharto secara simbolis lalu mengundurkan diri dari jabatan kepala KIN. Melalui Keputusan Presiden pada 22 Mei tahun yang sama Badan Koordinasi Intelijen Negara atau BAKIN dibentuk untuk menggantikan KIN dengan Mayjen Soedirgo sebagai kepalanya.

Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami perubahan politik-ekonomi yang mendasar lantaran kiblat politik Soeharto yang cenderung ke arah negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Kedekatan dengan AS secara signifikan juga berdampak pada kemajuan BAKIN.

Agen-agen CIA secara rutin memberikan dukungan dalam bentuk bantuan alat-alat pengintaian dan pelatihan intelijen. Keterlibatan aktif CIA dalam membantu BAKIN bukan tanpa maksud mengingat kegiatan CIA di Indonesia pada prinsipnya merupakan perluasan dari kebijakan luar negeri Amerika yang berusaha membendung pengaruh komunisme di negara-negara Asia.

Sudah bisa ditebak, BAKIN kemudian menjadi dinas intelijen resmi yang begitu agresif terhadap para diplomat negara-negara komunis. Dua kegiatan operasi intelijen yang terkenal di masa-masa awal BAKIN adalah operasi intelijen dengan sandi Friendly 1 dan Friendly 2 dengan sasaran kantor kedutaan negara-negara komunis dan lembaga penerangan Front Pembebasan Nasional atas Vietnam Selatan (NLF) di Indonesia. Lambat laun, berkat kedekatannya dengan CIA dan Mossad, BAKIN menjelma menjadi badan intelijen yang licin dan profesional.

Namun, di kalangan petinggi militer terdapat pihak yang sepertinya tidak menghendaki BAKIN tumbuh menjadi badan intelijen sipil yang kuat. Gelagat itu kian menguat ketika L.B. Moerdani (seorang jendral TNI yang karirnya meroket sejak keberhasilannya menggagalkan pembajakan pesawat di Bangkok pada 1981) diangkat menjadi Panglima TNI.

Setelah melepaskan posisi wakil kepala BAKIN, L.B. Moerdani menggunakan kesempatan ini untuk memberi perhatian lebih kepada intelijen militer. Pusat Intelijen Strategis yang ada waktu itu diperluas menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS). BAIS memiliki wewenang birokrasi yang kuat dan strategis serta mengemban kekuasaan hukum yang dulu dijalankan oleh Komkamtib.

Dihadapkan pada pamor BAIS yang kian mencorong, BAKIN mencoba mempertahankan kedudukannya dengan memperkuat pos-posnya yang ada di luar negeri. Perhatian khusus diberikan pada Timur Tengah, di mana BAKIN terus memperkuat tiga buah pos yang telah didirikan satu dasa warsa sebelumnya. Pada awal 1983 seorang penasihat Israel tiba di Jakarta untuk mengajarkan teknik intelijen kepada lima pejabat junior terpilih guna penugasan di luar negeri.

Seiring dengan kondisi politik internasional yang menunjukkan tanda-tanda kekalahan kubu komunis Soviet dari demokrasi liberal Amerika, BAKIN boleh dikatakan mengalami masa rehat. Kondisi politik dalam negeri yang kian stabil juga membuat BAKIN tidak lagi memiliki tugas ekstra.

Di samping itu, dalam kegiatan intelijen dalam negeri sepertinya dinas intelijen militer (BAIS) lebih mendominasi, lebih memiliki fungsi-fungsi strategis untuk melakukan penertiban, yang ujung-ujungnya ditujukan untuk menarik perhatian sang Presiden. Dampak dari semua itu, BAKIN menjadi dinas intelijen yang serba tanggung.

BAKIN tidak diikutkan dalam operasi di daerah-daerah yang paling bergejolak seperti Aceh, Timor Timur, dan Irian Jaya. Bahkan dalam medan pertempuran politik yang kritis di Jakarta, BAKIN tidak diperhitungkan.

Sejak awal 1990-an hubungan BAKIN dengan para kolega internasionalnya (CIA, Mossad, M16) juga menunjukkan kerenggangan. Ini semata-mata disebabkan pertimbangan pragmatis. Amerika dan sekutu-sekutunya tidak lagi memiliki musuh bersama sebagai target operasi setelah runtuhnya Uni Soviet sehingga membiayai kegiatan intelijen di Indonesia tidak lagi mendatangkan manfaat yang signifikan.

Butuh waktu sekitar satu dekade untuk mengembalikan hubungan yang pernah terjalin harmonis itu hingga agenda perang menumpas terorisme internasional oleh Amerika Serikat dikumandangkan setelah peristiwa 11 September 2001. Pada masa-masa itu telah terjadi bongkar pasang kepala BAKIN akibat seringnya pergantian kekuasaan semenjak runtuhnya rezim Orde Baru. Salah satu peristiwa penting yang perlu diingat adalah penggantian nama BAKIN menjadi BIN (Badan Intelijen Negara) pada 2001 semasa pemerintahan Gus Dur.

Momentum perang melawan terorisme dengan cepat dimanfaatkan oleh BIN untuk kembali menjalain hubungan dengan kolega-kolega internasionalnya, terutama CIA. Pada 19 September 2001, di hadapan CIA Hendro Priyono, kepala BIN waktu itu, mempresentasikan data orang-orang yang dianggap potensial melakukan kegiatan teror di Indonesia.

Orang-orang yang masuk dalam daftar itu adalah para alumni pejuang yang membantu membebaskan Afghanistan dari cengkeraman Soviet. Perang melawan terorisme mengingatkan BIN pada masa-masa keemasannya sewaktu berhasil mematahkan setiap upaya penyusupan agen-agen komunis di Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya.

Sepertinya, agenda menumpas terorisme di Indonesia oleh BIN tidak sia-sia. Sebagian besar tokoh kunci di balik aksi-aksi teror di Indonesia berhasil ditangkap. Sekedar contoh, Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, pelaku peledakan bom Bali 1 berhasil ditangkap, diadili, dan diganjar hukuman mati.

Umar al-Faruq dan beberapa rekan Timur Tengahnya juga berhasil diringkus, untuk kemudian diserahkan pada pihak Amerika. Prestasi gemilang itu cukup dijadikan pertimbangan oleh CIA untuk meminang kembali BIN sebagai mitra kerjanya.

Di balik upayanya memaparkan riwayat badan intelijen Indonesia serapi mungkin, buku ini juga menyuguhkan sisi-sisi manusiawi para agen intelijen lawan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap konyol, namun ini justru membuat peristiwa sejarah yang hendak disampaikan buku ini lebih realistis dan hidup. Agen intelijen juga manusia biasa.

Contohnya, ada seorang agen Soviet yang membelot gara-gara menanggung setumpuk hutang akibat kalah judi. Juga kemunafikan diplomat Iran yang setiap akhir pekan diam-diam mendatangi pusat-pusat hiburan meskipun saban harinya menunjukkan perilaku beragama yang sangat konservatif. Buku ini juga menuturkan sifat dasar Umar al-Faruq yang mudah jatuh cinta kepada wanita-wanita Indonesia meski hampir semua lamarannya ditampik.

Buku yang ditulis Conboy ini adalah buku pertama edisi bahasa Indonesia yang memaparkan secara menyeluruh sejarah intelijen Indonesia berikut kegiatannya sejak awal kemerdekaan hingga kini. Penulis mengatakan, riwayat BIN begitu penting untuk disajikan, setidaknya berdasarkan beberapa alasan.

Pertama, ini menjadikan sejarah kontemporer Indonesia lebih jamak nuansa. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto telah bersusah payah mencitrakan dirinya secara diplomatik sebagai negara netral dalam Perang Dingin. Tapi nyatanya, dinas intelijen Indonesia luar biasa agresif dalam menangani diplomat komunis di bumi Indonesia. Dengan memahami hal ini, peran Indonesia di paro abad ke-20 ini bisa ditempatkan dalam perspektif yang lebih tepat.

Kedua, walaupun ada lusinan buku tentang CIA dan KGB diterbitkan tiap tahun, jarang ada dinas intelijen negara berkembang yang dikomentasikan berikut detail operasinya yang berwarna-warni. Demikianlah, untuk pertama kalinya ada sebuah buku tentang organisasi intelijen Asia Tenggara yang tersebar di pasaran. Detail-detail operasinya akan memungkinkan para sejarawan memahami lebih baik operasi intelijen pasca Perang Dunia II.

Dan alasan terakhir, BIN telah berada di garis depan dalam perang melawan terorisme di Indonesia, bahkan sebelum peristiwa 11 September 2001. Walaupun beberapa hal kegiatan penyusupan itu telah bocor ke media massa, tapi buku ini mengungkap detailnya dengan lebih mendalam.

Melalui buku ini, kita diajak memahami jerih payah agen-agen intelijen Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negara ini. Seperti yang dikatakan Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, mereka adalah: “prajurit bayangan yang bertempur dalam perang adu pintar”.

http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwNw==&dokm=MDU=&dokd=MzA=&dig=YXJjaGl2ZXM=&on=VUxT&uniq=NDkx

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 10:59 am

Mengintip Lobi Israel di Indonesia









Nama Benjamin Ketang mungkin masih terdengar asing di masyarakat umum. Arek asli Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan ini yang memimpin sebuah organisasi lobi Indonesia dan Israel. Tahun 2007, sepulang dari belajar di Israel, Benjamin Ketang yang ditugaskan menjadi direktur eksekutif mulai mengembangkan IIPAC bersama kawan-kawannya. Mereka mencoba melakukan lobi bisnis agar investasi dari Israel bisa masuk dan diterima pengusaha Indonesia. “Tapi kami underground dulu,” katanya.

Sebagai gerakan bawah tanah, IIPAC ternyata lumayan cepat mengembangkan sayap. Kini sudah ada cabang organisasi ini di delapan provinsi, salah satunya di Jawa Timur. Banyak yang menawarkan diri ingin menjadi anggota, kata Ketang.

Namun jangan tanyakan di mana markas IIPAC. Organisasi ini berpindah-pindah alamat. Namun menurut sebuah dokumen yang ditampilkan di situs IIPAC iipac.wordpress.com, organisasi itu tercatat berdomisili di Jember, Jawa Timur.

Surat Keterangan Domisili yang ditandatangani oleh Kepala Desa bernama Hadi Supeno pada tanggal 25 Agustus 2010 bernomor Reg: N470/ /35.11.2003/2010, menyebutkan bahwa The Indonesia-Israel Public Affairs Committee merupakan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang “betul-betul berdomisili di Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember yang beraktifitas secara nasional dan internasional.”

Ketang mengatakan, IIPAC terbentuk setelah dirinya menjadi bagian dari tim negosiasi internasional Indonesia-Israel tahun 2001. Di Israel, Ketang sempat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Simon Peres, dan berdiskusi tentang peluang proyek yang dikembangkan di Indonesia.

Ketang lantas menyerahkan surat dari Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia saat itu. Dari situ, ada gagasan untuk membentuk semacam tim kerjasama. Ketang bersama kawan-kawannya lantas membentuk IIPAC yang berkonsentrasi pada urusan lobi bisnis. Jaringan ini mendapat rekomendasi dari Amerika Serikat dan Australia.

“Saya punya harapan, kekuatan investasi Israel bisa disinergikan untuk kesejahteraan Indonesia. Kekuatan Indonesia dengan sumber daya alam melimpah harus diintegrasikan dengan sistim internasional. Kuncinya Israel,” kata alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember ini.

Diakui atau tidak, pengaruh bisnis Israel sudah masuk ke Indonesia. Dalam majalah Warta Ekonomi nomor 4/2010, disebutkan ada sejumlah perusahaan yang merupakan investasi Israel di Indonesia. “Bakrie Group juga bekerjasama dengan Rothschild. Rothschild ini keluarga Yahudi di Prancis,” kata Ketang.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com (16/11/2010), PT Bakrie and Brothers Tbk dan beberapa perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie menandatangani perjanjian jual beli saham dengan Vallar Plc—perusahaan investasi milik Rothschild, salah satu keluarga bankir terkaya di dunia.

PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) akan melepas sekitar 5,2 miliar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kepada Vallar. Harga penjualan saham BUMI yang dikenal sebagai salah satu anak perusahaan terbesar BNBR itu Rp 2.500 per saham.

Besarnya pengaruh Israel ini tak bisa ditampik dalam hal telekomunikasi juga. “Setiap kita membeli dan memakai kartu SIM HP merek apapun, 10 persen akan masuk ke Israel sebagai royalti, karena itu dianggap hak cipta Israel,” kata Ketang.

Kendati kartu chip bukan murni temuan negara Israel, namun selama itu milik atau temuan warga Yahudi, maka tetap akan masuk ke Israel. “Orang Yahudi di mana-mana tetap sama, memiliki solidaritas terhadap Israel Raya,” kata Ketang.


Benjamin Ketang

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:08 am

Konspirasi: Van der Plas connection (CIA- MI 6) di Indonesia



1

Sudut pandang baru yang dimaksud adalah keterlibatan jaringan intelijen binaan Van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur di era penjajahan Belanda, dalam merajut persekutuan badan intelijen Amerika CIA dan badan intelijen Inggris MI-6. Sejauhmana validitas dan akurasi tulisan ini, kami serahkan sepenuhnya pada penilaian sidang pembaca. Ikuti kisah selengkapnya di bawah ini.

Semasa penjajahan Belanda di Indonesia, ada seorang pejabat pemerintahan kolonia Belanda yang namanya cukup sohor di kawasan Jawa Timur Dial ah Chr Van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur.

Van der Plas, Gubernur Jawa Timur yang menguasai beberapa bahasa daerah, bahasa Arab, Cina selain bahasa-bahasa Barat, dengan licik, berhasil membina keluarga-keluarga BB Ambtenar dan guru-guru agama, pesantren-pesantren dan organisasi keagamaan hingga secara lihai mereka dapat dikendalikan untuk kepentingan kolonialis.

Dalam masa pendudukan Jepang, Van der Plas, mengendalikan jaringan intel Sekutu di Indonesia dari Australia, termasuk dalam jaringanya adalah orang-orang dari jalur Dr. Van Mook seperti, Mr.Amir Syarifudin (pernah menjadi P.M.- memberontak sebagai PKI di Madiun) DR.Soemitro (beberapa kali jadi menteri, master agent Sekutu, koordinator penyalur senjata dan dana dari Singapura untuk PRRI-Permesta) dari jalur Van der Plas seperti Dr.Soebandrio, beberapa Kyai baik di Jawa, Sumatra maupun di Kalimantan, a.l. H. Hasan Basri, Kyai I.R.

dari Jatim beberapa Perwira Udara a.l. Soedj, Roes, juga anak seorang ambtenaar Belanda, Soemarsono (ketua Pesindo, proklamator negara Sovyet di Madiun th.1948 – salah satu pemberontakan terhadap Republik Indonesia bikinan Van der Plas) dsb, sekarang tinggal di Australia dan menjadi warga negaranya.

Termasuk dalam – Van der Plas Connection – juga tokoh seperti Walikota Solo, Utomo Ramelan yang secara nyata dan vokal mendukung Dewan Revolusi G 30 S, hal ini bukan peristiwa yang tanpa rencana. Sedangkan dari CDB PKI saja waktu itu tidak ada yang mengeluarkan statement dukungannya.

Dari sini terlihat benang merah, yang menghubungkan Dr.Bandrio dengan Utomo Ramelan, dengan jelas. Ramelan, bapaknya Utomo adalah Ambtenaar PID (polisi rahasia Belanda) yang kerjanya mengkhianati bangsanya saja, Utomo mempunyai saudara perempuan Utami Ramelan Suryadarma, sekualitas dengan kakak dan bapaknya.

Subandrio yang licik dan licin dengan melalui istrinya, yang anggauta PSI berhasil menempel pada Sutan Syahrir, hingga berhasil diangkat jadi Duta Besar, kemudian Kepala BPI yang terus dirangkap selama jadi Menteri Luar Negri maupun jadi Waperdam I, sesudah Menteri Pertama Djuanda meninggal dunia dalam tahun 1963. Perangkapan sebagai kepala BPI ini adalah saran dari -Van der Plas Connection ( CIA – MI 6 – Sekutu).

Tatkala Roeslan Abdulgani menjadi Menteri Luar Negeri, Bandrio yang duta besar di Moskow, ditarik, dijadikan Sekretaris Jendral (dari jabatan politik ke administrasi, karena antara keduanya ada rivalitas). Justru dari jabatan ini Bandrio ada kesempatan mengkonsolidasi bagian intel dari beberapa instansi yaitu Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan dan Departemen Dalam Negeri (Kepolisian menjadi BPI, Badan Pusat Intelijen, dan dia mengepalainya, tentunya atas nasihat dan arahan Van der Plas) .

Dengan kedudukanya sebagai Kepala Badan Pusat Intelejen, Waperdam dengan otoritas yang ada ditangannya bersamaan dengan dukungan jaringan intel luar negeri (Sekutu) jalan terbuka baginya guna meraih kedudukan nomer satu di Indonesia.

Dengan adanya amanah Bung Karno kepada Yani, Bandrio harus bekerja lebih keras. Dia mulai membuat manuver manuver politik yang menyenangkan PKI dan bekerja sama dengan harapan mendapatkan dukungan politik PKI.

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:11 am

2

Tim Dokter RRC


Dalam bulan Agustus 1965, datang sebuah Tim Dokter RRC, setelah mengadakan pemeriksaan kesehatan Bung Karno, berkesimpulan penyakit Bung Karno adalah serius tak boleh diabaikan. Bagi Bandrio dan PKI berita ini adalah sangat menyentakkan.

Sejak saat itu, mulai terjadi kegiatan dan manuver-manuver politik yang luar biasa. Bandrio melancarkan move-move politik dan PKI yang merasa belum siap sangat khawatir akan diterkam oleh AD (dokumen Gilchrist dsb). Lebih baik melakukan ofensif revolusioner daripada diam dan defensif.

Mereka bergegas untuk membuat persiapan-persiapan, guna menyingkirkan Jend. A.Yani dan para perwira pimpinan Angkatan Darat. Karena mereka sesudah penumpasan pemberontakan lebih terkonsolidasi, perhitungan Bandrio jika hanya Yani yang disingkirkan, kemungkinan Nasution akan dapat dimunculkan, maka Nasution segera dimasukkan juga dalam daftar untuk dihabisi.

Dengan persiapan yang tergesa-gesa dan kurang cermat dan tidak rapi tersebut menjadikan para pelaksana penculikan tidak mampu membedakan antara Nasution dan Letnan Tendean, yang membuat lolosnya Nasution dari penculikan dan pembunuhan.

PKI segera meluncurkan kampanye politiknya, dengan melontarkan tudingan bahwa para perwira Pimpinan AD adalah fasis yang merencanakan kup ternadap Bung Karno dengan membentuk Dewan Jendral. Pengertian Fasis adalah militer (yang ganas dan rakus) yang bekerja sama dengan kaum kapitalis (disini dikenal sebagai cukong, konglomerat).

Sepanjang pengetahuan orang banyak, para jenderal Pimpinan AD tsb., tidak ada yang dikenal sebagai tukang dagang apalagi mempunyai cukong, maka tudingan fasis dari PKI tersebut jauh meleset dan kurang mendapat sambutan dari masyarakat bahkan oleh masyarakat mereka dinilai tertib, jujur dan disiplin.

PKI (Partai Komunis Indonesia)


Partai yang memberikan dukungan utama kepada Bung Karno dalam meluncurkan politik penggalangan negara Nefos (New Emerging Forces). Strategi politik ini, mengancam strategi politik Amerika Serikat, yang dalam rangka perang dingin menginginkan hanya ada dua kubu saja, kubu Kapitalis dan kubu Komunis.

Bung Karno ingin menggalang kekuatan negara-negara berkembang, menjadi kubu ketiga karena PKI dalam hal ini merupakan pendukung utama, maka PKI selalu mendapat perlindungan dan dukungan Bung Karno, jika ada yang mengganggu atau menentangnya.

Sejak akhir tahun 1962, setelah Irian Jaya kembali ke pangkuan RI, PKI mengadakan evaluasi diri, mengapa sejak aktif kembali sudah hampir 15 tahun mulai 1949, belum juga dapat meraih kekuasaan, sedang dalam Pemilu 1955 sudah menjadi salah satu dari empat besar. Diluar negeri partai komunis dengan massa 10% saja sudah dapat meraih kekuasaan dengan mudah.

Mereka menemukan kesalahan tsb.yaitu PKI telah menerapkan strategi politik yang keliru, yaitu strategi ‘konformisme’ menyesuaikan diri dengan garis politik Pemerintahan Nasional -Bung Karno. Maka PKI segera mengambil keputusan untuk beralih ke strategi ‘konfrontasi’ sesuai dengan garis perjoangan kominis yaitu ‘Klassen Strijd’, pertentangan kelas.

Aidit dan Nyoto ke Moskow untuk menyampaikan keputusan tsb., tetapi justru mendapat marah dari bos Partai Komunis Sovyet, yang tidak dapat menyetujuinya, karena kerjasama dengan pimpinan borjuis nasional seperti Bung Karno masih diperlukan dalam menghadapi kapitalis Amerika Serikat. Dengan adanya tokoh seperti Bung Karno, dapat digunakan menarik negara-negara berkembang disisi komunis.

Agenda Van der Plas Connection


Aidit merupakan tokoh yang misterius, dia dengan alasan untuk melaksanakan alih strategi politik yaitu “-konfrontasi-” dalam rangka mengemban misi dari induk jaringanya lewat Sam, Van der Plas connection, guna menyesuaikan agenda waktu yang sudah ditentukan oleh jaringan tersebut dalam upaya hendak menggoncang Indonesia.

Maka baginya tidak ada jalan lain selain beralih kiblat ke Beijing, yang masih berwawasan nasional / lokal yang menerapkan doktrin, -kekuasaan ada di ujung bedil- desa mengepung kota – berkonfrontasi dengan penguasa nasional, hal yang tidak dapat dielakkan.

Dengan menerapkan strategi politik konfrontasi tersebut, akan sesuai dengan agenda waktu yang sudah ditentukan Van der Plas connection – (Sekutu) untuk menggoncang Indonesia dalam rangka menyingkirkan Presiden Soekarno.

Gerakan Aksi Sefihak

Sebagai realisasi strategi -konfrontasi- tsb, dilancarkan Gerakan Aksi Sefihak, yang menimbulkan antagonisme dan konflik konflik dengan partai dan golongan lain, seperti a.l. Masyumi, PSI, PNI, NU dan AD serta lain-lain kelompok. Menciptakan setan-setan kota dan setan desa, kabir (kapitalis birokrat), dsb. yang membikin suasana politik semakin panas, seperti, Peristiwa Bandar Betsi, Jonggol, Boyolali, Klaten dll.

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:18 am

3

Angkatan Ke V

Kekuatan yang menentang aksi-aksi PKI tsb. dituding oleh Bung Karno sebagai kaum kontrev (kontra revolusioner), komunisto fobi dan reaksioner, karena tidak berani melakukan kompetisi revolusioner. Terhadap AD, oleh PKI diluncurkan tuduhan bahwa pimpinannya membentuk Dewan Jendral yang mau mengekup Bung Karno .

Bung Karno secara sistematis dihasut bahwa para jendral tersebut. tidak dapat dipercaya maka adalah mendesak untuk dibentuk Angkatan ke V, dengan mempersenjatai buruh dan tani. Hasil Hasutan tersebut membuat sikap Bung Karno mendua. RRC politis mendukung usul PKI tersebut dan bersedia untuk membantu persenjataanya.

Sikap mendua Bung Karno, dimanfaatkan dengan pengiriman senjata secara diam-diam dari Beijing ke Jakarta, baik dengan pesawat-pesawat Hercules maupun dengan kapal laut,yang dibaurkan dengan pengiriman barang-barang untuk Asian Games.

Semua usaha ekstra PKI tersebut dilakukan karena partainya belum siap dan merasa dirinya berada dalam keadaan kritis, sejak diketahui sakitnya Bung Karno yang serius. Menyangkut rencana PKI terhadap Yani, Bandrio terus mendukungnya sepanjang paralel dengan rencana dan keuntungannya sendiri, bahkan mengipas dan mendorongnya, agar PKI segera bertindak.

Pidato Jendral A Yani

Di depan sidang para menteri bersama para panglima daerah dan para gubernur, (waktu itu unsur PKI sudah ada yang duduk dalam kabinet menjadi menteri) Jendral A Yani secara terus terang atas nama para panglima daerah menyatakan, menolak dibentuknya angkatan ke lima usulan PKI dengan mempersenjatai buruh dan tani.

Dengan menarik pelajaran dari pengalaman tahun 45-an, adanya Biro Perjuangan – TNI-Masyarakat, hanya menimbulkan konflik dan perpecahan yang memperlemah bahkan merusak kekuatan nasional. A Yani juga menyatakan ketidak senangannya PKI diberi posisi didalam kabinet.

Aidit Tokoh Misterius

Aidit tokoh muda PKI yang misterius. Sejak 1948 (affair Madiun) tertawan di Solo, dapat lolos dari tahanan di Solo, terus meloloskan diri ke luar negri, lewat Surabaya meskipun Surabaya dan sekitarnya diduduki oleh Inggris – Belanda. Aidit adalah sekelompok dengan Soemarsono (Ketua Pesindo yang melakukan proklamasi negara Sovyet dari Madiun atas suruhan Van der Plas, maka dapat lolos sewaktu tahun 1948 terus ke Australia dan selanjutnya menjadi warga negaranya).

Demikian pula Sam Kamaruszaman adalah sekelompok dengan mereka itu. Dari peristiwa ini sudah jelas, siapa-siapa mereka itu ialah agen-agen Sekutu-Belanda maupun komunis.

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Aksi Militer ke II dengan penyerbuan ke wilayah Republik Indonesia tiga bulan sebelumnya yaitu pada tanggal 18 September 1948,Van der Plas menyuruh PKI berontak di Madiun (dengan proklamasi negara sovyet tersebut), guna memperlemah Republik Indonesia.

Namun TNI berhasil menumpas pemberontakan PKI, bahkan Mr.Amir Syarifudin anggauta jalur Van Mook (pernah jadi Perdana Mentri RI) tertawan didesa Klambu, Purwodadi Jawa Tengah, bersama-sama tokoh-tokoh PKI lainya. Kecurangan Belanda dengan siasat adu domba dapat kita patahkan sebelum Belanda menyerbu wilayah Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 tersebut.

Setelah beberapa tahun di luar negri, Aidit kemudian dapat diselundupkan kembali ke dalam negri, berkat reka-daya Sam Kamaruszaman. Sejak datang kembali, karier politiknya dengan lancar dan cepat terus menanjak seperti diroketkan, hingga menjadi bos partai Sekjen PKI, Ketua Politbiro CC PKI (sebagaimana biasanya seseorang yang diorbitkan, selalu diatur kariernya).

Hubungan khusus antara Aidit dengan Sam ini kemudian dibakukan dengan dibentuknya Biro Khusus yang diketuai oleh Sam yang hanya bertanggung jawab kepada ketua Politbiro/Sekjen PKI seorang yaitu Aidit (dengan alasan mengingat kerahasiaan yang harus dijaga, membina anggauta Angkatan Bersenjata tidak boleh diketahui oleh orang banyak, cukup dua orang saja). Keputusan dari PKI mengenai G30S hanya diketahui oleh dua orang tersebut, yang oleh Sudisman dikritik sebagai keputusan avonturisme. .

Pada tanggal 1 Oktober 1965 tengah malam, Aidit disuruh oleh Sam untuk segera naik pesawat yang sudah tersedia untuk terbang ke Yogya hanya bersama pendampingnya Kusno, dan diberi tahu, bahwa nantinya di Yogya akan dijemput oleh Ketua CDB PKI Yogya. Kenyataanya setiba di Yogya tidak ada seorangpun yang datang menjemputnya Hanya diantarkan oleh pendamping dan seorang sopir dari AURI, bertiga kemudian menuju ke rumah Ketua CDB PKI.Yogya.

Kenyataanya setiba di Yogya tidak ada seorangpun yang datang menjemputnya Hanya diantarkan oleh pendamping dan seorang sopir dari AURI, bertiga kemudian menuju ke rumah Ketua CDB PKI.Yogya. Setibanya ditempat yang dikira rumah Ketua CDB, pada waktu diketuk pintunya, ternyata adalah rumah tokoh NU. Keberadaan Aidit di Yogya dengan demikian telah diketahui fihak lain, maka untuk menghilangkan jejak, kemudian perjalanan diteruskan ke Salatiga.

Beberapa hari kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Solo dengan mendapatkan jemputan kendaraan yang dikendarai oleh seorang Cina jago kunthau dari Solo. Tetapi akhirnya tertangkap hidup-hidup setelah beberapa waktu berada di Solo.

Sri Harto Penghubung Aidit – Bandrio.

Sesampainya Aidit di Solo, dia ditempatkan secara terus berpindah-pindah. Semula disinyalir di Lojigandrung kediaman resmi Walikota Utomo Ramelan, kemudian dipindahkan ke kampung Keparen (sebelah Selatan Pasar Singosaren) dirumah Jupri Prio Wiguno, anggauta PKI malam (jaringan Van der Plas). Beberapa hari Aidit berada di Keparen, kemudian dijemput oleh Sri Harto, penghubung Aidit – Bandrio.

Dengan menyerahkan tanda bukti berupa sesobek kertas krep yang bertanda tangan, sedangkan sobekan yang lainya berada ditangan tuan rumah ialah Jupri tersebut. Setelah sobekan tersebut dicocokan dan memang cocok, maka Aidit diserah terimakan oleh Jupri kepada Sri Harto.

Setelah serah terima tersebut, Aidit dengan diboncengkan scooter, dibawa ke rumah KRT. Sutarwo Hardjomiguno di desa Palur sebuah desa disebelah timur kota Solo. Beberapa hari berada di Palur dia sempat berkeliling kota Solo, bahkan sempat menengok markas CC PKI Solo. Kemudian dipindahkan kerumah Sri Harto penghubung tersebut di kampung Kleco yang terletak dibelakang Markas Resimen, dirumah tersebut Aidit tinggal beberapa hari lamanya.

Setelah mengambil Aidit dari Keparen Sri Harto melaporkan tentang keberadaan Aidit, kepada para senior Pemuda-Pelajar (Suhari alm. Dan seorang lagi). Menurut keteranganya karena dia merasa ngeri, melihat perkembangan keadaan, batalion TNI-AD, K, L dan M di Solo telah banyak disusupi PKI. Demikian pula dengan CPM, sehingga banyak tahanan-tahanan penting dapat lolos, antara lain seperti tokoh PKI anggauta Politbiro Ir.Sakirman, sopir Cina penjemput Aidit dari Salatiga dll.

Sri Harto percaya kepada para Pemuda-Pelajar dan merasa aman, karena melihat sepak terjang dan perjoangannya sewaktu bergerilya melawan Belanda, perang menumpas pemberontakan PKI 1948 dan waktu itu dalam menghadapi G 30 S di Solo.

Setelah Sri Harto memberi laporan tentang keberadaan Aidit tersebut, siasat segera disusun. Untuk menambah kepercayaan Aidit, Sri Harto diberi pengawalan oleh dua orang dari para Pemuda-Pelajar, sekaligus untuk mengawasinya, apakah Sri Harto jujur atau tidak dan kepadanja diberi sepucuk pistol untuk peganganya . Oleh para senior hal tersebut segera dilaporkan kepada Kol.Yasir yang rupa-rupanya kurang percaya bahkan minta apa jaminanya jika bohong.

Jawaban Suhari dia bersedia ditembak mati apabila laporanya tidak benar, karena mereka itu berjoang didorong oleh keyakinanya tiada pamrih pribadi demi untuk menegakkan Republik Indonesia yang mereka ikut mendirikanya.. Keberadaan Aidit di Solo, sudah beberapa hari dibuntuti, sesuai kesepakatan dengan Sri Harto. Laporan kepada Kol.Yasir tersebut rupa-rupanya bocor.

Rumah dimana Aidit ditempatkan, ternyata digerebeg oleh sepasukan polisi yang selama itu tidak berperan aktif, dan penyerbuan tersebut sama sekali tidak ada koordinasi, dimaksud hanya untuk menciptakan kekalutan belaka.

Kemudian ketahuan, bahwa Sekretaris Pekuper dari Kol. Yasir, yaitu Letkol Muklis Ari Sudewo, adalah seorang komunis yang mempengaruhi polisi untuk melakukan penyergapan, padahal selama kampanye melawan G30S tidak berperan. Sergapan tersebut karena tanpa koordinasi, hampir menimbulkan bentrokan dengan Pemuda Pelajar yang bertugas untuk mengamat-amati Aidit.

Beruntung bahwa sebelumnya Aidit sudah dipindahkan ke kampung Sambeng. Letnan Sembiring (terakhir jendral) yang mengejarnya di Pati tetapi tidak berhasil menangkap, teryata memergoki Muklis Ari Sudewo di Solo, ia menjadi orang kedua Pekuper. Dalam tubuh AD di Solo masih banyak unsur-unsur komunis (bagian operasi, Kapt. Hardijo, CPM a.l Lettu Abu) dll.

Kericuhan dalam operasi sering terjadi karena Pemuda Pelajar sering dijerumuskan kalau melakukan patroli terutama di malam hari, rupa-rupanya unsur-unsur PKI sudah terlebih dahulu diberitahu. Tetapi berkat pengalaman, dapat mencium gelagat yang tidak baik dan tipuan-tipuan tersebut dapat dihindari. Maka setelah itu mereka membuat gerak tipu sendiri sehingga dapat menangkap dan merampas banyak unsur-unsur PKI dan persenjataanya.

Kekalutan di Solo ditambah dengan sering bentroknya golongan Islam dengan golongan Nasionalis yang juga banyak dari mereka itu yang diadu domba dan menjadi korban dibantai oleh komunis, menjadikan keadaan bertambah rawan. Sri Harto adalah Ketua SBIM (Sarekat Buruh Industri Metal) di pabrik panci Blima.

Bapaknya Sri Harto adalah seorang dari kalangan atas Mangkunegaran, KRT. Sutarwo Hardjomiguno, lincah luwes hingga mampu kekanan-kekiri (kemungkinan besar berada dalam jaringan Van der Plas, karena dapat ketempatan Aidit tanpa bocor).

Kakak Sri Harto menjadi Asisten Wedana (PKI) di Klego daerah Boyolali, yang dinilai banyak merugikan dan menteror rakyat, maka dihabisi oleh rakyat sendiri..
Sri Harto mendapatkan kepercayaan untuk menjadi penghubung Bandrio – Aidit, tetapi karena dia kurang teguh dan ngeri akhirnya membuka kedoknya sendiri, mencari selamat dengan melaporkan tentang keberadaan Aidit di Solo tersebut kepada para senior Pemuda Pelajar.

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:27 am

4

Aidit Tertangkap

Saat rumah dimana Aidit tersebut ditempatkan digerebeg oleh sepasukan polisi, Aidit sudah dipindahkan ke kampung Sambeng. Sore harinya Kol.Yasir melakukan operasi penggerebegan baik ke rumah dimana Aidit ditempatkan pada waktu siangnya maupun ke seluruh kampung.Tetapi hingga sekitar pukul 22.00 malam, Aidit belum juga dapat diketemukan. Kemudian operasi dihentikan dan pasukan tentara ditarik dari kampung Sambeng, beberapa ditinggalkan untuk mengamat-amati.

Para senior Pemuda-Pelajar yang memberikan laporan kepada Kol.Yasir merasa sangat terpukul dan kecewa, karena selain kena tuduhan pembohong juga telah memberikan jaminan, jika bohong, bersedia untuk ditembak mati. Mereka berkeyakinan bahwa Aidit pasti masih berada dirumah dimana siangnya ditempatkan atau paling tidak masih dikampung Sambeng tersebut.

Para senior Pemuda-Pelajar, kemudian mengambil inisiatif untuk menggeledah dan memagar betis kampung dan rumah tersebut dengan mengerahkan teman-temannya, meskipun mereka menanggung risiko karena berlakunya jam malam. Terutama rumah yang sudah digeledah tersebut digeledah lebih intensif lagi, tetapi tetap tidak diketemukan Aidit.

Hanya didalam sebuah almari yang kosong dan menempel rapat dengan dinding penyekat rumah ditemukan sebuah celana dalam, berinitial DA, yang diduga adalah milik Aidit. Rumah tersebut dihuni oleh seorang yang sudah tua, seorang pensiunan pegawai Bea & Cukai bersama cucunya yang gadis remaja.

Sudah susah payah dari pagi sampai tengah malam belum juga mendapat hasil, salah seorang senior Pemuda-Pelajar menemukan akal, dengan menggertak orang tua penghuni tersebut, jika tetap tidak mau mengaku dimana Aidit berada, cucunya akan dipermalukan didepannya.

Dengan gertakan demikian orang tua tersebut akhirnya mengaku bahwa Aidit berada dibelakang almari kosong tersebut. Sewaktu dibantah mana mungkin, karena almari tersebut rapat dengan dinding. Mendapat jawaban, bahwa dinding belakang almari tersebut merupakan pintu dan dinding sekat rumah tersebut yang rangkap dengan rongga sekitar 50-60 cm.

Ternyata waktu dinding belakang almari tersebut dibuka, Aidit masih berada didalam rongga dinding sekat rumah tersebut Aidit disilahkan keluar dan kemudian diserahkan kepada Kol.Yasir langsung diLojigandrung. Operasi penggeledahan tahap kedua yang dilakukan oleh para Pemuda Pelajar ini, didampingi oleh Letnan Ning, hingga merupakan tindakan yang berada dibawah petugas resmi .

Aidit Dihabisi

Tertangkapnya Aidit tersebut segera dilaporkan ke Jakarta oleh Kolonel Yasir, kemudian diperintahkan langsung oleh Jendral Soeharto agar pada kesempatan pertama Aidit dibawa ke Jakarta. Konon kemudian didapat kabar bahwa dalam perjalanan ke Jakarta tersebut ditengah jalan Aidit dihabisi dan tak tentu rimbanya.

Hal ini menimbulkan tanda tanya, mengapa seorang tokoh yang demikian penting, selain Sekjen PKI, juga menyandang jabatan resmi sebagai Menko dihabisi begitu saja? Mengapa tidak dikorek keteranganya hingga tuntas dan diajukan ke Pengadilan hingga masyarakat umum mengetahui secara terbuka. Dalam hal ini sangat terasa adanya sesuatu yang disembunyikan dan merupakan misteri besar.

Apakah ada hubunganya dengan kemisteriusan tokoh Aidit? Tertangkapnya Aidit di Solo ini membuka tabir adanya hubungan Aidit dengan Bandrio dan dengan jaringan Van der Plas ( a.l. Jendral Soeharto, yang memerintahkan menghabisi). Suatu konspirasi yang sangat kejam dan telah memakan korban besar dikalangan rakyat.banyak, baik yang komunis maupun yang non komunis.

Sekutu -CIA – MI 6 – (Van der Plas Connection)

Apabila ditelusuri lebih mendalam, dalam rangka untuk lebih menjamin kepentingan Sekutu (politik, ekonomi dan keamanan di Indonesia) Amerika dan sekutunya merasa perlu untuk menggulingkan Presiden Soekarno dan memecah-belah Indonesia menjadi beberapa negara, menyingkirkan para perwira yang berdedikasi dan menghapus PKI.

Kegagalan yang dialami Amerika dan sekutunya dalam meluncurkan projek pemberontakan PRRI-Permesta membuatnya sadar setelah mendapat advis dari Belanda, bahwa pendekatan dari daerah untuk menyingkirkan Presiden Soekarno adalah kesalahan yang fatal dan sulit untuk dapat berhasil.

Peranan Van der Plas Connection

Sekutu mulai melakukan pendekatan ke Pusat. Kepada Jakarta mulai ditawarkan untuk membeli pesawat angkut raksasa Hercules, Indonesia diberi bantuan stasiun komunikasi beserta perlengkapanya yang dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia (dengan demikian Sekutu dapat menyadap semua perintah-perintah dari pusat maupun daerah), kepada para perwira Indonesia diberi kesempatan untuk belajar ke Amerika, diadakan program Civic Mission dan perwira pelaksananya dilatih di Amerika beberapa bulan, juga dikirim ke Indonesia Peace Corps.

Para sarjana sipil dan mahasiswa diberi bea siswa untuk belajar ke Amerika. Para kader Dr. Soemitro Djojohadikusumo berbondong-bondong berangkat belajar ke Amerika dan kembali menggondol gelar-gelar akademis yang diperlukan untuk mengajar di Universitas. Hubungan yang semula tegang menjadi cair, tidak ada pesta atau resepsi di Kedutaan Amerikayang tidak mengundang para sarjana yang kira-kira berpotensi. .

Van der Plas Connection Menemukan Jagonya


Bersamaan dengan dilaksanakanya program-program tersebut diatas,dengan diam-diam dilakukan talent scouting (mencari calon jago berbakat) oleh perwira tinggi dari bagian sandi yang ternyata berada dalam jaringan Van der Plas. Calon jago adalah perwira-perwira dengan kriteria, avonturir berani malu, berani mati, doyan duit, berpengalaman dan berhasil dalam berpetualang serta telah menikmatinya.

Ditemukan seorang perwira yang memenuhi kriteria tersebut,ialah seorang kolonel asal Jawa Tengah dan pernah menduduki posisi tertinggi ditempatnya sebagai Panglima Divisi,yaitu Kolonel Soeharto. Malahan padanya ditemukan faktor lain yang sangat penting,yaitu menaruh dendam kesumat kepada para perwira atasannya, terutama anggauta Tim Pengusut MBAD dan rival berat A yani juga kepada Presiden Soekarno yang menanda tangani Surat Keputusan pemecatanya sebagai Panglima Divisi Diponegoro. Maka terpilihlah Kolonel Soeharto untuk dijadikan jago utamanya.

Kepada Kol. Soeharto setelah selasai pendidikan di SSKAD,diciptakan jabatan yang sebelumnya tidak ada, yaitu suatu Kesatuan baru ialah TJADUAD (Cadangan Umum Angkatan Darat) Kol.Soeharto dijadikan Panglimanya. Beberapa waktu kemudian diadakan KOGA (Komando Siaga) dan dia menjadi salah satu anggauta pimpinannya. Beberapa waktu kemudian diadakan kampanye untuk menyerbu Irian Barat, Soeharto menjadi Panglimanya. Setelah selesai kampanye Irian Barat, Soeharto dengan pangkat Mayor Jendral dijadikan Panglima, KOSTRAD.

Sang Jago Melaksanakan Tugas

Setelah Majen Soeharto menduduki pimpinan Kostrad, terjadilah G30S sesuai agenda waktu dari dari Van der Plas connection (atas pesanan Amerika dan sekutunya). Dari peristiwa G30S tersebut, terlihat dengan jelas adanya jalur-jalur konspirasi kaum ex kolonialis, yang sampai kini, masih merajut dengan jalur-jalurnya pada sistem kekuasaan negara kita.

Dengan melalui Van der Plas connection, pertama terlihat jalur lewat DR..Bandrio. Dia yang sangat berambisi untuk menggantikan kedudukan Presiden Soekarno (didukung oleh induk jaringanya), tetapi terhalang oleh Yani dan Nasution. (Dewan Revolusi yang dia sponsori mendapat dukungan hanya dari Utomo Ramelan-yang sejaringan dengan Bandrio dalam Van der plas connection )

Kedua adalah jalur PKI, atas rintisan Sam Kamaruszaman bersama DN Aidit dengan menciptakan kondisi-kondisi politik dengan strategi baru sehingga PKI yang belum siap terjebak didalamnya.

Ketiga adalah lewat Jendral Soeharto yang melancarkan operasi intel (menghapus jejak dengan cara menyingkirkan atau menghabisi orang/organisasi yang telah berhasil mencapai tujuan atau sasarannya, seperti.G30S yang seminggu setelah terjadi, dibelakangnya diberi label PKI, meskipun Letkol Untung termasuk jalur PKI, tetapi juga juga termasuk jalur Jendral Soeharto).

Letkol Untung yang telah berhasil menghabisi para jendral anggota Tim Pengusut MBAD kemudian juga dihabisi. Dan Perwira Tinggi yang telah melakukan mencuci het vuile was (melaksanakan pekerjaan kotor) masih beruntung hanya disingkirkan keluar negeri, mengingat dia adalah orang penting di Kostrad.

Lobang Buaya

Dalam bulan Maret 1965 Deputi operasi Angkatan Udara, Laksda Ud Sri Mulyono sesuai instruksi, memerintahkan untuk dilaksanakan latihan militer bagi para sukarelawan Ganyang Malaysia. Perwira pelaksana latihan tersebut adalah May.Ud.Soejono, latihan dimulai tanggal 5 Mei 1965. Masih dalam bulan Mei 1965 terjadi serah terima tugas tersebut dari Laksda Ud.Sri Mulyono kepada Komodor Ud. Dewanto.

Dewanto mengadakan inspeksi ternyata ditemukan, bahwa yang dilatih tersebut hanya dari unsur komunis yaitu Pemuda Rakyat dan Gerwani. Oleh Dewanto diperintahkan agar latihan pada awal bulan Juni dihentikan dan digantikan dari unsur-unsur Nasionalis dan Agama kepada May.Ud. Soejono.

Ternyata perintah atasan tersebut oleh May.Ud Soejono diabaikan dan kedua organisasi yaitu Pemuda Rakyat dan Gerwani masih berlanjut sampai terjadinya G30S pada awal Oktober.Lokasi latihan adalah dikebon karet berdekatan dengan bahkan mungkin termasuk wilayah Pangkalan Udara Halim yang ada sumur tuanya.

Tiga hari kemudian setelah diketemukanya mayat para jendral yang dimasukkan ke dalam sumur tua tersebut, masyarakat menjadi geger. Dengan tayangan dengan narasi yang lancar dibarengi dengan statement tentang G30S oleh Jendral Soeharto dilokasi mayat-mayat korban diangkat satu persatu.

Ini merupakan skenario yang sempurna dan dramatis ,berhasil menggoncangkan psikologi rakyat. Dari tayangan ini ditimbulkan kesan yang menggores hati rakyat banyak, karena tertayangkan siapa-siapa yang menjadi bandit dan siapa pahlawannya.

Suatu rekayasa yang sempurna, maka timbul pertanyaan, bagaimana seorang bawahan (May.Ud.Soejono) berani mengabaikan perintah atasannya, dalam hal ini Komodor Dewanto, jika tidak ada backing yang lebih tinggi dan kuat. Dengan demikian maka berlanjutlah keberadaan Pemuda Rakyat dan Gerwani di Lobang buaya. Siapa yang berada dibelakang peristiwa-peristiwa itu semua?

Sumber : Drama Oktober , File G30S dan the global review dot com

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:53 am

[Memoar]Komandan Intelijen Indonesia Pertama ...





1

Dilahirkan pada tahun 1923, Kolonel Zulkifli Lubis adalah peletak batu dan komandan pertama badan intelijen Indonesia. Dia bergerilya di Sumatera dalam perang kemerdekaan. Pemimpin Gerakan Anti 17 Oktober 1952 Deputi Kepala Staf dan Penjabat Kepala Staf Angkatan Darat selama beberapa tahun dengan pangkat kolonel hingga meletakkan jabatan pada tahun 1956 salah satu gembong dalam pemberontakan PRRI – Permesta (1958).

Kini tinggal di Bogor sebagai pengusaha. Atas permintaan TEMPO, tokoh yang pernah didongengkan bisa menghilang ini menceritakan panjang lebar sebagian dari perjalanan hidupnya pada wartawan kami, Muchsin Lubis.

SAYA dari kakak beradik bersaudara ada sepuluh orang. Tujuh wanita, tiga laki-laki. Kakak saya laki-laki nomor dua tertua sudah meninggal dan adik saya laki-laki yang terkecil, juga sudah meninggal. Jadi, kami dari tiga laki-laki itu, tinggal saya saja yang hidup.

Jadi, kalau jatuh pada acara warisan, tinggal saya yang mengaturnya. Dari saudara wanita, yang paling bungsu meninggal waktu lahir di Tapaktuan. Saya lahir di Banda Aceh yang dulu disebut Kutaraja pada tanggal 26 Desember 1923. Sehari lebih muda dari Natalan. Kalau yang hidup sekarang ini, ada adik di Banda Aceh, kemudian kakak saya di Medan, kemudian kakak saya di Magelang. Saya anak nomor lima.

Saya merasa, saya termasuk putera yang disayangi oleh kakek-nenek saya dan ayah-ibu saya. Mungkin karena laki-laki sedikit sekali di keluarga saya. Kemudian, rupa saya memang agak lain. Rupa saya waktu kecil, seperti orang Barat. Muka putih, rambut pirang dan mata biru, waktu kecil. Maka itu, ketika masih di sekolah rendah, di HIS, saya oleh guru Belanda - saya sampai sekarang tidak tahu sebabnya - saya satu-satunya murid yang didudukkan bersama-sama perempuan, sampai kelas tiga.

Orangtua saya bernama Aden Lubis gelar Sutan Sanalam. Ibu saya, Siti Rewan bermarga Nasution, tapi lahir dan besar di Aceh. Maka itu, kami itu lebih merasa sebagai orang Aceh daripada orang Tapanuli. Saya tahu bahasa Tapanuli, bahasa Mandailing, tapi tidak bisa membicarakan. Hanya mengerti. Kalau boleh dibilang, lahir di Aceh, saya lebih merasa sebagai orang Aceh dan besarnya bersama masyarakat, di Yogya. Tapi bahasa Jawa pun saya tidak pandai, cuma mengerti.

Selama saya sekolah itu, memang saya merasa disayangi orangtua saya maupun kakek-nenek, namun saya lebih dekat dengan ibu. Orangtua saya kedua-duanya guru di sekolah guru, normal school. Tapi ibu saya itu kimpoi muda, lalu berhenti jadi guru. Ayah saya sesudah 25 tahun kemudian berhenti lalu jadi pamong raja.

Waktu itu ayah saya jadi klerk di Banda Aceh, di kantor gubernur, kemudian pindah ke Tapaktuan. Di Tapaktuan itulah lahir adik saya yang laki-laki paling kecil dan adik saya perempuan paling kecil yang meninggal waktu lahir. Ibu saya pun meninggal dunia di Tapaktuan.

Kalau saya ingat kembali, saya banyak belajar bermacam-macam segi dari orangtua saya. Kalau dari ibu saya, saya belajar tentang kebersihan. Ibu saya itu sangat suka bersih. Kami bersaudara itu, kaki kami semua hanya boleh kena tanah pada hari Minggu saja. Selebihnya itu harus pakai sandal. Selain itu, ibu saya suka membaca dan menyukai sajak. Hingga saya juga ada bawaan suka sajak. Puisi. Dengan sajak Chairil Anwar, saya sangat tertarik, lalu Amir Hamzah, walaupun tidak sampai mendalami.

Kalau dari ayah saya, disiplin. Disiplin waktu dan kemauan kerja. Bapak saya, walaupun masih klerk di zaman Belanda, dia naik sepeda dari Kutaraja ke Lho' Nga sekitar 14 kilometer, sebagai kontroleur. Pulang balik, mulanya. Karena saya disayanginya, dan belum sekolah, saya diboncengnya. Sampai di Lho' Nga saya dititipkan ke pesanggrahan, lalu dia pergi ke kantor.

Nanti sore hari, pulang naik sepeda lagi. Sampai begitu rupa - mungkin lelah karena usia lanjut - baru kira-kira seminggu sekali pulang ke Kutaraja. Itu tahun 1920-an. Saya memang selalu dibawa Ayah ke mana-mana. Dari dia saya dapat kesungguhan kerja dan pegang waktu.

Kalau dari kakek saya, Angku saya, dia hakim agama di Pengadilan Agama Kutaraja, saya belajar agama, sembahyang. Nama beliau Raja Imbang Nasution. Beliau kakek dari pihak Ibu. Saya adalah cucu yang paling disayangi. Sedang nenek dari pihak Ibu, istri angku saya. orangnya besar tinggi dan gemuk. Waktu kecil, saya sering tidur dengan dia. Kalau dia menumbuk sirih, saya sering ngelon ke dadanya. Karena dia gemuk, jadi hangat.

Saya sekolah dari HIS sampai ke MULO, di Aceh semuanya, sampai tahun 1940-an, sebelum perang. Karena orangtua saya menganggap saya cukup cerdas, pada umur empat tahun lebih sedikit, saya sudah sekolah. Di sekolah saya maju, hingga semua guru sayang pada saya. Baik guru Belanda atau guru Indonesia. Sava sekolah di HIS ke-II di Kutaraja.

Pandai berhitung. Cepat. Semua pelajaran, saya senang, cuma pelajaran bahasa yang kurang. Kalau berhitung dan sejarah, saya mendapat nilai sepuluh. Apalagi berhitung luar kepala, saya tetap nomor satu. Ketika sekolah itu saya dipanggil Kifli, bukan Lubis. Nama panggilan ini sampai saya di AMS-B di Yogya. Baru zaman Jepang saya dipanggil Lubis, karena Lubis lebih mudah disebut dalam bahasa Jepang. Saya tamat MULO sekitar tahun 1941.

Saya orang suka membaca. Sewaktu di MULO itu, saya sudah mendengar dan mempunyai kesempatan membaca. Saya setiap hari membaca surat kabar Deli Blaad berbahasa Belanda, terbitan Medan. Kebetulan, anak tetangga saya di Kampung Atuk, dekat Makam Pahlawan, penjual surat kabar, termasuk' Deli Blaad. Teman itu sering memberikan koran itu pada saya satu lembar.

Dari situ saya tahu pidato-pidato Bung Karno, Hatta, Thamrin, dan Volksraad. Sungguhpun surat kabar itu dari modal perkebunan di Sumatera Timur, jadi sebenarnya kapitalistis, itu menaikkan semangat nasional kami sebagai pelajar MULO.

Dari situ saya mengetahui adanya pergerakan-pergerakan, walaupun tak bisa ikut aktif. Kami tak punya kesempatan. Cuma, di antara teman-teman kami punya perkumpulan di MULO. Namanya Patriot. Kumpulan Patriot ini merupakan kumpulan yang tidak mengikuti kehendak kolonial, kehendak Belanda. Kami, termasuk sebagian guru, terbilang masuk golongan oposisi, walaupun secara diam-diam.

Ketuanya, waktu itu? Yahya Bahram Rangkuti. Misalnya, kalau ada upacara, kami tidak mau melagukan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus. Kami diam saja, kaki kami geser-geserkan ke teman lain, untuk mengajak agar diam saja.

Tamat MULO saya ke Yogya masuk AMS-B. Karena wajah saya seperti orang Belanda, di rumah saya dipanggil Yan. Itu panggilan kecil orang Belanda. Ketika saya mau ke Jawa, ibu saya bertanya, "Yan mau ke Jawa. Yan tahu apa yang paling utama?" Saya tidak tahu. "Yang paling utama adalah mencari nasihat. Bukan memberi nasihat," kata ibu saya.


red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 11:57 am

2

Kebetulan, ada peminta-minta yang cacat datang. Kemudian saya ditanya emak saya itu. Saya memang memanggilnya emak. "Kalau tadi Yan sudah menanggapi Emak bilang yang penting mencari nasihat, bukan memberi nasihat. Nah, sekarang Emak mau tanya.

Nasihat apa Yan bisa dapat dari orang minta-minta itu?" Saya tidak bisa menjawab. Emak saya lalu menjawab, "Leven geduldig. Kesabaran hidup. Fitrah manusia bukan untuk mintaminta. Toh dia minta-minta. Satu segi baiknya, dia betah hidup. Dia sabar."

Waktu sekolah di Yogya, ucapan emak itu terus terpikir. Kalau teringat kembali, mencari nasihat berarti kita itu harus demokratis. Kalau tidak, tidak bisa. Kita harus merendah diri. Sama dengan cara intelijen. Harus ramah, baru bisa mencari nasihat. Kalau kita sombong, tidak bisa mencari nasihat. Satu segi dari nilai demokrasi itu adalah mampu mengendalikan diri menjadi mencari nasihat.

"Yan harus datangi, kenalkan diri, satu, pada orang yang tertua umurnya di tempat itu. Artinya, pengalamannya. Kedua orang yang alim ulama. Ketiga, guru. Keempat, orang yang dermawan yang kaya. Bukan orang kaya yang kikir. Minta nasihat pada orang-orang ini," kata ibu saya. Semua nasihat ini, dalam intelijen juga banyak dipakai, terutama dalam intelijen teritorial.

Kalau nasihat ayah saya lain lagi, karena seorang pamong praja. "Met de hoet in de hand, komt ye in de gang in de wereld," artinya. "Dengan topi di tangan, kau bisa datang ke seluruh dunia." Maksudnya, dengan hormat, sopan, tidak sombong, kau bisa kunjungi seluruh dunia.

Itulah semua ajaran ibu dan ayah saya. Sama dengan ajaran intelijen. Dan itu yang saya praktekkan. Karena itu, waktu punya jabatan dulu, saya tidak membatasi tamu-tamu. Semua bisa menemui saya. Karena dari tamu-tamu itu saya - mungkin tamu itu cuma minta duit atau minta apa - saya dapat informasi gratis. Paling tidak dari lingkungannya.

Maka itu, sampai sekarang, saya tidak mau membatasi orang yang mau bertemu saya. Saya tidak seperti pejabat sekarang. Susah sekali ditemui orang. Orangtua saya menasihatkan, "Kalau kau mencari nasihat, kau tidak akan bisa sombong. Kau harus mendengar bicara orang lain. Hargai pendapat orang lain." Kalau dari segi politik, itu adalah benih demokrasi.

Pertama kali di Yogya saya tinggal di rumah seorang famili guru HIS di Tapaktuan. Dia punya famili di Yogya. Dengan surat guru itu, saya tinggal beberapa hari di situ, untuk orientasi. Setelah itu, kami dapat rumah di Gowongan Lor, Yogyakarta, di tempat Ibu Sastro.

Ibu itu punya warung. Dia sangat baik. Sekitar 15 orang yang indekos di situ. Ada yang dan Bugis, ada yang dari Tapanuli, ada yang dari Medan dan lain-lain. Tapi saya tidak lama di situ. Bersama delapan teman dari AMS-B dan AMS-A, kami mengontrak rumah sendiri di Jetis.

Di AMS itu, Belanda memang teliti. Kita tidak dididik seperti robot. Tapi ilmu kita kita kembangkan. Kalau di MULO, masih dituntun dalam belajar, di AMS, kita baca sendiri. Seluruh cabang mata pelajaran ilmu pasti diajarkan di situ, ditambah sedikit dengan sejarah dan biologi serta bahasa yang tidak begitu mendalam.

Di AMS-B saya pelajar sedang saja. Masih orang Cina yang jadi nomor satu. Memang, di AMS-B Yogya itu, kebanyakan orang Cina. Tapi dalam pelajaran Aljabar, saya nomor satu. Di sana ada sistem, sewaktu-waktu kami disuruh ke depan kelas untuk mencoba mengajar.

Misalnya untuk pelajaran llmu Tata Negara dan Sejarah. Pelajar diajar agar punya inisiatif, tidak hanya sebagai alat mati. Memang berbeda dengan zaman sekarang. Guru-guru kami tua-tua semua dan sarjana semua. Rata-rata doktor dan insinyur. Jarang yang satu titel. Kebanyakan dua atau tiga titel. Usia mereka rata-rata di atas 40 tahun.

Di AMS-B itu, perasaan kebangsaan tetap ada, walaupun tidak ada perkumpulan tertentu. Kami sering diskusidiskusi antarteman, termasuk teman dari Parindra. Kami sering mencemoohkan Belanda. Di AMS itu kami punya semangat tidak mau kalah dengan Belanda.

Kita tak mau kalah angka dengan pelajar Belanda, sungguhpun dalam bahasa Belanda. Jadi, boleh dikatakan, belum terorganisasi secara nasional. Tapi pada umumnya perasaan nasional berkembang. Jadi, betul kata Bung Karno dalam Manipol itu, bahwa kemerdekaan itu adalah conscious men. Fitrah manusia.

Dalam pelajaran sejarah di AMS itu, walaupun gurunya Belanda, mereka tidak menjelek-jelekkan pergerakan nasional Indonesia. Disebutkan adanya Parindra, Taman Siswa, tapi mereka tak menjelekkan. Termasuk tidak menjelekkan Bung Karno. Saya di AMS hanya sampai kelas 2, karena Jepang masuk.

Ada teman saya di AMS-B, lain kelas, Pawoko namanya, yang tinggal di Gowongan Kidul, bilang, "Kif, ini Jepang ada buka latihan untuk pemuda. Bagaimana Kif, daripada kita ini anak muda tidak kerja dan sekolah tidak buka, kita ikut saja." Saya lupa waktunya.

Ya, sekitar tahun 1942. Jepang baru 1-2 bulan di situ. Umur saya sekitar 18-19 tahun. Saya lalu ikut. Namanya Seinen Kurenso. Tempat Latihan Pemuda. Pesertanya banyak dari AMS dan MULO. Di situ kami diberi pelajaran pokok-pokok kemiliteran.

Pemberontakan Peta


Setelah kira-kira dua bulan dilatih, ada penawaran khusus untuk mendapat pendidikan perwira militer. Ada beberapa ratus dites. Hanya beberapa orang yang diterima, termasuk saya. Dari Yokya hanya sekitar 4-5 orang, termasuk Kemal Id is. Saya angkatan pertama bersama Kemal dan Daan Mogot.

Kalau boleh dibilang, itu sekolah akademi intelijen sebetulnya. Cuma dalam istilahnya disebut Seinen Dojo - Tempat Gemblengan Pemuda. Karena itu, kami di bawah Markas Besar Intelijen Jepang. Itulah pertama kali saya belajar intelijen, sekitar awal 1943. Saya masih berumur 19 tahun.

Kami terdiri dari dua kamar. Nihan (kamar pertama) dan Ichihan (kamar kedua). Saya bersama Kemal Idns, Yonosewoyo di Nihan. Daan Mogot masuk di Ichihan. Nihan adalah kamar yang terbaik. Baik ilmu, latihan militer, maupun sumo, Nihan tetap menang dibanding Ichihan.

Selalu dapat penghargaan maupun spanduk. Dalam latihan itu, badan saya paling kecil. Tapi dalam latihan ilmu militer saya nomor satu. Saya nomor satu di Nihan, dari seluruhnya. Dalam ilmu saya jadi Mohan, jadi contoh. Saya siswa yang tidak pernah dapat tempelengan Jepang. Karena saya memang tidak rernah dilihat bersalah.

Sewaktu di Seinen Dojo Tangerang, semua instruktur itu rapi dan bersih. Dan sungguh-sungguh mengajar. Tapi sampai kita di Renseitai Bogor, di situ tentara Jepang tidak baik lagi. Karena banyak pelatih berasal dari pasukan. Mereka kotor. Bajunya lusuh. Pokoknya, gambaran waktu dulu Jepang itu terbaik, kini tidak lagi. Banyak Jepang yang rusak. Mereka mengajar sambil lalu.

Di situlah awalnya Soeprijadi tidak senang dengan Jepang. Di situ awalnya. Saya dengan Soeprijadi satu nihan di Seinen Dojo. Dia dari MOSVIA. Sewaktu di Seinen Dojo kita masih kagum melihat Jepang itu masih tinggi, tapi di Renseirai Bogor, semuanya berbalik.

Jadi, hilang semangat untuk menghargai Jepang. Sejak itu Soeprijadi berubah melihat Jepang. Sejak itu pula, teman-teman, termasuk Soeprijadi, lari malam' hari keluar pagar, mencari makanan. Saya tidak ikut. mencari makanan. Saya tidak ikut.

Dari situ awalnya, kita melihat, sewaktu di gyugun di daerah, polisi-polisi bersikap kasar dengan rakyat, dalam rangka mengumpulkan beras. Karena dipaksa oleh Jepang Sipil Kalau Jepang Militer masih baik. Jepang Sipil ini. dengan menggunakan polisi, memeras rakyat. Di situ, kita lihat, banyak Peta yang membela rakyat. Seperti kejadian di Banten, kami menghadapi polisi, membela rakyat. Di Indramayu, di Banyuwangi.

Sampailah Soeprijadi memberontak di Blitar, 14 Februari 1945. Karena dia melihat Jepang sipil memaksa rakyat menank beras, karena rakyat sudah susah. Rakyat sudah berpakaian kulit kayu. Rakyat ditekan, melalui Romusha, dan lain-lain. Di situ memuncak antipati Soeprijadi. Timbullah semangat untuk mengatur pemberontakan.

Saya melihat perubahan sikap Soeprijadi ini sejak di Bogor itu. Dia melihat sikap Jepang sudah berubah. Soeprijadi bilang sama saya, "Kalau begini, ya, Jepang sama saja. Tidak bisa kita harapkan." Hubungan kami dekat sekali sewaktu di Bogor. Soeprijadi sebenarnya pendiam, seperti waktu di Semen Dojo Tangerang. Tapi waktu di Bogor, dia banyak bicara, "Ah, Jepang itu tidak bisa kita percaya," kata Soeprijadi.

Saya sendin dibawa oleh Rokugawa (bekas taicho komandan - komidi seinen Dojo) pertengahan tahun 1944 ke Malaysia. Sewaktu pemberontakan Soeprijadi - Peristiwa Soeprijadi di Blitar (Februari 1945) - saya berada di Malaysia. Saya dipanggil Rokugawa, karena saya satu hang (kamar) dengan Soeprijadi. Tapi karena Rokugawa sayang pada saya, saya tidak sampai ditahan.

Tapi Kemal sempat dipanggil Kempeitai, termasuk Daan Mogot, teman-teman Soeprijadi. Kempeitai takut kami ini terbawa-bawa oleh Soeprijadi. Kemal di suruh tegak di kantor Kempeitai Jepang di Menhankam sekarang ini.

Bersama-sama Rokugawa saya ke Singapura naik pesawat pemburu. Di Singapura itu, saya berjumpa dengan seorang perwira Jepang, Mayor Ogi. Wajahnya seperti orang Barat. Dia bisa bahasa Prancis.

Dia dipersiapkan untuk aktivitas intelijen di Vietnam. Saya tidur satu kamar dengannya. Melalui dia, Jepang berhasil menguasai Vietnam tanpa melalui perang. Sebulan kemudian, dia kembali. Dan berhasil. Tentara Prancis menyerah melalui psywar.


Last edited by red army on Sun Apr 08, 2012 12:16 pm; edited 1 time in total

red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by red army on Sun Apr 08, 2012 12:00 pm

3

Dari Mayor Ogi itu saya mendapat pelajaran, bagaimana caranya di negara asing dapat mempengaruhi komandan musuh sedemikian rupa, sampai bisa menyerah, tanpa melalui pertempuran. Saya sebagai pembantu Rokugawa. Saya satu-satunya orang Indonesia di situ. Semua Jepang.

Kami berdua sama-sama melapor pada komandan tentara Jepang untuk wilayah Asia Tenggara di Singapura itu. Di situlah saya pertama kali diperkenalkan dengan Fujiwara Kikan (Badan rahasia Jepang untuk Asia Tenggara). Semuanya serba rahasia.

Mayor Ogi bercerita pada saya, bagaimana dia masuk ke Vietnam sampai komandan tentara Prancis di Vietnam itu menyerah. Ogi, tentu saja melalui agen-agennya bisa masuk sampai ketemu dengan Panglima Prancis itu. Tentu saja mereka kaget. Di situ Ogi cerita supaya tentara Prancis menyerah saja, daripada celaka. Akhirnya Vietnam menyerah pada Jepang.

Dari Singapura, saya naik kereta api ke Kuala Lumpur. Di situ banyak sekali tentara Jepang yang mau dikirim ke Birma. Gerakan Bawah Tanah di Burma juga kuat melawan Jepang. Di Kuala Lumpur, Malaysia, gerakan bawah tanah Cina juga kuat.

Sambil berjalan di Kuala Lumpur itulah, Rokugawa mengajar saya dalam intelijen. Misalnya, bagaimana caranya mengetahui jumlah penduduk dalam satu kota. Lalu bagaimana mengetahui rakyat itu anti atau pro dengan Jepang. Setiap sore saya kembali dan melapor pada Rokugawa. Olehnya, saya dilatih baik teori dan praktek intelijen.

Baik di Singapura, Kuala Lumpur. dan Malaka (sekarang Penang), saya disuruh meneliti keadaan masyarakatnya, jumlahnya, intelektual masyarakat. Itu ada kunci-kuncinya. Ada rumus-rumusnya. Saya diajari gerak intelijen di lapangan dari segi informasi. Misalnya, sebagai orang asing, kita mengetahui kira-kira jumlah penduduk tanpa melalui kantor statistik. Saya bisa tahu.

Di Kuala Lumpur itu, saya mendapat tambahan ilmu tuntunan intelijen di masyarakat dari Rokugawa, maupun pengalaman orientasi intehJen kenegaraan di Vietnam yang diberikan oleh Mayor Ogi di Singapura. Saya masuk ke kampung-kampung. Ketemu guru, tanya.

Jadi, misalnya, untuk mengetahui jumlah penduduk suatu kota, kita lihat saja berapa sekolahnya. Saya tanya gurunya, berapa muridnya, umurnya berapa. Dari sini bisa dipersentasi, kira-kira berapa penduduk kota tersebut. Saya juga naik becak, tanya bagaimana pandangan masyarakat terhadap Jepang atau Cina. Susahkah kehidupan mereka. Pelajaran itu dalam bahasa Jepang disebut Ippan Joho - pemberitaan intelijen umum.

Awal Pembentukan Intelijen

Setelah Jepang menyerah, saya ditahan pergi oleh A.K.Gani supaya bertahan di Palembang saja. Saya bilang pada A.K. Gani, pusat pergerakan itu di Jawa, dan temanteman saya banyak di sana. Dia tidak setuju. Tapi saya tidak ambil perhatian. Saya tetap ke Jawa.

Saya lalu ke Jakarta, bertemu dengan Kemal dan Daan Mogot. Juga jumpa dengan pihak-pihak Jepang yang saya kenal, Yanagawa, Yamazaki. Di situlah saya mempersiapkan untuk membentuk suatu Intelijen Awal. Saya anggap, setiap gerakan apa pun, intelijen itu penting, harus ada.

Istilahnya waktu itu, mudah sekali, kita sebut Badan Istimewa. Di mana mesti tempelannya? Waktu itu dibentuk BKR Pusat yang dipimpin oleh Kafrawi, bekas daidancho dan pembantunya, Arifin, bekas shodancho. Saya bertemu dengan keduanya, kebetulan saya kenal. Waktu itu, BKR (Badan Keselamatan Rakyat) masih di bawah KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang diketuai Kasman Singodimedja dengan wakilnya Latuharhary.

Saya merekrut kebanyakan dari gyugun. Markasnya waktu itu masih di gedung juang Jalan Pejambon. Di samping itu, juga ada di Lapangan Banteng, tempat bekas Mahkamah Agung, bersama-sama BKR Pusat. Pembentukan pertama kali, termasuk almarhum Sunarjo, Djatikusumo sempat ikut sebentar, Juwahir dari Semarang, ya ada kira-kira 40 orang dari bekas perwira gyugun dari seluruh Jawa.

Saya tidak ingat tanggal pembentukannya. Yang jelas, kira-kira sesudah 17 Agustus 1945, sebelum 5 Oktober 1945. Lalu saya didik sekitar seminggu untuk aplikasi intelijen, terutama untuk informasi, sabotase, dan psywar. Bukan aplikasi teori. Mereka saya rekrutmelalui alamat yang saya tahu, lalu dipanggil melalui BKR. Tempat latihannya di Pasar Ikan, asrama pelayaran yang saya pinjam melalui almarhum Untoro Kusmarjo dan Suryadi.

Dari situlah kemudian dibentuk organisasi yang bercabang-cabang. Cabang di seluruh residensi, di seluruh Jawa. Pemimpinnya adalah yang ikut latihan itu. Mereka harus berhubungan baik dengan BKR setempat serta organisasi perjuangan setempat. Arahnya waktu itu, selain untuk mengumpulkan informasi dari pihak musuh dan dari luar, juga mengadakan psywar.

Sementara saya terus membentuk sel-sel, saya juga membentuk pendidikan intelijen, tak lama kemudian Amir Sjarifuddin pindah ke Yogya dan Moestopo tidak lagi jadi menteri pertahanan, dia kembali ke Yogya.

Karena PMC itu ruangnya dianggap terlalu sempit, lalu diprakarsai oleh Moestopo, mula-mula, saya menghadap Presiden Sukarno, bertemu dengan Amir Sjarifuddin, Pak Dirman yang sudah terpilih sebagai panglima besar, lalu dibentuklah badan Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani).

Bagian dari Brani, dibentuk FP (Field Preperation). Saya ketuanya. Sebelumnya, PMC dibubarkan. Itu, kalau tak salah, sekitar April 1946. Yang bertugas di lapangan adalah FP, yang dibentuk di daerah-daerah.

Sewaktu masih PMC, tugas utama selain menghadapi musuh juga mengembangkan arti Republik Indonesia. Lalu kita kirim ekspedisi ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, pada akhir tahun 1945.

Kahar Muzakkar sendiri dulu datang pada saya untuk mengembangkan pasukan di daerah, di seberang. Lalu saya tanya, orangnya dari mana. Dia bilang, diambil dari Nusakambangan. Kemudian, penjahat berat itu, termasuk yang dari Sulawesi Selatan, orang Bugis maupun dari Timor, direkrut.

Ada ratusan orang yang dia bawa. Lalu mereka dibawa ke Pingit, di barat Yogya, untuk dilatih beberapa bulan. Sementara itu, oleh Bung Amir dibentuk Biro Perjuangan. Kahar Muzakar beralih ke Biro Perjuangan. Sungguhpun saya tidak begitu setuju, saya anggap Biro Perjuangan seperti di Surabaya itu tidak akan terkendali dengan baik. Tapi karena Kahar Muzakkar menghendaki, ya saya iyakan.

Memang, kami juga menyelundupkan senjata dari Singapura, tapi sedikit. Itu dilakukan oleh organisasi kami di Sumatera yang ada di Kuala Enoh atau Kuala Tungkal. Penyelundupan itu untuk membantu operasi.di Kalimantan yang di bawah pimpinan Mulyono. Termasuk di dalamnya Cilik Riwut.

Jadi, boleh dikatakan, organ intelijenlah yang pertama mengembangkan secara riil beroperasi ke seluruh Indonesia. Ada juga yang tertangkap. Saya juga mengirimkan dua kapal ke Maluku dari Tegal. Satu kapal tertangkap, satu lolos. Pimpinannya Ibrahim Saleh, yang panggilannya Bram, yang kemudian ikut dengan saya. Keponakan Latuharhary juga ikut.

Sedangkan Bambang Sunarjo (kini masih bekerja di majalah TEMPO - Red.) juga ikut operasi intelijen semacam itu. Bambang Sunarjo dikirim ke Bali, bersama Yasin. Kelompok mereka tidak tertangkap. Kalau yang ke Maluku itu sebagian memang tertangkap. Sedangkan yang ke Sulawesi, dipimpin Warsito, tidak tertangkap.

Kelompok Warsito, di dalamnya termasuk Wolter Mongisidi, ikut orang saya. Maksud saya mengirimkan orang-orang ke seluruh Indonesia itu memang untuk membangkitkan pemberontakan terhadap kolonial. Dan itu tidak diharapkan untuk menang.

Intelijen itu dasarnya, kesatu, dia harus obyektif, kedua. harus pandai menilai suatu benta, untuk mencari obyektivitas, ketiga, harus memberitakan apa adanya. Tidak boleh disimpan. Tapi jangan lupa dengan nilai.

Sesudah itu, kita harus security minded, dan intelijen itu harus tanpa pamrih. Total abdi mutlak. TNI masih bisa dapat bintang, naik pangkat, kalau mati masih bisa dimakamkan di makam pahlawan. Kalau intelijen, tidak boleh begitu. Dia harus betul-betul mengabdi, semata-mata untuk negara dan orang banyak.

Waktu di FP atau Brani, saya kebanyakan menggunakan pelajar. Selain itu, juga bekas dari Seinen Dojo atau Yugekki. Yugekki ini suatu kumpulan gerilya di Salatiga. Jadi, semacam pasukan gerilya, tapi lebih bersifat politis. Termasuk di dalamnya Bambang Supeno di Malang, Kusno Wibowo. Jadi, seperti Dirgo, Sakri, Suprapto bekas gubernur, Tjokropranolo, itu bekas Yugekki. Mereka banyak ikut dengan saya.


red army
Colonel
Colonel

Indonesia
Amaran Ketiga
Posts : 2572
Reputation : 154
Join date : 16/05/2011
Age : 71
Location : suatu sudut Indonesia

Back to top Go down

Re: Untold Story Of Indonesia

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Page 1 of 5 1, 2, 3, 4, 5  Next

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum